Researcher
2 minggu lalu · 141 view · 4 min baca · Buku 97054_50448.jpg
Dok. Pribadi

Menjadi Feminis Sekaligus Agamis

Hadirnya buku ini berawal dari penulisan disertasi penulis pada program doktor di Universitas Western Sydney Australia. Buku ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan menggunakan responden para anggota Pusat Studi Wanita/Pusat Studi Gender (PSW/PSG) di perguruan tinggi di Yogyakarta. 

Tesis awal dari tulisan ini adalah agama dan feminisme adalah dua entitas yang dapat dijalankan secara bersama-sama (hlm. viii)

Penulis buku mengawali pembahasan dengan mendeskripsikan posisi perempuan dalam Islam dan dalam konteks budaya Jawa (penulis buku adalah perempuan Jawa) dengan berangkat dari latar sejarah perjuangan perempuan Indonesia untuk mencapai kesetaraan (hlm. 19-35). Sebagaimana penulis katakan bahwa “Perempuan muslim di Jawa lebih bebas terlibat dalam ruang publik” (hlm. 4).

Kajian pemikiran dalam buku ini makin berwarna manakala penulis melakukan negosiasi isu-isu gender yang diusung “Barat” ke dalam konteks Islam dan kemudian mewacanakan konsep pemikiran feminisme ke dalam konteks Indonesia.  

Buku ini merupakan ikhtiar penulis untuk membumikan wacana feminisme Islam ke dalam tataran implementasi keluarga, organisasi, masyarakat, agama, dan tempat kerja. Buku ini sangat teoritis, sangat akademis, penyampaian bahasa yang mendalam, penuh dengan adu argumentasi dan wacana pemikiran baik dari pemikir feminis Barat maupun pemikir feminis muslim. 

Buku ini juga kental dengan teks Alquran dan hadis dan juga banyak ditemukan di buku ini angka-angka, kolom-kolom dan tabel-tabel kuantitatif. Di beberapa tulisan, masih ditemukan banyak kata yang salah ketik dan kurang ejaanya.

Meski demikian, penulis mendiskusikan teks Alquran dan hadis yang misoginis (bab 4) dengan mengontekstualiasasikan ke dalam implementasi persoalan kehidupan perempuan sehari-hari (bab 5). 

Penulis menampilkan wajah feminis muslim di Indonesia dengan tiga kategori (bab 6). Kemudian refleksi kritis terhadap peran PSW/PSG sebagai lembaga studi yang fokus pada upaya menciptakan sistem keadilan gender bagi perempuan (bab 7). 


Di bagian selanjutnya, cara mewujudkan keluarga dan generasi emas (bab 8). Kemudian tambahan tulisan penulis tentang intervensi malaikat dalam hubungan seksual (bab 9) dan pedagogi feminis (bab 10) yang menurut penulis telah mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata, baik sebagai istri, akademisi,, dan aktivis feminis muslim.

Saya sepakat dengan Prof. Amien Abdullah dalam prolog buku ini bahwa “penulis ingin mengatakan kepada kita tentang fakta pemikiran Islam yang paling memengaruhi masyarakat akademis tentang isu perempuan, sehingga tidak ada lagi show of power tapi mencari titik temu negosiasi” (hlm. xii). 

Titik Temu Agama dan Feminisme 

Dalam menemukan titik temu tersebut, penulis memiliki cara memandang teks kitab suci. Yaitu dengan menggunakan pendekatan kontekstualis dan pendekatan hermeneutika. 

Pendekatan kontekstualis adalah mendekati teks-teks Islam dengan merujuk pada sumber utama teks yaitu Alquran dan hadis sehingga diperluas kepada lingkup interpretasi ijtihadi dengan mempertimbangkan pengaruh ruang dan waktu (hlm. 89). Sedangkan pendekatan hermeneutika adalah metode untuk mengubah susunan makna yang diciptakan oleh orang lain ke dalam pemahaman diri kita dan dunia kita (hlm. 90).

Cara pandang yang demikian digunakan oleh penulis untuk menginterpretasikan teks Alquran dan Hadis berbasis kesetaraan dan berperspektif perempuan. Oleh karena itu, penulis kemudian membagi tipologi pemikiran muslim tentang gender dan feminisme di Indonesia menjadi tiga kelompok. Yaitu literalis, moderat, dan progresif/kontekstualis.

