Dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid I”, Bung Karno menulis “Menjadi Guru Di Masa Kebangunan”. Dalam tulisanya, beliau menekankan bahwa sebenarnya tiap-tiap orang harus menjadi pemimpin, menjadi guru. Tulisan Sukarno ini mengenai peran guru di tengah merebaknya gagasan fasisme Nazi, serta erat dengan situasi perang dunia II.

Sukarno melihat bahaya fasisme bagi pergaulan hidup manusia. Bagi Sukarno, tiap-tiap guru sebagai “Rasul Kebangunan”. Yang dimaksud ialah guru yang jiwanya penuh dengan kebangunan dan dapat menurunkan ke dalam jiwa anak. Guru yang tertanam dalam dadanya roh kerakyatan, roh kemerdekaan, dan roh kesatriaan.

Disebutkan oleh Sukarno, di zaman itu merupakan zaman kebangunan, bagi dunia umum satu zaman kegentingan. Penekanan ketiga roh diatas tidak semata-mata diajarkan kepada anak-anak, melainkan dengan pembentukan rohnya si guru oleh si guru sendiri. Itupun tidak boleh dogmatis, melainkan ditangkap dengan alat kebebasan berpikir.

Tentunya, kebebasan berpikir dilakukan dengan cara yang benar. Ketiga roh tersebut bisa hidup sejati, serta dapat diterapkan kebebasan berpikirnya dengan cara yang sehat. Sederhananya, sebelum menerapkan dalam proses pengajaran, sejatiya guru memiliki karakter kerakyatan, kemerdekaan, dan kesatriaan.

Normalitas Baru, Sebuah Zaman Baru;

Zaman sekarang ialah zaman kebaruan. Kita sedang menjalani normalitas baru akibat pandemi global dan diperhadapkan oleh fusi teknologi yang memudarkan batas-batas antara lingkup fisis, digital, dan biologis. Hal ini lebih akrab kita mengenalnya dengan sebutan revolusi industri 4.0.

Tak dapat di pungkiri, covid-19 atau yang lebih sering disebut virus corona telah merubah tatanan kehidupan. Virus ini telah menelan ratusan ribu jiwa di seluruh dunia. Guna mencegah penularan wabah virus corona yang meluas, masyarakat di imbau untuk tetap di rumah saja.

Hampir semua negara mengimbau warganya untuk tidak beraktivitas di luar rumah, kecuali hal yang sangat mendesak. Bahkan, untuk sekolah, bekerja, dan beribadah dilakukan serba dari rumah. Aktivitas ini ternyata berdampak luas di banyak sektor. Seperti, terbatasnya kegiatan politik, ekonomi menurun, pendidikan tidak stabil, dan masih banyak lagi.

Melihat dampaknya, yang bila dibiarkan dapat menimbulkan keadaan menjadi chaos. Sejumlah negara mulai melonggarkan kebijakannya terkait mobilitas warga, termasuk Indonesia. Di samping itu, apa yang di timbulkan oleh virus covid-19 masih terus mengancam kehidupan manusia.

Demi keberlangsungan hidup manusia, mau tidak mau, suka tidak suka, pilihan terbaik ialah hidup berdampingan dengannya. Artinya, seluruh kegiatan ekonomi, politik, pendidikan, maupun sektor-sektor lain dalam kehidupun dipersiapkan agar dapat kembali beroperasi, namun dengan berbagai model agar penyebaran dari virus ini tetap bisa berkurang.

Berbagai model kehidupan bersama covid-19 dan instrument kebijakan dikeluarkan, sebagai upaya menstabilkan antara perekonomian dan kesehatan. Walaupun, banyak terjadi dinamika dalam penerapanya, semua dilakukan supaya kegiatan ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, dan sektor lainnya berjalan lancar.

Sebagai contoh, pembelajaran daring (online), pembatasan kapasitas dalam beribadah, makan di restoran, berlibur di tempat wisata, pembatasan jam operasional, menghentikan sementara kegiatan sosial dan fasilitas umum yang menimbulkan kerumunan, dan penerapan protokol kesehatan dengan ketat.

Hal itu menyebabkan perubahan mendasar dalam kehidupan. Ketika kita mulai dengan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan, mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, memelihara kesehatan, dsb. Itulah yang di kenal dengan “Normalitas Baru”.

