Dosen masih menjadi profesi impian sebagian orang. Selain karena dihormati di masyarakat, profesi dosen juga memiliki gengsi tinggi. Apalagi gengsi di hadapan calon mertua.

Syarat menjadi dosen di Indonesia minimal berpendidikan strata dua. Selain itu juga harus lulus beberapa seleksi seperti tes kejiwaan, bahasa, dan logika. Tentu tidak sembarang orang bisa menjadi dosen.

Jenjang karir dosen juga menjanjikan. Setiap dosen harus memiliki cita-cita menjadi guru besar. Sama seperti tentara yang harus menjadi jenderal. Guru besar merupakan jabatan tertinggi yang diraih seorang dosen. Pencapaiannya pun berbeda-beda. Ada yang masih muda sudah mencapai guru besar. Ada juga yang malah menjelang pensiun baru meraihnya. Hal itu tergantung dari usaha dosen untuk meraihnya.

Dosen juga menjadi primadona anak muda. Jadi, dosen seperti artisnya perguruan tinggi. Hal itu karena mayoritas mahasiswa masih sangat muda. Itu sebabnya dosen banyak dikelilingi anak muda. Apalagi kalau dosen tersebut juga ternyata masih muda.

Menjadi dosen tidak semudah dan seenak yang dibayangkan. Mengapa? Tuntutan kerja seorang dosen membuat stres. Ada yang mengatakan itu sebagai risiko pekerjaan. Ya, setiap pekerjaan memiliki risiko dan tingkat kesulitan masing-masing. Hanya saja menjadi dosen di Indonesia terlalu banyak dibebani urusan administrasi.

Kewajiban melakukan tridarma perguruan tinggi setiap semester membuat sebagian besar dosen stres. Tridarma merupakan tiga kewajiban yang wajib dilakukan. Tiga kewajiban itu meliputi pembelajaran, penelitian, dan pengabdian.

Kewajiban di bidang pembelajaran menjadi hal pertama yang harus dilakukan seorang dosen. Pekerjaan utama dosen adalah transfer ilmu kepada mahasiswa. Untuk itu mengajar menjadi salah satu kewajiban utama yang dilakukan dosen. Namun, kewajiban mengajar bukan hanya menyampaikan materi di kelas saja. Dosen wajib menyiapkan hal-hal yang berkaitan dengan pengajaran.

Ada tiga hal yang perlu disiapkan dosen yakni pra-belajar, belajar, dan pasca-belajar. Tahap pra-belajar merupakan tahap sebelum dosen masuk kelas mengajar mahasiswa. Dosen wajib menyiapkan silabus, materi kuliah, alat peraga, dan kebutuhan administrasi kegiatan. Dosen masuk kelas tidak membawa tangan kosong. Butuh persiapan khusus agar mahasiswa belajar juga mendapatkan ilmu pengetahuan.

Tahap belajar merupakan saat dosen mulai mengajar mahasiswa. Dosen harus bisa menguasai kelas dan memahami karakter peserta didik. Untuk itu, dosen harus menguasai materi yang hendak diajarkan. Dosen harus banyak membaca buku, jurnal, dan referensi lain agar tidak ketinggalan zaman.

Tahap pasca-belajar merupakan kegiatan saat dosen sudah keluar kelas. Dosen perlu menyiapkan evaluasi pembelajaran. Menyiapkan evaluasi pembelajaran juga tidak mudah. Evaluasi harus bisa mengukur kemampuan yang didapat peserta didik selama diajar. Nah, di sini dosen harus memutuskan apakah mahasiswa tersebut berhak lulus atau tidak.

Penelitian wajib dilakukan dosen minimal sekali dalam setahun. Itu dilakukan sebagai pengembangan keilmuan dosen. Penelitian diharapkan memberikan solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat. Hal itu dilakukan agar masyarakat juga merasakan kehadiran civitas akademica.

Mahalnya biaya penelitian, membuat dosen perlu mengajukan proposal pendanaan hibah penelitian baik dari pemerintah maupun swasta. Baik dari asing maupun dalam negeri. Namun, ada juga dosen yang harus menggunakan dana pribadi untuk meneliti. Hasil penelitian dosen wajib dipublikasi agar bisa diakses publik. Publikasi bisa berupa jurnal ilmiah, esai di media massa, ataupun buku. Jadi, dosen bukan hanya wajib membaca saja melainkan juga menulis.

Kewajiban dosen berikutnya yaitu pengabdian masyarakat. Hasil penelitian tidak cukup hanya sampai publikasi saja. Melainkan perlu diterapkan dalam masyarakat. Hal itu agar hasiil penelitian benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain itu, pengabdian masyarakat juga dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan keilmuan. Setelah itu, diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Dengan demikian tridarma menjadi sebuah siklus yang selau berputar sehingga ilmu pengetahuan selalu diperbaharui.

Paparan di atas merupakan gambaran pekerjaan dosen. Apakah hanya sebatas itu? Tidak. Tridarma merupakan pekerjaan wajib yang dilakukan seorang civitas akademica yang salah satunya dosen. Masih ada hal lain yang perlu dilakukan dosen yaitu berkaitan dengan tugas tambahan seorang dosen.

Dosen perlu menulis bahan ajar agar keilmuan dosen dapat dibaca oleh mahasiswa dan orang lain. Semua mata kuliah yang terdapat pada program studi wajib memiliki bahan ajar. Bahan ajar biasanya dibuat oleh tim pengajar di program studi tersebut. Jadi beberapa dosen perlu berkomunikasi untuk bisa menyusun bahan ajar.

Dosen perlu memberikan sumbangsih kepada lembaga untuk membangun perguruan tinggi. Sumbangsih tersebut bisa berupa pemikiran, tenaga, dan waktu. Dalam hal ini, dosen perlu loyal terhadap lembaga. Dalam kasus contoh di sini yaitu program merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program merdeka belajar dibuat awalnya untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bisa belajar di mana saja, dan kapan saja. Sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki daya sesuai dengan dunia kerja. Namun, fakta di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dosen perlu bekerja keras tanpa mengenal waktu untuk menyiapkan program merdeka belajar di kampusnya. Terutama dosen yang membidangi bidang kemahasiswaan dan juga bidang kurikulum.

Merdeka belajar masih menjadi pekerjaan rumah perguruan tinggi dan dosen. Hal itu karena belum jelas seperti apa konsep merdeka belajar. Jadi terbayang betapa ruwetnya dosen menyiapkan program merdeka belajar itu. Tidak semua perguruan tinggi mampu membayar mahal dosennya. Jadi, dosen juga dituntut untuk bekerja ikhlas untuk menyiapkan generasi terbaik bangsa di masa depan.

Selain itu, urusan administrasi dosen juga tidak sedikit menyita waktu. Dosen perlu melaporkan kegiatan tridarmanya setiap semester. Hal itu perlu dilakukan sebagai arsip perguruan tinggi dan dosen yang bersangkutan. Pelaporan tersebut nantinya digunakan untuk kenaikan pangkat dosen dan juga akreditasi lembaga.

Jadi, kebayang betapa stresnya menjadi dosen?