Tulisan ini lahir sebagai bentuk simpati pada hari hutan dan air sedunia yang masih-masing diperingati pada 21 dan 22 Maret. Saya rasa, di dua hari besar ini, satu dari sekian banyak cara untuk memperingati adalah dengan merenungkan sejenak tentang makna lingkungan hidup dan eksistensi manusia di dalamnya.

Teori dan gerakan lingkungan semakin meningkat jumlahnya. Manusia semakin menyadari akan keterlepasan relasinya dengan alam sejak modernisasi yang lahir dari Eropa –tepatnya di era Renaissance dan Aufklarung— yang diikui dengan revolusi di bidang sains dan teknologi telah mengubah secara radikal cara pandang terhadap alam.

Rene Descartes (1596-1650), filsuf di masa modern awal dianggap paling besar memberi sumbangsing perihal pemutusan manusia dengan alam. Lewat pemikiran dualismenya –memisahkan antara tubuh dan jiwa—menganggap manusia hanya bisa mencapai kepastian atas dunia melalui akal budi (cogitans) saja.

“...hanya manusia yang dapat meragukan dirinya. Melalui akalnya, ia mampu menyadari bahwa dirinya bereksistensi. Kemampuan cogitans menjadi keistimewaan bagi manusia. Atas dasar alasan itu seluruh fondasi antroposentrik dibentuk” (Saras, 2015:21).

Atas dasar fondasional berpikir semacam itu, alam dilihat seperti benda tanpa nilai, yang kering dan tidak bermakna apa-apa kecuali sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Di bidang teknis, teknologi dan industri juga berkembang cukup pesat. Peradaban manusia semakin membaik: tidak ada lagi penyakit, misalnya, yang tidak mampu diketahui sebab-musababnya.

Meminjam istilah dari Yuval Noah Harari, manusia kini telah beranjak dari Homo Sapiens atau manusia modern, ke Homo Deus. Kata “Deus” diambil dari bahasa latin yang artinya maha kuasa.

Dalam konteks ini, manusia digambarkan sebagai makhluk yang seperti bermain-main dengan kekuasaan Tuhan, memanipulasi organisme, mengeksploitasi organisme, membuat kecerdasan baru, bahkan menggambarkan manusia di masa mendatang seperti Tuhan yang memiliki kekuasaan ilahiah. 

Namun, satu masalah yang masih menjadi misteri sampai sekarang adalah krisis lingkungan hidup. Sejak para saintis menemukan fakta bahwa sedang terjadi perubahan iklim dan menipisnya atmosfer bumi, lingkungan hidup menjadi “PR” baru bagi semua kalangan.

Baik filosof, saintis, praktisi, aktivis, dan sebagian besar masyarakat mulai mempertimbangkan keputusan-keputusan etis yang akan menambah efek buruk pada lingkungan. Meski demikian, gerakan kolektif untuk melahirkan perubahan secara radikal masih jauh dari kata cukup.

Nampaknya, kesadaran kita masih terjerembab pada kepentingan manusia saja, antroposentrisme. Antroposentrisme melekat erat dalam tubuh abad modern. Ekonomi berkelanjutan (sustainable) yang merupakan langkah yang diterapkan hampir di semua bidang kehidupan, terkhusus kebijakan ekonomi, masih menjadi alasan utama sumbangsing besar manusia atas rusaknya alam.

Seorang ahli ekonomi ekologis, Herman Daly (1938), mengemukakan “Teorima Ketidakmungkinan”, ialah pertumbuhan ekonomi tidak mungkin bisa tumbuh secara tak terbatas dalam lingkungan yang terbatas. Apalagi di tengah kondisi masyarakat konsumerisme seperti sekarang, sepertinya wacana ekologis masih belum bisa terlaksana secara maksimal.

Melanjutkan Daly, Fred Magdof dan John Belammy Foster memberi kritik yang lebih radikal atas industrialisasi di bawah bendera kapitalisme di masa sekarang. Bagi mereka, pertumbuhan lebih lanjut pasar modal, konsumsi ramah lingkungan, teknologi baru yang ditawarkan oleh kapitalisme tidak cukup untuk menyelesaikan dilema ekologi global.

“Kapitalisme menyebabkan hilangnya hubungan dengan alam, sesama manusia, dan masyarakat. Budaya konsumsi dan mementingkan diri sendiri yang ditumbuhkan oleh sistem ini membuat orang-orang kehilangan hubungan dengan alam—yang dipandang terutama sebagai sumber material untuk perluasan eksploitasi atas manusia dan masyarakat lainnya”. (Magdof dan Foster, 2018: 87).

Alam akhirnya dianggap sebagai komoditas saja, hanya sarana agar kebutuhan manusia menjadi terpuaskan. Alam yang seperti itu adalah alam yang dilihat sebagai materi kering, kosong, dan statis. Cara pandang ini yang disebut dengan antroposentrisme, cara pandang yang gagal melihat realitas ekosistem sebagai satu kesatuan organis, sistemis, dan ekologis.

Salah satu pendekatan yang cukup populer dalam hal wacana lingkungan adalah “Deep Ecology” dari Arne Naess. Baginya, alam adalah tempat tinggal yang memungkinkan kehidupan dapat berkembang di dalamnya.

Pandangan ini ingin memperdalam dan mengekstensi nilai etis ke dalam dunia alam. Naess ingin melepas segenap kepentingan manusia dalam relasinya bersama alam. Menurut Naess, relasi antara manusia dan alam adalah setara.

“Hutan dan air”, misalnya, adalah rumah bagi entitas biotik dan abiotik. Manusia hanya satu dari serangkaian kompleksitas yang turut menjalin keterhubungan dan keseimbangan di dalamnya. Dengan cara pandang demikian, para pengikut “deep ecologis” percaya bahwa manusia akan lebih menghormati alam dan organisme lain sebagai sebuah sistem kehidupan. 

Tidak jarang, cara kita melihat sesuatu akan membentuk tindakan dan kebiasaan kita terhadap sesuatu itu. Termasuk dengan cara kita melihat alam. Melihat alam sebagai sarana atau komoditas berkecendrungan membuat kita tidak adil, baik dengan sesama manusia kemudian kepada alam itu sendiri.

Bagi penulis, perayaan hari hutan dan air adalah tentang merefleksikan ulang makna eksistensi dan relasi kita bersama alam. Tanpa adanya kesadaran dan tindakan secara kolektif atas lingkungan hidup, kondisi krisis lingkungan hidup hanya akan semakin memburuk.