Menjadi seorang kapitalis tidak selamanya buruk. Justru sebaliknya, menurut penulis, seorang muslim harus menjadi kapitalis .

Setelah mengkapitalisasi pengetahuan agama, maka kapitalisasi di bidang keuangan (financial) juga harus diperjuangkan. Tentu maksudnya bukan menjadi bankir atau ekonom. Pengertian kapitalis Islami adalah mereka yang secara finansial di atas rata-rata dan memiliki kekayaan berlimpah dan digunakan untuk memperjuangkan agama serta membantu orang-orang yang membutuhkan. Inilah makna sederhana kapitalis islami yang harus dikejar oleh umat muslim.

Untuk mencapai ke tahap itu, maka diperlukan berbagai langkah-langkah perubahan yang idealnya dapat dilakukan oleh seorang muslim.

Pertama, meyakini dengan kesungguhan bahwa Islam adalah agama kaum pedagang. Nabi Muhammad sendiri adalah seorang pedagang. Sebagai seorang pedagang, Nabi membantu orang yang kesulitan. Dari bantuan itulah Nabi makin dikenal kedermawanannya.

Selain itu, melalui pekerjaan berdagang, Nabi mendapatkan gelar orang yang dipercaya, jujur, amanah, dan sederet keagungan lainnya. Konsep berdagang Nabi inilah yang kemudian diadopsi dunia modern dengan nama integritas.

Kedua, membangun paradigma berpikir ala kaum kapitalis. Cara berpikir kaum kapitalis adalah efisiensi dan efektif. Semua hal harus bermanfaat. Bahkan, untuk soal waktu saja mereka nilai sebagai uang. Semakin banyak waktu yang dibuang sia-sia, maka semakin banyak pula uang yang ditelan angin.

Tidak ada satu pun unsur yang tidak “dihitung” kaum kapitalis, termasuk tindakan yang tidak berhubungan dengan tujuan yang sifatnya keuntungan. Kaum kapitalis adalah orang yang tidak mau rugi. Karena itu, hal sekecil apa pun pasti mereka hitung dan catat.

Dalam konteks kapitalis yang ekstrim memang demikian. Namun, Islam sebagai agama yang mengajarkan cinta kasih mengutamakan rasa berbagi dan memiliki.

Efisien bukan berarti pelit mengeluarkan sedekah atau berbagi rezeki. Efektif bukan berarti tidak melakukan hal-hal yang diwajibkan oleh Islam seperti bersilaturahmi dan menghadiri undangan pernikahan. Bukan demikian konsep kapitalis islami.

Ketiga, memiliki visi dan misi yang jelas dan terukur. Untuk menjadi seorang kapitalis islami, maka visi-misi kehidupan di masa nanti harus jelas dan terukur. Tidak mengawang-ngawang, apalagi filosofis-teoritis. Berpikir secara filosofis bagus, namun merealisasikan gagasan itu jauh lebih bagus lagi.

Singkatnya, untuk menjadi kapitalis, seseorang harus mampu menjalankan cita-cita yang ia gagas secara detail dan teknis. Mengetahui segala seluk-beluk untuk mencapai tujuannya. Semua yang ia lakukan terkonsep dan berdasar. Tidak mengikuti arus, namun mampu berselancar di atas arus tersebut.

Karena sifat utama seorang kapitalis adalah pragmatis. Yang ia kejar keuntungan semata. Meskipun harus mengeluarkan sesuatu asalkan keuntungannya setimpal, maka cara apa pun dilakukan.

Apakah sikap pragmatisme ini berbenturan dengan prinsip islami? Jika iya, lalu bagaimana menyiasatinya?

Seni berdagang adalah kuncinya. Menjadi seorang kapitalis islami berarti mampu menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang sempit maupun lapang. Ia tahu kapan harus mengambil keuntungan berlebih dan kapan harus bersabar untuk mendapat laba dari barang yang ia dagangkan.

Seni berdagang salah satunya kesabaran. Semakin sabar seorang pedagang, maka semakin banyak keuntungan yang akan ia peroleh di masa nanti.

Dalam konteks ilmu manajemen, kesabaran ini disebut investasi. Tentu saja, investasi di sini jangan diartikan secara harfiah. Substansi investasi dalam konteks ini lebih kepada bagaimana makna investasi sebagai sebuah kesabaran.

Investasi tidak akan balik cepat. Butuh waktu untuk mendapatkan keuntungan. Hal inilah yang dilakukan oleh pialang saham. Menunggu saat yang tepat untuk menjual saham mereka demi untung yang berlipat.

Keempat, menghadirkan surga ke dunia. Surga adalah milik orang-orang yang menang di dunia. Dengan berbuat baik dan menjauhi larangan Allah selama hidup, ganjaran bagi umat yang satu ini ialah surga. Namun, menikmati surga bukan berarti harus mati dulu. Surga juga ada di dunia. Maka dari itu, ada kata-kata “Surga Dunia”.

Untuk mencapai surga dunia tentu tidak mudah. Islam mengajarkan bahwa surga itu ada di alam akhirat. Untuk mencapai surga tersebut, manusia harus banyak beramal dan berbuat baik di dunia. Setelah ia mati, lalu segala amalan di dunia akan dihitung atau ditimbang.

Barulah setelah amalan itu ditimbang dan ketika lebih berat berbuat baiknya dibanding jahatnya, maka surga menjadi balasan. Inilah doktrin yang selama ini tertanam di benak sebagian umat Islam, khususnya Islam Indonesia terkait surga.

Doktrin itu tentu saja sangat benar. Namun, dalam konteks ini, surga dunia yang dimaksud ialah pencapaian finansial di atas rata-rata yang dimiliki umat muslim. Karena itu, menciptakan surga dunia dapat dilakukan apabila setiap umat Islam mencapai kemampuan finansial di atas rata-rata. Tidak ada lagi kelompok miskin yang berada di sekitaran rumah umat Islam.

Bahkan, untuk memberikan sedekah kepada golongan fakir miskin saja sangat susah dan sulit. Masa ini pernah terjadi di masa kekhalifaan beberapa abad lalu. Karena semua umat Islam mencapai puncak keberimanannya di dunia. Yang kaya membantu yang miskin hingga terangkat derajatnya, dan yang miskin ikut membantu golongan mereka sampai benar-benar terangkat. Begitu seterusnya.

Karena itu, umat muslim yang dikaruniai hidup mewah dan berlimpah rezeki selama hidup di dunia pasti sudah menikmati “pintunya surga”. Maka, ke sanalah kapitalis islami menuju. Keseimbangan yang hakiki antara hidup di dunia dan akhirat nanti. Singkatnya, kaya di dunia dan kaya di akhirat. Mari menjadi kapitalis.