Entrepreneur diambil dari bahasa Prancis “entre” dan “prendre”. Sebutan ini digunakan pertama kali pada abad ke-18. Pada mulanya, sebutan ini hanya untuk orang yang sebagai “perantara” atau beberapa pihak dalam proses perdagangan. Richard Cantilon (1680-1734) dipercaya sebagai orang yang pertama kali menggunakan sebutan “Entrepreneur” dengan arti seseorang yang berani menanggung resiko dalam perekonomian. 

Namun arti kata Entrepreneur berkembang seiring perkembangan zaman. “An Entrepreneur is someone who specializes in taking judgmental decision about the coordinatin of scare resouces”. Casson (2003:20). Jika diartikan ke dalam bahasa indonesia bahwa Entrepreneur yaitu seseorang yang ahli mengambil keputusan dalam pengkoordinasian sumber daya yang terbatas. Jika kita melihat substansi dari makna Entrepreneur tersebut bahwa manusia yang cerdas dalam memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di sekitarnya dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ia miliki, kemudian dikembangkan melalui pemikiran-pemikiran kreatif dan  inovatif.

Jika kita lihat hasil penelitian sejarawan  muslim klasik Ibnu Khaldum. Menurutnya, dalam 100 tahun perjalanan suatu bangsa akan lahir empat model pemuda. Pertama, generasi pendobrak. Ini merupakan generasi yang beranin melakukan perubahan secara mendasar dari segala lini. Baik bidang sosial ekonomi, pendidikan, teknologi dan lainnya. Kedua, generasi pembangun. Dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus di bawah otoritas kekuasaan yang didukungnya, bekerja secara bersistem, memiliki rencana yang matang sehingga target yang ingin dicapi dapat diukur dengan kemampuan yang dimilikinya. 

Ketiga, generasi penikmat. Pada generasi ini telah banyak kita lihat dari semua kalangan, contohnya saja pemuda era teknologi yang di mana mereka diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, mereka memanfaatkan posisi tersebut dan tidak lagi peka terhadap kepentingan bangsa dan negara. Mereka berpikir bagaimana menikmati kekayaan yang dimilikinya daripada bekerja untuk membangun. 

Keempat, generasi masa bodoh. Inilah generasi yang sangat ditakuti oleh semua bangsa, di mana mereka tidak lagi memiliki hubungan emosional dengan negara tidak lagi memikirkan kepentingan bersama, mereka hanya mengandalkan keahliannya dalam bekerja tanpa memiliki rasa tanggungjawab. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka suka tanpa memedulikan nasib negara (Mubarok, 2009).

Mungkin kita masih ingat kalimat yang keluar dari suara tokoh revolusioner Bung Karno “Hanya Bangsa yang berjuanglah yang bisa menjadi Bangsa Besar”. Sangat menarik jika kita simak ucapan sang revolusioner. Kenapa demikian, bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar. Jika indonesia memiliki jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, maka negara ini membutuhkan paling sedikit 4,5 juta generari pendobrak dan generasi pembangun. Menurut pakar Enterepreneurship David Mc Clelland, suatu negara dapat dikatakan makmur apabila memiliki jumlah entrepreneur minimal 2 persen dari total jumlah penduduk. Namun kenyataannya masih sangat kurang yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang besar ini.

Di indonesia khususnya, belum mencapai 100 tahun, generasi ketiga dan keempat sudah bermunculan. Lihat saja, kebijakan pemerintah yang tidak tepat sasaran, menggusur masyarakat tanpa memikirkan nasib mereka, korupsi pejabat publik (baca: kasus bupati lombok barat) marak terjadi di kalangan DPR dan para abdi negara, serta kerusuhan sosial, dan generesai hedonis yang dapat kita lihat dari kalangan anak muda kita. 

Pengedaran dan penggunaan narkotika dikalangan muda dapat kita lihat pada layar kaca di rumah setiap kita menonton berita pasti ada saja yang menggunakannya. Kita juga dapat melihat kasus lainnya seperti pemerkosaan dan lainnya marak terjadi. Tindakan-tindakan amoral tersebut  menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang mengakibatkan merembesnya pada elit penguasa dan sistem politik yang ia bangun. Kerusakan moral generasi muda, penguasa, dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya SDM ke negara lain. 