Dalam penjelasan di buku ini (hlm. 95-97), maksud tiga kelompok itu adalah: kelompok literalis yaitu kelompok yang tidak perlu menafsirkan ulang teks, menganggap bahwa menerima ideologi apapun selain Islam berarti telah melanggar hukum Islam dan menentang Tuhan. 

Kelompok moderat beranggapan bahwa semangat feminis tentang keadilan dan kesetaraan untuk perempuan sejalan dengan nilai-nilai Islam. Sedangkan kelompok progresif/kontekstualis memandang bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan mutlak dalam seluruh aspek kehidupan.

Penulis kemudian memasukkan metode membaca teks kepada problem kehidupan perempuan seperti pembagian peran yang setara dalam rumah tangga, kesetaraan hak seksual, hak waris yang setara, setara menjadi saksi, setara dalam kisah penciptaan, poligami, setara dalam status perempuan dan setara dalam memimpin salat berjamaah (hlm. 101-129). 

Penulis berhasil membuat pembaca berada dalam posisi adu argumentasi antara tiga kelompok pemikiran dengan legitimasi teks dalam tabel peta pemikiran (hlm. 130-131).


Pembahasan selanjutnya, penulis mengerucutkan peta pemikiran ke dalam konteks pemikiran feminis muslim di Indonesia (hlm. 135-184). Ada empat pembagian yang digunakan oleh penulis. Pertama, yaitu respons tentang kesetaraan peran gender, kesetaraan hak seksual dan kesetaraan pengambilan keputusan dalam keluarga dengan menggunakan pendekatan progresif. 

Kedua, penulis menyajikan respons tentang persamaan hak waris, kesetaraan derajat sebagai saksi dan kesetaraan dalam kisah penciptaan melalui pendekatan progresif dan nonprogresif. 

Ketiga, penulis menyajikan respons tentang poligami melalui pendekatan progresif dan nonprogresif. Keempat, penulis menyajikan respons tentang isu kepemimpinan perempuan dalam salat dengan menggunakan pendekatan pemikiran moderat.

Dari pembahasan yang diperoleh dari respons dan pendapat feminis muslim Indonesia, penulis setidaknya telah berhasil mengidentifikasi problem perempuan ke dalam ruang wacana pemikiran feminis progresif, feminis literalis berwajah progresif, dan feminis moderat.

Dalam tataran identitas feminis muslim Indonesia, penulis mengidentifikasi bahwa aktivis gender perempuan kurang suka menyebut diri sebagai “feminis” dibanding dengan para aktivis gender laki-laki. Bahkan aktivis gender menggunakan ragam istilah untuk mengidentifikasi diri mereka, yaitu feminis Islam, feminis muslim, aktivis gender, aktivis perempuan, pejuang gender, feminis salihah, feminis liberal, feminis plus, dan pemberdaya perempuan (hlm. 189).

Di bagian akhir tulisan ini (hlm. 193-198), penulis memberikan penekanan bahwa dewasa ini telah terjadi krisis maskulinitas laki-laki karena laki-laki merasa tidak menjadi laki-laki dalam pemahaman masyarakat yang dipersepsikan. Artinya, masyarakat belum menerima dengan kehadiran bapak rumah tangga, padahal kehadiran mereka nyata adanya.

Penutup 

Dari pembacaan seluruh isi buku, penikmat buku-buku filsafat seperti saya sangat tertarik dan lebih mudah memahami peta pemikiran wacana feminisme muslim di Indonesia. Apalagi penulis telah berhasil bernegosiasi antara teks Alquran dan Hadis dengan konteks perempuan jaman now.

Akan tetapi, buku ini melewatkan kajian bahwa perempuan memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri, perempuan memiliki hak antara memilih dan memutuskan apakah menikah ataukah tidak, punya anak ataukah tidak. 

Bahkan penulis terkesan “memaksa” bahwa semua orang diwajibkan menikah dan memiliki anak (hlm. 191). Karena pada kenyataannya, tidak sedikit perempuan yang memilih untuk tidak menikah dan tidak punya anak.

Riwayat Buku

  • Judul: Feminisme Muslim di Indonesia
  • Penulis: Alimatul Qibtiyah
  • Tebal: xx + 270 halaman
  • Penerbit: Penerbit Suara Muhammadiyah
  • Cetakan: I, Maret 2019

Artikel Terkait