Kalau kita mau jujur, berapa persen dari guru sains kita yang berlangganan majalah sains atau berapa persen dari guru sosial kita yang berlangganan majalah “Historia” ataupun majalah “The Economist”? 

Jika hal tersebut di atas masih terlalu sulit untuk kita jawab, kita lebih sederhanakan menjadi berapa persenkah guru yang mempunyai media sosial yang terhubung dengan berita perkembangan ilmu pengetahuan? Sepertinya masih sangat sulit bagi kita untuk menjawabnya.

Guru Muda                                                               

Arab Saudi mempunyai masalah serius dengan pendidikan. Pengajar di Arab Saudi di dominasi oleh para guru muda. Seharusnya ini merupakan kabar gembira bagi dunia pendidikan di sana, namun menjadi sebuah permasalahan besar jika para guru muda tidak dengan sepenuh hati menekuni kariernya sebagai pendidik.

Indonesia tiap tahun meluluskan lebih dari puluhan ribu calon guru dari berbagai universitas. Kebanyakan dari lulusan tersebut adalah orang-orang muda. Apabila di terima, orang-orang muda tersebut akan menjadi guru muda yang seharusnya lebih kreatif dalam mengajar. 

Guru-guru muda dalam beberapa dekade ini juga sangat familiar dengan media sosial. Banyak di antaranya mempunyai gawai canggih yang akan menghubungkan mereka dengan dunia luar, tanpa batas.

Dengan gawai canggih tersebut, seharusnya para guru muda juga dapat terhubung dengan berbagai berita yang berkaitan dengan perkembangan dunia, terkhusus perkembangan dunia ilmu pengetahuan. 

Begitu banyak majalah sains ataupun kanal berita sains yang terhubung langsung dengan Facebook ataupun Instagram. Para guru muda hanya tinggal menekan tombol “like” pada fanpage atau tombol “ikuti” pada majalah ataupun kanal berita yang diinginkan dan setiap informasi terbaru akan secara otomatis muncul di beranda media sosial.

Guru muda menghadapi dunia pendidikan yang sangat jauh berbeda dengan dunia pendidikan puluhan tahun lalu. Siswa juga banyak menerima informasi dari berbagai media sosial, sehingga yang menjadi lawan guru bukan lagi masalah kurangnya akses informasi, melainkan cepatnya dan derasnya akses informasi. 

Guru zaman old tidak akan mampu menjelaskan tepat atau tidaknya berbagai informasi yang diterima siswa.

Kurikulum

Sangat mungkin bahwa kurikulum yang “disantap” siswa-siswi kita tiap hari adalah perkembangan ilmu pengetahuan 3 atau 4 tahun yang lalu. Sementara ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat, dalam hitungan menit bahkan detik.

Hal ini mengakibatkan pendidikan kita tertinggal jauh dari negara-negara maju. Kita tidak mampu mengejar ketertinggalan karena cepatnya pengetahuan berkembang sementara kita hanya mengandalkan buku teks yang disusun bukan berdasarkan pengetahuan terbaru.

Jika negara-negara maju sudah mengetahui apa dan bagaimana cara kerja virus zika, anak-anak kita baru akan mengetahuinya 3 atau 4 tahun lagi. Berapa persen dari siswa Indonesia yang telah mengetahui Mesentary? Suatu jaringan yang belum beberapa lama ini disepakati sebagai suatu organ. 

Berapa banyak dari siswa yang melewati pembelajaran kimia yang tahu bahwa ada 3 unsur baru yang diciptakan di luar tabel periodik konvensional? Atau bagaimana bentuk sesungguhnya blackhole? Di negara Barat, anak kecil 12 tahun sudah sangat familiar dengan CRISPR, kita bahkan tidak tahu CRISPR itu apa.

Seharusnya guru-guru akan sangat terbantu dengan perkembangan ilmu telekomunikasi saat ini. Materi yang disampaikan guru di kelas seharusnya tidak terbatas pada apa yang tertera dalam kurikulum ataupun silabus yang telah ditetapkan oleh pemerintah, melainkan dari hari ke hari di-upgrade sesuai kecepatan perkembangan ilmu perkembangan yang ada. 

Melalui kanal-kanal berita dan majalah yang terhubung langsung dengan media sosial, seharusnya pendidikan kita tidak lagi ketinggalan.

