Dulu ketika masih kecil, saya masih ingat cita-cita saya adalah menjadi dewasa. Dalam kacamata bocah 7 tahun, menjadi dewasa sangatlah menyenangkan, bisa bebas ke mana saja, dan bebas melakukan apa saja.

Ini bukan tanpa alasan, ketika kecil saya termasuk orang yang sangat jarang diperbolehkan untuk keluar rumah. Bahkan sekedar bermain di lapangan dekat rumah. Rasanya ketika kecil hidup saya memang kurang bebas.

Berbeda dengan orang dewasa yang bebas ke mana saja. mereka juga seperti superhero, Ketika kami anak kecil sering mendapat gangguan, orang dewasa selalu muncul untuk mengatasinya. Gambaran orang dewasa dalam kaca mata anak kecil seperti saya adalah bebas dan bisa melakukan apa saja.

Namun, ketika sudah menjadi dewasa, banyak hal berubah, termasuk pandangan tentang menjadi dewasa. Jika anda sering membayangkan menjadi orang dewasa itu enak, punya pekerjaan sendiri, bisa beli apa saja tanpa takut diomeli orang tua , bisa pulang larut malam, dan tidak perlu repot-repot memikirkan tugas sekolah yang hadir setiap minggu. Percayalah, anggapan itu salah besar. Menjadi dewasa tidak sebahagia itu.

  • Pertemanan
  •  

Saat dewasa, kita memang masih memiliki banyak teman, tapi hanya sedikit sekali yang benar-benar bisa meluangkan waktunya untuk sekedar bertemu.

Kamu tidak akan lagi punya bayangan bertemu sahabatmu pagi-pagi di kelas, karena sahabatmu sekarang sudah menikah dan sibuk dengan urusannya, sehingga untuk sekedar menanyakan kabar pun kamu akan berpikir ulang karena takut mengganggunya.

Semakin dewasa (read: umur yang menua), semakin banyak kekhawatiran yang muncul. Bahkan ketika melihat teman yang dulu sebangku, sekarang sudah mempunyai pekerjaan yang mantab, sedangkan kita sehari-hari hanya duduk manis saja sambil sesekali meluk bantal. Di sana mulai timbul ketakutan berlebih.

  • Lingkungan
  •  

Ketika memasuki usia dewasa, kita akan memahami kalau pada dasarnya semua orang itu jahad, mereka berbuat baik hanya untuk dianggap baik, sehingga ia juga akan diperlakukan baik juga.

Hal ini bisa dilihat dari budaya memberi hadiah saat ulang tahun. Yaps sebenarnya budaya tersebut adalah tuntutan untuk memberi dan menerima.

Tidak bisa tidak, coba bayangkan, untuk memberikan hadiah sederhana, setidaknya butuh beberapa hari untuk merancang konsep, kemudian juga beberapa biaya yang tidak sedikit, apalagi sampai dengan memberi surprise di tengah malam saat ia tertidur (read: pura-pura tidur).

Kuncinya adalah, bukan bagaimana anda ingin diperlakukan, tapi bagaimana orang lain ingin diperlakukan.

Berhubungan dengan sosial memang njelimet dan kadang bikin pusing. Harus pura-pura baik, pura-pura peduli, dan pura-pura kalau tidak sedang berpura-pura.

Hidup dalam kepura-puraan memang telah dilalui umat manusia sejak lama. Ini dimulai saat jaman prasejarah, di mana manusia harus bisa bertahan hidup, entah sekedar mencari makan, atau melindungi diri dari hewan buas. Karena itu umat manusia bersatu agar bisa mempertahankan diri.

Perlu digaris bawahi, tujuan mereka bersatu adalah untuk mempertahankan diri, nah dalam upaya mempertahakan diri kemudian bersosial dan terpaksa harus akrab agar bisa bekerja sama dengan baik. Dari sini munculah beberapa teori tentang basa-basi, kesopanan, aturan cowok selalu salah dan lain sebagainya.

  • Pandangan Masyarakat

Saya pernah memegang prinsip di mana menjadi dewasa itu menyenangkan, sampai berubah ketika sudah menyelesaikan kuliah. Orang-orang menyebutnya dengan quarter life crisis.

