Topik tentang anak pertama pasti sudah sering kalian dengar, tentang bagaimana sulitnya atau pun bahagianya. Namun, selain anak pertama, menjadi cucu pertama mungkin mempunyai kedudukan yang hampir sama berat seperti anak pertama, kalian pasti setuju kan?.

Hmmm… bagaimana jadinya ya kalau dua kedudukan yang berat ini diemban oleh satu orang? Pasti akan jadi kolaborasi yang sangat epik. Apakah kalian salah satunya? Jika iya, tulisan ini sangat cocok sekali untuk kalian baca supaya kalian nggak merasa sendirian lagi.

Cucu Pertama sekaligus anak pertama mungkin adalah manusia yang paling dinanti-nantikan kehadirannya seperti hadiah utama doorprize oleh keluarga besar. Ia bagaikan anugerah yang tuhan beri untuk menambah kebahagiaan di dalam keluarga.

Kalau ditanya, enak nggak sih, jadi cucu pertama sekaligus anak pertama? Jawabannya, ya, enak banget! Karena semua perhatian dan kasih sayang dari anggota keluarga pasti langsung tertuju padanya. Apalagi saat masih kecil, hampir semua keinginannya dituruti.

Kakek dan nenek pun tak habis-habisnya memperlakukan cucu pertama ini seperti pangeran atau putri raja, ia juga sosok yang biasanya paling dekat dengan kakek dan nenek karena semasa ia kecil sering dititipkan saat kedua orang tuanya bekerja.

Sebagai anak pertama pun begitu, dibanjiri oleh fasilitas. Walaupun barang yang kita miliki harus dibagi dengan adik sih. Barang-barang yang dimiliki juga pasti baru, bukan bekas saudara yang lain. Selain itu, sebagai anak pertama, akan diberikan kepercayaan oleh orang tua, karena dianggap yang paling dewasa.

Akan tetapi, menjadi cucu dan anak pertama tidak selamanya enak loh. Ia adalah penerus pertama yang pastinya menjadi harapan pertama dari keluarga besar untuk menjadi orang yang sukses. Ditambah lagi om dan tante yang menjadikannya sebagai tolok ukur dan contoh untuk anak-anak mereka.

Prestasi belajar mulai SD, SMP, SMA, hingga kuliah pun menjadi perbincangan yang asyik untuk keluarga besar. Tak jarang terdengar berbagai pujian atas prestasi belajar yang mereka miliki. “Nanti belajar yang rajin ya, biar pintar seperti kakak,” kata om dan tante pada anak mereka.

Mulai dari dokter, polisi, pilot, PNS, dan profesi-profesi lain yang terlihat keren tak jarang diharapkan oleh keluarga besar. Banyak pula rekomendasi-rekomendasi tentang pendidikan lanjutan yang mungkin tak sesuai dengan passion diajukan oleh keluarga besar untuk sang cucu dan anak pertama ini.

Bukan hanya tentang masa depan sih, perilaku cucu dan anak pertama pun menjadi sorotan keluarga besar. Kata mereka, kakak itu harus bisa memberi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Tentu saja hal ini membuat ia menjadi tidak bebas dalam melakukan segala sesuatu.

Sebagai cucu dan anak pertama itu bagaikan sampul buku yang dapat membuat pembaca menilai mentah-mentah isi buku tersebut. Walaupun kita nggak boleh sih judge a book by its cover, tetapi yang namanya pikiran masing-masing orang tidak pernah bisa kita kendalikan.

Ketakutan dan overthinking akan masa depan pun sering kali menghampiri si pemilik kedudukan ganda ini. Banyaknya harapan dari keluarga besar yang disematkan kepadanya, secara tidak langsung malah membuat ia takut dengan masa depan itu sendiri.

Narasi-narasi negatif yang selalu berputar di otaknya seperti bagaimana jika aku tidak berhasil, bagaimana jika aku tidak dapat memenuhi harapan mereka, bagaimana jika aku tidak bisa menjadi panutan bagi adik-adik, dan narasi sejenis yang membuatnya overthinking terhadap masa depan.

Tidak berhenti sampai disitu, ketika overthinking melanda sebagai cucu dan anak pertama ia akan merasa bingung ingin bercerita dengan siapa. Adik-adik yang masih kecil tak mungkin dijadikan tempat berkeluh kesah olehnya. 'Sering memendam perasaan' itu sih ungkapan yang tepat untuknya.

Namun, sebenarnya jika harapan-harapan itu diiringi dengan support keluarga tanpa adanya tekanan dan paksaan dapat menjadi pemacu semangat si cucu dan anak pertama ini untuk menjadi berhasil dan menjadi panutan untuk adik-adiknya. Hal ini tergantung tipe dan pola asuh yang dimiliki oleh keluarga besar.

Lantas apakah seberat itu menjadi cucu dan anak pertama? Sebenarnya menjadi cucu dan anak pertama tak seberat dan seburuk itu kok. Menjadi anak dan cucu urutan berapa pun pasti memiliki kebahagiaan dan kesedihannya tersendiri yang pastinya tak dapat dirasakan oleh si cucu dan anak pertama.

Teruntuk cucu dan anak pertama yang sedang membaca tulisan ini, mungkin kata semangat sudah membosankan di telinga kalian, tetapi yang harus kalian tau, seluruh anggota keluarga besar sangat menyayangi kalian. 

Harapan-harapan yang disematkan kepada kalian adalah representasi dari rasa sayang dan bangganya mereka memiliki kalian. Kalian itu berharga bagi seseorang semenjak kalian dilahirkan, jadi jangan pernah menyerah untuk hidup. Love yaa.