Aktivitas normalitas baru, ternyata mempercepat perubahan dunia diambang zaman yang dimotori oleh kehadiran teknologi revolusi industri 4.0, dimana penyatuan jaringan cyber dengan jaringan fisik untuk menciptakan sistem otonom baru. Perkembangan revolusi industri 4.0 bersifat melampaui, sudah tidak segaris dengan sebelum-sebelumnya.

Klaus Schwab, menjelaskan revolusi industri 4.0 yang dibangun di atas kekuatan revolusi industri ketiga, revolusi digital yang sudah dimulai pada pertengahan abad silam. Karakter dari revolusi industri keempat adalah fusi teknologi (a fusion of technologies) yang memudarkan batas-batas antara lingkup fisis, digital, dan biologis.

Perubahan yang dibawa mengubah cara hidup, kerja, dan bagaimana berhubungan satu sama lain. Keadaan ini di karenakan munculnya teknologi terobosan, seperti artificial intelligence, robotics, the Internet of Things, autonomous vehicles, 3-D printing, nanotechnology, biotechnology, materials science, energi storage, dan quantum computing. 

Selain perangkat yang dapat dibawa ke mana-mana (mobile devices), dengan kecepatan pengolahan (processing power), kapasitas penyimpanan (storage capacity), dan akses ke pengetahuan (access to knowledge) yang makin lama makin besar menjadi yang terbatas.

Perubahan mendasar yang disebabkan oleh pandemi global melalui normalitas baru dan revolusi industri 4.0 menjadikan tatanan kehidupan manusia jauh berbeda dari sebelumnya. Inilah yang kelak disebut sebuah “Zaman Baru”. Belum lagi ditambah fenomena lain, seperti kebangkitan asia timur, arus globalisasi, yang berdampak pada segi kehidupan manusia.

Belajar Menjadi Si Guru, oleh Si Guru Sendiri;

Hadirnya “Normalitas Baru” dengan dihadapkan oleh “Revolusi Industri 4.0”, tidak hanya membuat sebuah perubahan dalam tatanan kehidupan manusia. Namun, menempatkan bangsa Indonesia dalam sebuah kesadaran baru. Kesadaran yang dimaksud ialah menarasikan dan memetakan peta jalan zaman baru.

Bila di muka, zaman kebangunan merupakan sebuah kegentingan, maka kembali lagi zaman kebaruan juga merupakan kegentingan. Pada dasarnya sejarah manusia adalah sejarah perubahan. Kehidupan ini selalu dinamis dan dialektis. Minimal tidak, tiap orang hadir sebagai pemimpin, guru.

Bila pada zaman 1930-an, dihadapkan oleh paham nazisme, maka ketika dihadapkan oleh perubahan zaman baru, karakter kerakyataan, kemerdekaan, dan kesatriaan, selayaknya termanifestasikan ke dalam pribadi manusia Indonesia.

Karakter kerakyatan sebagaimana menempatkan keselamatan rakyat sebagai pijakan awal, dengan turut menjaga dan menerapkan normalitas baru serta peka terhadap perubahan yang terjadi. Memulai dari dalam diri sendiri dengan keterbukaan dan kebebasan berpikir, sebelum memberikan contoh pada khalayak ramai.

Kemerdekaan diwujudkan dengan berpijak pada nasionalisme yang tidak hanya sekedar rasa cinta pada tanah air, melainkan sebagai sikap politik dan respon kebangsaan. Turut bergerak dalam perubahan dengan membawa narasi dan peta jalan ke Indonesia-an, sehingga masalah di dudukan sebagai masalah kebangsaan dan responnya menjadi respon kebangsaan.

Kesatriaan sebagaimana menggunakan kekuataan pengetahuan, sebagai hal yang utama dalam sumber daya politik. Dengan ini, dalam memaknai sebuah perubahan dan memperkuat karakter kerakyataan dan kemerdekaan. Karakter yang termuat menjadi tidak dogmatis melainkan dapat diterapkan dengan kebebasan berpikir yang sehat.

Oleh karena dalam zaman baru ini menyebabkan perubahan besar-besaran di segala bidang kehidupan. Belum lagi, ditambah oleh segelintir permasalahan dari dalam Indonesia, seperti kerusakan lingkungan alam, sosial, dan kerusakan politik. Maka tiap orang haruslah menjadi pemimpin, menjadi guru, yang sadar akan perubahan di dalam zaman kebaruan.