Pandangan orang terhadap orang dewasa tentunya berbeda dengan pandangan mereka terhadap anak kecil. Dan ketika memasuki usia dewasa, kita akan kaget dan kebingungan dengan kebiasaan baru tersebut, namun dipaksa untuk menikmatinya.

Sudah dewasa kok jalan-jalan saja, harusnya nabung buat masa depan.

Sudah dewasa kok cengengesan, dewasa itu harus jaga wibawa.

Sudah dewasa jangan main-main, kerja, kerja, kerja.

Hufft

Ketika masih remaja, kalau sambat ya sambat saja, diumbar di media sosial apa adanya. Tapi ketika sudah dewasa hal itu sulit dilakukan karena harus jaga wibawa. Biasanya sambatan orang dewasa di media sosial cenderung memakai simbol-simbol, pake quote, atau ayat-ayat agama untuk sedikit menyamarkan sambatannya.

Tidak hanya itu, bahkan hal sepele seperti desain buku pun dibuat membosankan, iya, seperti yang kita ketahui bahwa buku orang dewasa cenderung membosankan dari pada buku anak-anak yang banyak warna dan gambar. Buku orang dewasa sangatlah tidak berwarna. Apakah penggambaran orang dewasa memang membosankan? ataukah syarat menjadi dewasa adalah membosankan?

Jika anda sedang mengalami kondisi tersebut, tenanglah, Anda tidak sendiri. Semua orang dewasa mengalami hal tersebut dan tetap hidup.

Satu hal yang saya yakini kenapa semakin dewasa cenderung semakin tidak bahagia adalah karena semakin menjadi dewasa, kita juga semakin meningkatkan standart kebahagiaan kita. Dulu ketika diberi hadiah permen warna warni senengnya minta ampun. Sekarang, coba orang dewasa mana yang bahagia hanya dikasih permen milkita 3 biji?

Es teh plastikan, gorengan hangat, warung makan lima ribuan, boncengan bertiga, pasang foto berdua di medsos, nyari tajil gratisan, dll. Hal kecil seperti itu sudah membuat hati anak-anak bermekaran tak karuwan.

Berbeda dengan orang dewasa. Bahagia menurut orang dewasa adalah mendapatkan pencapaian dan pengakuan. Bisa beli rumah, mobil, mendapatkan jabatan, memiliki pasangan good looking, dan sebagainya.

Alasan lain kenapa kita merasa sedih ketika dewasa adalah karena kita punya kecenderungan meromantisasi masa lalu. Saat kita mengalami hal buruk, kita punya kecenderungan untuk mengingat masa lalu secara positif tanpa mengingat sisi buruknya.

Misalnya kamu merasa temanmu jadi susah ngobrol. Dan dia sering terlihat tidak berminat mendengarkan curhatmu. Padahal mungkin saja sebenarnya temenmu memang kurang suka mendengarkanmu cerita. Tapi karena kebiasaan meromantisasi masa lalu, kita jadi punya ekspektasi tinggi terhadap teman kita.

Akhirnya kita merasa masa lalu jauh lebih baik dan lebih sempurna dari saat ini, kemudian menganggap kondisi saat ini adalah seburuk-buruknya kondisi. Padahal kalau dipikir-pikir, perubahannya tidak sedrastis itu.

Apapun penyebabnya, perubahan dalam hidup memang bukan sesuatu yang mudah untuk dihadapi. Kita selalu tertekan dengan ekspektasi yang berasal dari diri kita sendiri, lalu merasa hidup ini tidak adil.

Sudahlah, yakin saja bahwa hal-hal ini terjadi pastilah karena Tuhan merasa kamu sudah cukup dewasa untuk menghadapinya. Jadi tetaplah melangkah, meskipun langkah pertama memang selalu tidak mudah.

Dan terahir, untuk semuanya saja. Jika menjadi dewasa berarti tidak boleh banyak tertawa karena harus menjaga wibawa. Jika menjadi dewasa harus meredam hasrat bermain-main serta mengubur imajinasi, maka aku lebih memilih hidup menjadi kanak-kanak dan dianggap kekanak-kanakan, dari pada menjadi dewasa dan kehilangan kewarasan dalam hidup.