46215_86044.jpg
bild.de/lifestyle
Budaya · 4 menit baca

Menjadi Cantik dengan Berjilbab, Eksploitasi Spritualisme di Media Online

Cantik adalah bayangan bentuk fisik ideal yang merupakan hasil timbal balik dari rangsangan indrawi, yang sebenarnya telah terkonstruksi di luar subjektivitas diri seseorang. Unsur gambaran objektivitas tentang kecantikan tersebut telah terdefinisikan seturut dengan kepentingan pemberi makna terhadap kecantikan. Misalnya kalau penjual produk body lotion, cantik itu yang berkulit putih. Ia menjadi sebuah kesadaran budaya dan kadang tuntutan, tentang apa yang harus ditampilkan bagi setiap perempuan.

“Menjadi cantik adalah keberhasilan retorika industri yang mampu mengeksploitasi feminitas perempuan dan mentransformasikannya sebagai sebuah komoditas,” tulis Aryani & Yuyun dalam Budaya Populer Indonesia: Diskursus Global/Lokal dalam Budaya Populer di Indonesia (2017: 54). 

Obsesi akan kecantikan yang sebelumnya dimanifestasikan melalui iklan, tayangan televisi, film, video klip, atau karya sastra kini sedang mengalami pembentukan makna baru di dunia virtual. Bahkan, melibatkan nilai spritualisme yang cenderung mengalami eksploitasi. 

Sebagaimana dapat dilihat dari kontes kecantikan perempuan Muslimah, yaitu Muslimah Beauty (2011)Sebuah acara yang dianggap duplikasi dari ajang kecantikan Miss Word atau Miss Universe, kontestasi yang mencari perempuan-perempuan paling cantik di seluruh negara di dunia. Ya, meskipun slogan yang diusung adalah 3B (Beauty, Brain dan Behaviour), kualifikasi utama pasti penilaian fisik yang telah terstandarisasi terlebih dahulu.

Apa bedanya dengan Kontes Muslimah Beauty? Yang paling nampak pastinya semuanya berjilbab dan menulis kisah pribadinya tentang jilbab. Bagi Aryani dan Yuyun (2017), kontes tersebut tidak lebih dari sekedar perpaduan identitas muslimah dengan trend fashion dunia Barat. Sebuah pagelaran yang membuka kembali wacana tentang tubuh dan kecantikan serta diskursus gender dan agama. Sehingga, acara tersebut memang tidak benar-benar dirancang untuk menilai spritualisme perempuan muslimah.

Di sini nampak jelas bagaimana wacana terkait kecantikan kemudian dibungkus dengan nilai-nilai keagamaan. Padahal, kecantikan dan agama adalah dua hal yang berlainan. Cantik lebih merujuk pada penampilan fisik material yang cenderung bersifat sekuler, sedangkan agama adalah substansi atau nilai utamanya berpangkal pada penghayatan religiusitas.

Jika sebelumnya jilbab sering dianggap kampungan dan ketinggalan zaman, kini jilbab telah memberikan kontribusi pemaknaan baru bagi definisi cantik. Perkembangan penampilan berbagai busana muslimah yang modis telah menggoyahkan asumsi bahwa jilbab membuat perempuan jelek, justru ia akan nampak makin cantik dengan jilbab.

Hari ini, seseorang perempuan menggunakan jilbab, dia mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Selain dia bisa nampak lebih cantik dan anggun, dia juga sedang menjalankan perintah agama. Jika disebut sebelumnya bahwa Islam dan fisik adalah dua hal yang berlainan, kini kedua-duanya seakan menyatu tanpa sekat.

Sampai pada titik tertentu, ajang kontes kecantikan muslimah dan juga maraknya perempuan-perempuan jilbab keren yang berduyung-duyung nampak dipermukaan, menunjukkan bagaimana mereka memamerkan akrobat dua identitas baru mereka di kehidupan nyata dan media sosial.