Dengan kata lain dapat kita sebut “braindrain” dan berkurangnya pekerja terampil yang mengandalkan daya pemikiran inovatif karena mekanisme rekrutmen yang terganggu dengan tindakan-tindakan amoral tersebut. Semua itu bermuara pada turunnya produktivitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem perkembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan (Zarkasi, 2010).

Apa Yang Harus Disiapkan?

Kalau kita berbicara tentang bangsa,  tahun 2017 ini tidak ada perubahan yang signifikan dan tetap stagnan jalan di tempat. Oleh karena itu, mulai saat ini kita harus menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan yang mempertkuat kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dan yang menumbuhkan kecitaan dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia.  jenjangnya mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai pada perguruan tinggi, termasuk di dalamnya pendidikan sepanjang hayat (long life learning) yang sangat berpengarus terhadap usia selanjutnya, sekaligus merekalah yang akan menggantikan generasi Masa Bodoh yang ada saat ini demi merubah dan menjadikan pelaku utama 30-an tahun ke depan. 

 Dengan membangun rasa memiliki (ownership) bangsa Indonesia dengan empat pilarnya yaitu: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus terus menerus kita lakukan. Memabngun karakter tersebut tidak cukup hanya melalui pembelajaran di kelas, tapi juga harus secara simultan melalui pembangunan kultur sekolah (school culture), keluarga, dan masyarakat.

Demikian pola-pola tersebut yang terdapat dalam pendidikan saat ini dapat mengembangkan jiwa enterepreneuship agar dapat berkembangnya terobosan ala generasi Pendobrak demi merubah sistem dan tata kelola bangsa ini. Karena siapa lagi yang akan menggantikan para aktor semua lini, baik pemerintahan dan pendidikan, tiada lain kalau bukan para generasi muda.

Pendidikan dan Entrepreneurship

Dengan adanya pendidikan maka manusia dapat mengembangkan pemikiran yang ia dapatkan dari dunia pendidikan tersebut. Kita ketahui para pendobrak itu adalah manusia-manusia yang dapat disebut entrepreneur yaitu pribadi-pribadi yang menginginkan perubahan di semua lini. Dengan merujuk pada pendidikan yang sedang ditempuh dan diterapkan oleh pendidik di seluruh bangsa ini dapat mengembangkan nilai-nilai entrepreneurship dan dapat mengembangkan sikap pendobrak bagi seluruh siswa baik dari tingkat dasar sampai menegah, adapun dalam dunia perkuliahan perlu sekali disemaikan dalam proses pendidikan demi mewujudkan jiwa pendobrak bagi seluruh elemen yang terletak didalamnya, baik itu mahasiswa maupun dosen.

Terobosan-terobosan baru sangat dibutuhkan untuk memajukan bangsa ini, baik dalam seni budaya (kreasi baru), ilmu pengetahuan dan teknologi (penemuan baru), birokrasi (terobosan dalam tata kelola kepemerintahan), hingga dunia bisnis sekalipun harus dapat mengembangkan terobosan baru dengan mengembangkan jiwa entrepreneurship tersebut. Dengan cara mendorong peserta didik dalam berpikir kreatif sebagaimana yang diharapkan agar bisa menjadi benih dan lahan subur tumbuhnya jiwa-jiwa entrepreneurship pada kalangan muda.  

Dengan menumbuhkan semangat demi meraih ilmu pengetahuan dan mengembangkan jiwa entrepreneur demi kemajuan bangsa itu bisa kita raih dengan ilmu pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan dapat mengembangkan sikap dan keterampilan generasi pendobrak yang kita cita-citakan. Sebab dalam kutipan Mohammad NUH, “ilmu pengetahuan tidaklah ditemukan di dalam lembaran halaman kitab suci, meski kita bisa terinspirasi darinya, melainklan dengan menyingsikan lengan baju dan kembali bekerja di laboratorium dan observasi di alam semesta raya”.

Semoga melalui pendidikan dan edukasi yang diberikan kepada gerasi-generasi muda melalui pendidikan formal dan informal, dapat menciptakan dan menggantikan generasi “Penikmat dan Masa Bodoh” menjadi generasi Entrepreneur yang menjadikan bangsa Indonesia The greatest of Indonesia. Semoga!