Tidak memiliki pasangan atau sering kali kita sebut dengan jomblo, sebenarnya merupakan suatu hal yang biasa saja. Namun, di era kini hal tersebut seperti telah menjadi sesuatu yang tabu, memalukan, dan bahkan kadang-kadang di anggap buruk oleh publik. Bukan tanpa sebab jomblo telah dicap demikian.

Pada dasarnya, menemukan pasangan saat ini bukanlah sesuatu yang sulit. Anda dapat mencari pasangan dengan seribu cara. Berbagai perantara kini hadir untuk membantu Anda dalam mencari orang yang tepat untuk mengisi kesunyianmu. Media sosial, aplikasi pencari jodoh, dan beberapa platform media dapat Anda manfaatkan dalam menemukan pasangan.

Seperti yang saya lihat dan Anda lihat, bahwa kita melihat bahwa dalam menemukan pasangan yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama-sama, bukanlah perkara yang mudah. Lebih mudah sekedar menjadi jomblo, Anda hanya harus menjalani hidup tanpa berhubungan dengan seseorang yang Anda anggap sebagai pasangan, seorang yang merengek menginginkan pelukan dari Anda.

Akan tetapi, sebenarnya semua orang sanggup untuk menjadi seorang jomblo yang tangguh, yang dapat bertahan seorang diri dalam menghadapi kehidupan yang sukar yang penuh dengan tanda tanya. Dan ketangguhan menjadi jomblo hanya diperuntukkan untuk orang-orang tangguh pula.

Namun, Anda akan merasakan kurangnya akan sesuatu, yakni suatu yang dapat menggenggam tangan Anda ketika dalam masa-masa sulit, yang bagi Anda tawanya mengundang kebahagiaan, dan senyumannya yang menandakan bahwa dunia Anda masih baik-baik saja.

Bahkan hal tersebut telah tercermin dalam kisah Adam sebagai manusia yang pertama ketika berada dalam surga yang berujung terciptanya Hawa sebagai pasangannya. Kenikmatan surga tidak mampu membendung kesendiriannya. Apalagi kehidupan yang fana ini, yang berisi kenikmatan dan kesulitan dalam satu tempurung.  

Maka dari itu, saya ingatkan kepada Anda bahwa menjadi jomblo itu merupakan sebuah pilihan. Anda berhak untuk memilih menjalin hubungan kepada seseorang yang Anda sukai maupun memilih untuk tetap menjadi jomblo seperti sediakala. Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud dengan menyarankan Anda untuk menjadi jomblo, bukan seperti maksud saya.

Dalam tulisan ini, saya membawa pengalaman-pengalaman saya dalam menjadi jomblo selama bertahun-tahun, dengan berbagai tantangan yang berupa kenikmatan sekaligus keresahan yang saya alami. Barangkali Anda alami juga ketika menjadi jomblo.

Dengan menjadi seorang jomblo, Anda dapat menghabiskan waktu-waktu Anda dengan kegiatan-kegiatan yang produktif. Anda dapat fokus untuk mencapai keinginan yang Anda miliki. Jika sebelumnya Anda merupakan sosok yang rajin. Tentu berbeda jika Anda merupakan pribadi yang malas, Anda sama sekali tidak akan menghasilkan apa-apa.

Menunjukkan jati diri Anda sebagai jomblo secara terus terang kepada khalayak umum, merupakan sebuah keberanian. Bagaimanapun, realita menyatakan bahwa seorang jomblo telah dicap sebagai personal yang tidak menarik, tidak laku, dan bahkan sering kali di anggap mempunyai penyimpangan hasrat seksual.

Terdapat banyak latar belakang yang menyebabkan seseorang lebih memilih menjadi jomblo daripada menjalin hubungan romansa. Barangkali yang menjadi faktor utama adalah traumatis di masa lalu dalam menjalin hubungan dengan pasangan sebelumnya.

Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang yang kita pilih dalam menjalin sebuah romansa telah memberi pengaruh yang signifikan terhadap kisah romansa selanjutnya. Kemudian trauma-trauma itu menjelma menjadi hantu-hantu di siang bolong.

Namun, yang pasti semua manusia menginginkan untuk selalu hidup bersama-sama dengan seseorang yang dicintainya dan tentu saja mencintainya. Lebih sederhana lagi, bahwa manusia tidak dapat untuk hidup sendiri, apalagi di masa tuanya. Memang benar-benar sepi ialah racun yang secara perlahan-lahan akan menikam kita dengan kesendirian.

Ketika kita mencintai seseorang lalu berharap bahwa dia segera menjadi milik kita, memang merupakan suatu hal yang wajar. Namun, ketika realita itu berubah terbalik dengan apa yang kita harapkan, bahwa seseorang yang kita cintai itu telah pergi dengan seseorang lainnya, dan perasaan kita telah menjadi sebatang kara, maka tidak ada pilihan lain kecuali menjadi jomblo dalam kurun waktu yang tidak diketahui batasnya.

Lalu ketika kita telah berada dalam zona nyaman menjomblo, sangat sulit untuk keluar melewati garis pembatasnya, walaupun sekedar menginginkan perkenalan ramah terhadap lawan jenis, yang bagi kita cukup menarik untuk menjadi teman.

Diawali dengan berbincang-bincang, saling memerhatikan, dan kemudian diakhiri dengan pelukan. Alur romansa seperti itu cukup sulit untuk dilakukan kembali oleh jomblo yang telah terperangkap dalam zona nyaman.

Barangkali zona nyaman kejombloan telah menenangkan para jomblo dengan keadaan yang stabil, tidak perlu lagi merasa patah hati seperti sebelumnya, maupun mengharapkan seseorang yang belum tentu benar memiliki perasaan dengan kadar yang kita rasakan.

Dengan demikian, tidak perlu risau dengan status jomblo yang saya dan Anda miliki, kita sama-sama masih mempunyai kesempatan dalam menemukan seseorang yang dapat menggantikan kejombloan kita dengan tepat. Alangkah lebih baik jika memanfaatkan peluang kesendirian kita dengan membangun jati diri, berkarya, dan mewujudkan karakter yang berdikari tanpa perlu patah hati.