“Maaf Pak, disini kami tidak bisa menerima pasien Covid lagi.”

“Maaf Pak, IGD kami sedang penuh, mohon mencari rumah sakit lain.”

“Maaf Bu, IGD penuh, ada puluhan pasien mengantri, mohon Sampean bersabar dahulu.”

Para dokter tersebut lalu meninggalkan tanpa ragu keluarga pasien yang mengharap bantuan. Dia kembali berjalan ke dalam ruang IGD. Tidak gagah seperti biasanya. Langkahnya terlihat layu, nampak ada banyak kesedihan yang ditahan di dalam benaknya. 

“Tolong Dok, ayah kami sesak. Tolong Dok, ibu saya perlu oksigen. Tolong suami saya Dok, kata dokter sebelumnya dia perlu dirujuk kesini untuk mendapatkan ventilator,” keluarga pasien kemudian memanggil lagi, tidak terima dengan jawaban dokter yang baru saja memberitahunya tentang keadaan fasilitas kesehatan tempatnya bertugas yang telah kolaps.

Ketika tenaga medis tersebut pulang, mandi, dan bersiap untuk istirahat. Sejenak mereka pasti berangan tentang kejadian yang hari ini mereka lalui. Penolakan-demi penolakan yang telah banyak mereka lakukan, belum lagi situasi harus memilih pasien mana yang harus diselamatkan. 

Betapa perihnya jiwa mereka yang harus rela menjadi perantara malaikat pencabut nyawa melakukan tugasnya. Sedih, teriris, dan penuh luka. Mungkin demikian kata-kata yang pas untuk menggambarkan dokter dan tenaga medis kita saat ini. Bertahan dengan pengetahuan melihat kedekatan seseorang dengan kematian yang justru membuat mereka makin terpuruk. 

Keadaan kali ini tidak seperti bencana alam sebelumnya. Ketika bencana alam seperti tsunami atau gempa bumi muncul, fasilitas kesehatan hancur, akses tertutup, listrik mati, pasokan makanan menghilang. Bencana kali ini berada dalam tataran yang berbeda, fasilitas kesehatan ada, akses jalan lancar, listrik menyala, pasokan makanan juga melimpah. Namun hasil akhirnya sama, kita sama-sama tidak berdaya karena kemampuan yang terbatas. 

Dokter dan tenaga medis kali ini sudah kelelahan, banyak sejawat mereka yang positif, banyak pula yang harus kehilangan nyawanya. Para tenaga medis yang masih sehat pun harus mempertaruhkan kesehatannya dengan jam jaga yang bertambah sebagai tambal hilangnya rekan mereka yang isoman. Hari-hari yang menyeramkan di tempat kerja terus berulang, tidak ada pilihan lain, ini profesi mereka.

Sebagai balasan dengan nasib sial yang mereka alami, banyak tenaga medis menyebarkan raungan-raungan di semua platform media sosial yang mereka punya. Meminta supaya masyarakat bisa patuh di rumah, tidak keluar kemana-mana, dengan harapan beban kerja mereka bisa berkurang dan rumah sakit bisa efektif menerima pasien-pasien kembali. Walaupun sebagai balasannya mereka terus dicap sebagai penebar teror. 

Walaupun begitu, banyak dari rakyat biasa yang harus berjuang menyalakan asap dapur mereka. Tidak adanya gaji bulanan membuat mereka tidak punya pilihan selain bekerja. Uang yang pas-pasan serta anak istri yang perlu dinafkahi, memaksa mereka untuk pergi. 

Beberapa yang memiliki uang lebih terus bersikap egois dengan panik membeli susu, vitamin, dan semua kebutuhan yang mereka anggap bisa menolong ketika masa kritis semakin menjadi.  

Pemerintah juga begitu, beberapa minggu lalu mereka berseru jika pasokan oksigen masih ada, ruang rawat masih ada, dana masih cukup. Tapi nyatanya? Sekarang kita melihat masyarakat antri di tempat pembelian gas, rumah sakit kolaps dimana mana. Puluhan IGD rumah sakit tutup tidak lagi menerima pasien. Oksigen habis membuat banyak pasien meregang nyawa di gerbang IGD. Tunggakan klaim rumah sakit juga masih banyak yang belum terbayarkan. Pilu-sungguh pilu.

Lantas kolapsnya fasilitas kesehatan memaksa banyak pasien untuk isolasi mandiri di rumah. Beberapa yang tidak beruntung dengan munculnya gejala sesak harus rela membeli tabung oksigen beserta isinya. Beberapa lagi yang lebih tidak beruntung, harus meninggal sebelum mendapat pertolongan. 

Datanglah hari-hari seperti sekarang, TOA masjid dimana mana menerangkan berita meninggal dunia, media sosial kita pun tidak luput dengan banyak berita kematian. Saat ini juga, banyak klinik rawat jalan mengalami penambahan pasien sampai tiga kali lipatnya. 

Tentu, tiga kali lipat penambahan pasien di poli rawat jalan daripada biasanya tersebut jelas merupakan gambaran Covid yang tidak terekam oleh pemerintah. Terlalu banyak kasus yang tidak terungkap, bayangkan jika semua kasus ini terungkap, berapa banyak kasus Covid yang muncul dalam pemberitaan media, 30.000, 40.000? Entah saya juga tidak tahu pastinya.

Jargon to cure sometimes to relieve often to comfort always yang dipegang para dokter sudah tidak lagi bisa digunakan saat ini. Mana ada yang nyaman ketika ada keluarga datang ke IGD dengan sesak napas kemudian dokter di sana bilang: ”mohon maaf antrian IGD kami penuh, mohon mencari rumah sakit lain.”

Setiap kali mengatakan hal yang menyakiti hati pasien kami yang sudah jauh-jauh datang, hati kami seperti teriris. Selemah buah semangka yang pasrah teriris walaupun dengan pisau paling tumpul sekalipun. Ya, kami adalah dokter yang penuh luka.

Di ratapan hari-hari PPKM ini, kami semua hanya bisa berdoa semoga keluarga, teman, dan kami bukan jadi korban selanjutnya. Resiko yang kami terima sungguh bertumpuk dan bertumpuk. Pun kalau sampai positif, kami juga masih ragu apakah masih bisa mendapat ruang, atau sesederhana mendapat jatah oksigen. 

Sembuhlah Indonesia, jangan lama-lama sakitnya.