Dalam diskusi yang lebih luas, jilbab bukan hanya dipahami sebagai identitas kecantikan perempuan muslimah semata, namun sering dikaitkan dengan personifikasi diri positif muslim di era kompetisi global. Sebagaimana penjelasan di sebuah portal berikut ini:

Berjilbab bukan alasan untuk tidak berprestasi, nyatanya, beberapa muslimat berjilbab tetap dapat berprestasi hingga tingkat dunia. Sebut saja Kulsoom Abdullah (37) atlet angkat berat dari Amerika Serikat ini tetap mengenakan jilbab dalam pertandingan olimpiade… sedangkan di bidang akademisi, bidang kedokteran, muncul nama Eqbal As’ad (20). Asa’d adalah seorang gadis berjibab asal Palestina yang mulai masuk pada fakultas kedokteran pada usia 14 tahun dan lulus menjadi dokter pada usia 20 tahun, di Well Cornell Medical Collage di Qatar… dengan beasiswa Pemerintah Qatar, ia tengah bersiap melanjutkan studi masternya di Ohio, AS, di bidang spesialis penyakit anak, dengan tetap berjilbab. Jadi, berjilbab tetap dapat berprestasi di tingkat dunia internasional. Asalkan dia sungguh-sungguh, tekun, dan memiliki tekad kuat untuk menggapai cita-citanya.

Tidak ada yang salah dari penulis tersebut mengungkapkan kebanggaan-kebanggannya atas prestasi gemilang para perempuan muslimah yang taat berjilbab. Pesan yang mudah dicerna adalah bagaimana perempuan berjilbab tetap bisa berkompetisi dan berprestasi di dalam bidang apa pun.

Di sisi lain, kesan yang ditampilkan atas berbagai prestasi tersebut sengaja dipaksa untuk dikait-kaitkan dengan penggunaan jilbab. Nampak sengaja dicari-cari relasi antara prestasi yang tercermin dari perempuan berjilbab, dengan beberapa tokoh dari luar negeri. Jilbab diharapkan menjadi trend setter identitas perempuan muslim yang telah menembus lintas batas berbagai kebudayaan dan pergulatan eksistensi budaya dan agama di kancah global.

Ulasan tentang identitas lain yang ingin ditampilkan jilbab bisa dicari sendiri. Bagaimana jilbab telah berusaha membongkar paradigma usang seperti menjadi penghalang perempuan berprestasi, merusak rambut, mencari pekerjaan hingga mencari jodoh. Intinya, perempuan muslim yang berjilbab itu perfect dunia akhiratnya. Dia begitu sempurna di mata manusia dan agama.          

Semua identifikasi di atas, sama halnya atau bahkan sekadar memperkuat citra kecantikan perempuan berjilbab, memiliki sumbangan penting atas gambaran bagaimana media meleburkan spritualisme dengan unsur-unsur keduniawaian hingga menjadi kapital yang berguna.

Terkadang bias media melakukan intepretasi sekaligus materialisasi unsur religiusitas sampai melampaui batas ruang tradisional yang sebelumnya hanya dipegang oleh satu orang atau kelompok saja (Ibid). Kemajuan teknologi membuka wadah demokratis bagi setiap orang dan kepentingan untuk menerjemahkan Islam melalui imitasi dan persilangan nilai terhadap budaya apa pun sekehendak hati. 

Bagaimanapun juga, Islam tetaplah Islam. Ia tetaplah agama yang senantiasa dikejar pemaknaannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Kecantikan, meskipun dibalut simbol yang mempresentasikan nilai-nilai Islam, ia tetaplah sesuatu yang lain di luar agama. Islam atau agama secara luas dapat bermanifestasi dalam beragam bentuk ekspresi yang berbeda-beda, namun perwujudan tersebut tidak selalu sama dengan agama itu sendiri. 

Konsekuensinya, ketika nilai agama terserap habis ke dalam sebuah tampilan material secara fisik yang terus-menerus dipertontonkan dan dibanggakan, nilai agama tersebut akan tereduksi hanya menjadi semacam tanda-tanda keabsahan menikmati konsumsi gaya hidup.

Dalih dakwah untuk mengajak semakin banyak perempuan berjilbab sering digunakan. Dengan rajin upload foto di media sosial mengenakan jilbab yang fashionable, dilengkapi dengan caption atau keterangan pada gambar tentang kewajiban berjilbab yang diperintahkan agama, sudah dianggap sebagai seruan dakwah untuk total mengaplikasikan Islam hingga pada aktivitas keseharian.

Dakwah di media cyber space tersebut tidak menjadi masalah sebenarnya. Sayangnya, pemaknaan terhadap Islam nampak menciut pada berpakaian dan kecantikan muslimah yang seakan-akan mencerminkan Islam kaffah. Padahal, Islam di media online tersebut merupakan luaran dari agama yang kental dalam pemaknaan berbalut fisik semata.