Beberapa bulan terakhir saya mencoba untuk terjun dalam dunia kreatif digital, di tengah lingkungan saya yang menganggap industri digital adalah hal yang tidak realistis.

Terlebih, mendapatkan uang dari industri digital dianggap hanya angan-angan saja. Sudah lebih baik yang pasti-pasti saja jadi pegawai kantoran atau mendirikan usaha.

Saya mencoba mematahkan anggapan tersebut dengan tetap mencari celah dan  mencoba mencelupkan diri ke industri digital. Mulai membekali diri dengan belajar membuat konten dengan segala proses kreatif di dalamnya. Tidak masalah kalau pada akhirnya gagal, toh setidaknya saya jadi ada pengalaman. Itu yang awalnya saya yakini.

Awalnya saya pikir semua mudah dan lancar-lancar saja. Konten podcast yang saya garap dengan beberapa teman saya sudah mulai diisi beberapa episode, dan konten Youtube saya juga sudah mulai produksi.

Tapi ketika sudah dijalankan ternyata tidak pernah semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Untuk menciptakan konten yang berkualitas harus disertai niat, bukan hanya iseng, seperti saya.

Seiring dengan hasil yang terlihat dan sedikitnya audiens yang datang, akhirnya saya menyadari bahwa konten saya jauh dari kata sempurna. Ada satu dua orang yang mengunjungi konten saya saja sudah bersyukur. Mereka dengan berbaik hati rela menggunakan waktu dan inderanya untuk hal yang saya sendiri tidak bisa menikmatinya.

Pada akhirnya saya berpikir bahwa untuk menciptakan konten yang berkualitas, niat saja tidak cukup, ada pengetahuan juga yang harus dimiliki. Setidaknya sebagai content creator, siapapun itu, harus rela investasi pada pengetahuan, skill, dan waktu untuk menguasai proses yang ada pada tiga tahapan ini:

Pra-produksi, adalah tahapan persiapan sebelum memulai produksi konten. Pada tahapan ini, seorang content creator setidaknya harus menyiapkan dua hal. Pertama adalah merumuskan topik apa yang ingin diangkat, dan yang kedua adalah penulisan skrip. Jangan seperti konten saya sebelumnya yang sekadar eksekusi tanpa mempunyai skrip. Blass ngawur!

Sebenanya penulisan skrip ini memudahkan seorang content creator ketika memproduksi sebuah karya digital. Dengan adanya skrip, content creator akan lebih mudah dalam memberikan arahan tentang apa yang harus dilakukan dan langkah setelahnya ketika proses produksi.

Dalam pembuatan video, skrip berguna untuk memudahkan videografer dan aktor dalam membangun sebuah cerita dan membuat tampilan visual menjadi menarik. Untuk video, skrip yang digunakan biasanya berisi dialog, latar tempat dan suasana, transisi, angle kamera, shot yang dipakai, sampai kepada pergerakan kamera.

Sama halnya dengan podcast, walaupun terlihat sederhana nyatanya tetap membutuhkan skrip juga. Anggapan bahwa biasa ngobrol di tongkrongan lantas membuat obrolan podcast jadi menarik adalah anggapan yang keliru. Saya sudah pernah mengalaminya, hasilnya hanya akan membuat pembicaraan jadi tidak terarah dan bingung selanjutnya mau ngomong apa.

Skrip podcast yang saya gunakan biasanya berisi tentang narasi dari topik yang dibawa, daftar pertanyaan, serta poin jawaban pembicara yang semuanya disusun dalam satu alur. Namun bisa jadi beda kalau podcast yang sifatnya monolog, bisa ditulis secara lengkap semua yang ingin dibicarakan.

Penulisan skrip masing-masing orang pun biasanya berbeda-beda, namun tujuannya tetap sama yaitu untuk membantu dalam proses produksi karya digital supaya menjadi terarah.

Produksi, adalah tahapan di mana karya digital dibuat. Dari tahapan lainnya, bisa dibilang tahapan ini adalah tahapan yang paling menentukan kualitas karya digital yang akan dihasilkan. Skill, pengalaman, dan alat yang digunakan menentukan kualitas karya digital yang diproduksi.

