Pandemi covid-19 secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada berbagai sektor seperti ekonomi, lingkungan, politik, dan pendidikan. Dampak tersebut dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat dan salah satunya adalah fresh graduate.

Pandemi covid-19 bagai mimpi buruk bagi fresh graduate. Perencanaan karir yang telah disusun selama masa perkuliahan dapat menjadi berantakan. Tantangan mereka untuk mengawali karir di dunia kerja menjadi berlipat ganda. Keluar dari quarter life crisis saja sudah susah.

Selama masa pandemi, lapangan kerja yang dapat menyerap fresh graduate semakin menyusut. Hal tersebut dapat dilihat dari angka pengangguran yang meningkat tajam. Angka pengangguran di Indonesia menurut BPS per Februari 2020 mencapai 6,88 juta. Kemungkinan angka tersebut akan meningkat drastis karena disebabkan oleh adanya pandemi covid-19.

Menurut Bhima Yudhistira, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), angka tersebut dapat meningkat menjadi 9,7 – 12,5 juta. Badan Pusat Statistik mengatakan bahwa sebanyak 16,82 % dari total pengangguran masih tergolong usia produktif yaitu 15-24 tahun. Hal ini menunjukan bawha banyak fresh graduate yang tidak terserap lapangan kerja .

3 Hal Agar Mampu Bertahan

Agar mampu bertahan pada situasi pandemi covid-19 seperti ini, fresh graduate harus memiliki strategi dan perencanaan. Menurut Yanuar Adrianto, Head of Expertise Group Finance PPM Manajemen, ada tiga hal yang perlu disiapkan fresh graduate agar bertahan selama pandemi.

Pertama adalah networking. Memiliki jaringan sosial yang luas akan meningkatkan peluang mendapat pekerjaan. Informasi tentang lowongan kerja akan lebih mudah diterima.

Kedua adalah belajar hal baru. Pandemi Covid-19 menciptakan pola hidup masyarakat yang serba digital. Perubahan ini juga perlu diimbangi dengan keahlian baru. Fresh graduate dituntut mengembangkan skill mereka untuk dapat bertahan selama pandemi covid-19.

Dan yang ketiga adalah adaptasi. Kemampuan fresh graduate beradaptasi dengan berbagai perubahan pola hidup yang disebabkan oleh adanya pandemi akan membantu mereka bertahan. Termasuk diantaranya adalah beradaptasi menggunakan keahlian baru yang dibutuhkan selama masa pandemi, atau bagi fresh gradute memilih melanjutkan pendidikan tingkat lanjut karena melihat situasi yang tak menguntungkan jika harus masuk dunia kerja pada kondisi seperti ini.

Mengisi waktu selama pandemi dengan meningkatkan skill dan kemampuan juga merupakan strategi agar fresh graduate dapat bertahan. Tidak dipungkiri bahwa selama masa pandemi seperti ini banyak sekali penolakan lamaran kerja yang dialami.

Waktu yang habis oleh sekian banyaknya penolakan tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri. Sarjanawan sastra dapat mulai menulis buku pertamanya. Sarjanawan perikanan dapat mulai belajar bagaimana merintis bisnis ikan hias. Terkadang terlalu fokus pada sebuah situasi buruk dapat membuat terlena betapa banyaknya peluang yang hilang sia-sia.

Wirausaha sebagai Alternatif

Berwirausaha menjadi alternatif bagi fresh graduate ketika lapangan kerja menyempit. Situasi yang disebabkan pandemi covid-19 mungkin mengubah pola hidup seluruh masyarakat, namun kebutuhan hidup tidak berkurang. Pola konsumsi mungkin berubah, namun tingkat konsumsi masih sama bahkan bertambah.

Bisnis berbasis online selama pandemi memiliki peluang yang besar. Kementrian Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa penjualan di platform e-commerce meningkat 30% selama pandemi.

Peluang usaha yang dapat dikembangkan selama masa pandemi diantaranya seperti bisnis online, bisnis ramuan herbal, bisnis makanan beku, dan bisnis keperluan kesehatan seperti hand sanitizer atau  masker. Normal baru menghasilkan peluang baru. Masalahnya bagaimana fresh graduate melihat dan memanfaatkan peluang bisnis tersebut.

Pandemi Representatif Masa Depan

Penulis futuris dan pakar artificial intelligence (AI) Martin Ford, mengatakan masa pandemi covid-19 ini menjadi cuplikan bagaimana masa depan akan berjalan. Jumlah pengangguran bertambah, fresh graduate tidak mendapat kerja, dan setiap sektor pekerjaan manusia akan diambil alih oleh robot. Mau tidak mau, cepat atau lambat, karena hal itu memang konsekuensi dari semakin canggihnya teknologi.

Walmart, perusahaan ritel amerika terbesar menggunakan robot untuk membersihkan lantai mereka. Robot di Korea Utara telah digunakan sebagai pengatur suhu ruangan dan dapat membagikan hand sanitizer. Situasi sulit selama pandemi covid-19 mengajarkan bahwa sudah saatnya fresh graduate meingkatkan kualitas diri agar dapat bertahan.

Walaupun lapangan kerja menyusut, ada beberapa posisi yang justru membutuhkan tenaga kerja. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh fresh graduate. Posisi tersebut adalah programmer, data analyst,  risk management, user interface (UI), dan user experience (UX).

Ignatius, Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) mengatakan bahwa selama pandemi covid-19 transaksi perusahaan E-Commerce mengalami peningkatan, oleh sebab itu pada sektor ini semakin membutuhkan programmer.

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) melakukan survey terhadap anggota perusahaanya terkait kebutuhan pekerja. Hasilnya adalah sebanyak 79 perusahaan membutuhkan talenta di bidang data analisis, 70 perusahaan membutuhkan progammer, 51 perusahaan membutuhkan ahli risk management, 48 perusahaan membutuhkan ahli industri finansial, dan 41 perusahaan membutuhkan UI/UX.

Pandemi covid-19 bagi fresh graduate menciptakan situasi baru dan masalah baru, namun juga menciptakan peluang baru. Beradaptasi dengan situasi yang ada dan meningkatkan kualitas diri akan dapat membantu fresh graduate bertahan.