Sekolah

Majalah sains kita loyo dan kurang semangat, hidup segan mati tak mau. Begitu pun para penulis dan peneliti kita yang kurang berhasrat untuk membagi pengetahuan mereka kepada para pelaku pendidikan. Sekolah kita seakan menutup mata dengan kebutuhan guru akan upgrade ilmu pengetahuan. 

Jangankan majalah sains, bahkan tidak sedikit sekolah yang tidak berlangganan koran ataupun majalah umum. Seandainya sekolah punya hasrat yang besar untuk mencukupi kebutuhan tersebut, majalah sains kita pasti bersemangat kembali dan para peneliti kita akan makin sering menulis dan membagikan pengetahuannya.

Kalau kita bisa sederhanakan, pembelajaran adalah proses penyaluran ataupun pencarian informasi. Di zaman teknologi 4.0 ini, informasi sangat menentukan keberhasilan kebanyakan orang. 

Sayangnya kita belum menganggap hal penting dalam pembelajaran, sehingga kita masih selalu terbatas pada satu informasi tunggal dalam mengajar, yaitu buku paket. Akses informasi sama sekali bukan menjadi masalah pada masa sekarang ini, justru yang menjadi masalah adalah mindset kita yang belum menganggap hal ini sebagai kebutuhan penting dalam pembelajaran.

Sekolah menjadi sangat penting dalam menggugah semangat untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Sekolah berperan menjadi penghubung antara penyedia informasi ke penikmat informasi. 

Sekolah melalui perpustakaan dapat menjadi penghubung untuk kedua pihak tersebut, antara peneliti dan media massa dengan para guru dan murid. Ketika semua sekolah berlangganan majalah sains, guru-guru dapat meng-upgrade ilmunya sembari pihak penyedia majalah dapat makin berkembang.

Sekolah harus mampu menjadi bahan bakar gerakan literasi sekolah dan guru adalah ujung tombak gerakan literasi sekolah. Guru harus selalu diisi dengan ilmu pengetahuan baru sehingga di kelas dapat memotivasi siswa untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai bahan bacaan. 

Guru 4.0 adalah guru dengan wawasan yang luas dan berdampak pada siswa. Wawasan yang luas tentunya akan memacu kreativitas dalam meramu rencana pembelajaran dan memperluas ruang gerak guru dalam memimpin pembelajaran.

Menjadi Guru

Seorang guru fisika di sebuah negara maju begitu terburu-buru untuk masuk kelas dan segera merevisi pernyataannya dan menerangkan bahwa gravitasi merupakan salah satu gelombang yang ada dalam dimensi ruang dan waktu. Itu terjadi hanya beberapa menit setelah dia membuka PC dan membaca beranda Facebook-nya yang berisi berita dari National Geographic ataupun Science News

Sementara guru di negara kita baru akan mengetahui hal tersebut beberapa tahun lagi setelah buku pelajaran memuatnya.

Seorang guru biologi di Irlandia, misalnya, segera mengubah konten dalam Lesson Plan-nya setelah membaca majalah science mengenai photosynthesis yang ternyata telah berlangsung jauh lebih lama dari yang telah diprediksikan sebelumnya. Sementara seorang yang lain adalah guru biologi di Indonesia yang taat dan akan mengubahnya setelah penerbit mencetak bukunya.

Di zaman now ini, tantangan guru berubah 180 derajat dari puluhan tahun lalu. Guru malah sering kalang kabut bukan karena kurangnya akses informasi, namun karena cepat dan derasnya informasi yang diterima siswa melalui berbagai media informasi. 

Sungguh pemandangan yang sangat memalukan jika seorang anak di dataran tinggi Tapanuli bertanya kepada gurunya mengenai kekerabatan spesies terbaru orang utan Pongo tapanuliensis dengan Pongo pygmaeus di Kalimantan sementara gurunya bahkan tidak tahu menahu mengenai dangkalan Sunda.

Seorang guru punya tanggung jawab yang sangat besar dalam membentuk para penerus bangsa. Meng-upgrade ilmu merupakan salah satu bentuk tanggung jawab itu. Guru-guru seharusnya merasa bersalah jika mengajarkan pelajaran yang salah ataupun yang salah karena tidak up to date

Menjadi guru 4.0 mempunyai tantangan tersendiri yang mengharuskan mereka harus haus literasi dan selalu up to date, terkhusus dalam bidang ilmu yang mereka geluti.