Sebelumnya dalam pembuatan podcast, saya mengira bahwa hanya dengan ngomong ngalor ngidul, direkam, lalu ditambah backsound bisa sudah selesai. Ya memang selesai, tapi tidak menjadikan konten yang dibawa itu menarik dan layak dinikmati. Nyatanya, membuat konten yang berkualitas tidak sesederhana itu.

Saya tersadar bahwa bagaimana kemampuan pembicara dalam berkomunikasi juga menjadi penting. Seperti kemampuan untuk membawa suasana, penyampaian maksud, intonasi, improvisasi, serta materi yang disiapkan. Tidak boleh ketinggalan juga dengan peralatan pendukung seperti kualitas microphone, alat perekam, dan kondisi ruangan yang harus diperhatikan.

Begitu juga halnya dengan pembuatan video yang menurut saya lebih kompleks. Bagaimana kemampuan videogapher dalam mengatur komposisi gambar dan exposure cahaya. Serta menentukan jenis shot, angle camera, dan pergerakan kamera yang akan mempengaruhi kualitas visual dari sebuah video. Juga peralatan pendukungnya seperti jenis kamera, tripod, stabilizer, dan external mic.

Apakah produksi konten digital harus dengan peralatan yang lengkap dan mahal? Menurut hemat saya, prinsip ada harga ada kualitas tetap berlaku di sini. Tapi bukan berarti pembuatan konten digital dengan peralatan seadanya dan harga yang terjangkau sama sekali tidak bisa dilakukan. Dengan peralatan seadanya tentu harus didukung dengan skill yang mumpuni juga untuk menghasilkan hasil yang lumayan bagus.

Pasca-produksi, adalah tahapan terakhir yang akan menentukan bagaimana kemasan sebuah karya digital. Tahapan ini umumnya hanya terdapat proses editing, yang meliputi editing gambar dan editing suara. Walaupun pada proses editing seolah semua tampak bisa dilakukan, tapi bukan berarti mengesampingkan kedua tahapan sebelumnya.

Editing sebagus apapun kalau tidak didukung dengan hasil yang optimal pada proses produksi, maka kualitas yang dihasikan juga tidak akan bisa maksimal. Misalnya saja ketika pengambilan gambar di mana tingkat exposure yang diambil terlalu gelap, kemudian ingin dijadikan terang ketika proses editing. Memang bisa, namun jika dilihat lebih detail, gambar yang dicerahkan tersebut akan terlihat pecah karena dipaksakan.

Juga halnya dengan perekaman suara, jika suara ketika perekaman terlalu banyak suara ambience atau noise-nya, mau diedit bagaimanapun hasilnya tidak akan bisa maksimal. Proses editing hanya membantu untuk membuat kemasan dari karya digital terlihat menarik, bukan memaksakan hasil produksi yang tidak maksimal jadi terlihat bagus.

Maka dari itu saya mengatakan bahwa menjadi seorang content creator tidak pernah semudah yang dibayangkan. Memang dengan populernya Youtube, banyak membuat orang terjun ke dunia digital.

Namun yang bisa bertahan hanya mereka yang bisa membuat sebuah karya digital dengan kualitas yang baik. Jika kualitas sudah baik, dengan sendirinya ada orang yang datang berkunjung dan menikmati karya digital kita.

Hal penting yang terakhir adalah konsistensi. Banyak yang akhirnya gugur sebelum berkembang karena hanya mempunyai semangat di awal dan melempem ketika baru saja jalan karena tidak bisa menikmati proses. Padahal, karya yang baik tidak bisa dibuat dengan cara-cara yang instan.

Pada akhirnya, semua harus kembali kepada niat dan alasan yang mendasari seorang content creator membuat karya digital. Karena karya digital yang dihasilkan dengan niat iseng-iseng akan kalah dengan karya yang dihasilkan dengan niat yang sungguh-sungguh untuk membuat karya.