Menghadapi kuatnya pengaruh teknologi saat ini, arus informasi dengan sangat mudah masuk melalui berbagai media sosial. Sebagian informasi mungkin kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan karena didukung dengan bukti-bukti yang kuat.

Namun, sayangnya tidak sedikit pula informasi yang sampai kepada masyarakat, baik melalui media cetak, audio, maupun visual disajikan berdasarkan unsur ketergesaan. Hal inilah yang menjadi pemicu adanya multipersepsi antarkalangan dalam menanggapi keabsahan berita yang kadung beredar tersebut.

Tatkala masyarakat sedang asyik membicarakan berita hoaks yang memenuhi jagat maya saat ini, ada fenomena yang lebih menarik untuk diangkat ke permukaan, yakni keriuhan golongan yang menebarkan kecintaannya dengan cara mengebiri kecintaan orang lain.

Ajang saling menjatuhkan lawan dan menganggap diri sendiri paling benar seolah-olah telah menjadi budaya jelang pergantian kepemimpinan di suatu negara.

Masing-masing orang membangun kebenaran menurut tafsirannya sendiri, menggiring opini publik agar perdebatan yang belum mencapai titik temu ini makin membabi buta, yang akhirnya menimbulkan konflik bahkan sampai kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah tertentu.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk dan variasi masyarakatnya yang beragam tidak jarang memunculkan banyak polemik hangat mengenai isu-isu yang sedang beredar di sekelilingnya.

Sentimen agama sudah tidak tabu lagi dijadikan sebagai pangkal permasalahan. Agama seakan-akan dijadikan alat untuk menyebarkan kebencian secara terselubung.

Lebih parahnya lagi jika kebencian seperti ini dipelopori oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, maka akan mucul sebuah Ideologi Kebencian yang artinya, seseorang dengan mudah menjustifikasi orang lain sebagai pihak yang selalu dipersalahkan.

Apabila ideologi semacam ini terus berkembang dan tidak disikapi dengan bijaksana, maka akan sulit sekali kita merasakan suasana yang aman dan damai. Yang ada hanyalah perselisihan demi perselihan antarumat manusia yang tak kunjung reda. Miris, bukan!

Satu hal yang harus kita sadari bahwa masyarakat Indonesia nyatanya belum cukup dewasa menghadapi segala perbedaan yang hadir di tengah kemajemukan bangsa ini.

Mulai dari beredarnya istilah cebong dan kampret yang ditujukan kepada kedua paslon presiden, sampai dengan kejadian pemindahan kuburan yang telah dimakamkan selama dua puluh enam tahun di Gorontalo secara paksa hanya karena perbedaan pilihan caleg antarkeluarga.

Masyarakat Indonesia masih terlalu childish menyikapi ketidaksamaan yang menyelimuti tanah air ini. Stigma stereotip atau pelabelan pada pihak tertentu kini makin gencar dilambungkan untuk melahirkan opini-opini baru yang kemudian menenggelamkan fakta di dasar laut.

Menyikapi keberadaan teknologi yang kini berkembang dinamis seiring berjalannya waktu haruslah disikapi dengan bijaksana. Check before share harus dijadikan pedoman demi mendapatkan kualitas berita yang sebaik-baiknya.

Produk-produk teknologi seperti Facebook, Twitter, Instagram, Line, WhatsApp  yang kini menjamur bebas di ruang publik menandakan keaktifan masyarakat dalam menggunakan media sosial ini tidak bisa lagi dianggap remeh, begitu pula dengan dampak yang ditimbulkan.

Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa membenci atau bahkan sampai berujung pada kekerasan bukanlah jalan yang dibenarkan dalam menyikapi perbedaan. Kebencian akan menimbulkan kekerasan, dan kekerasan tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan agama.

Hakikat perbedaan sendiri adalah rahmat dari tuhan, dan tujuan hadirnya perbedaan adalah untuk saling mengenal satu sama lain. Sebagaimana yang terdapat dalam Alquran surat al Hujurat ayat 13 yang artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Setiap perilaku seorang Muslim harus senantiasa dihiasi dengan akhlak mulia. Akhlak mulia merupakan manifestasi dari keimanan dan ketakwaan. Kebaikan perilaku tidak hanya terperangkap dalam diri Individu semata, akan tetapi akhlak mulia itulah yang seharusnya memancarkan kemuliaan akhlak di lingkungan sosial.

Kekerasan, penindasan, dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam bukanlah bagian dari agama Islam. Ajaran yang baik tidak mungkin menjadi pemicu sebuah konflik. Kalaupun terjadi konflik, pemicunya bukan dari agama, tetapi manusia yang mengatasnamakan agama.

Oleh sebab itu, dalam rangka mewujudkan misi Rasulullah dalam menegakkan agama Islam yang rahmatan lil’alamin, narasi-narasi perdamaian dan aksi toleransi harus senantiasa berkibar dalam jiwa setiap manusia.

Di tengah kecondongan dan sikap fanatik masyarakat yang berlebih, umat muslim harus meneladani bagaimana cara dakwah Rasulullah dalam menghadapi kalangan masyarakat Jahiliyah pada saat itu.

Berikut kutipan terakhir yang dapat penulis sampaikan:

“Kita bisa saja berbeda dalam hal pendapat, agama, ras, suku, dan budaya. Kita bisa saja bukan saudara seagama, bukan saudara satu suku, satu ras, dan satu budaya. Akan tetapi fitrah kita sama, sebagai manusia yang penuh salah, dan atas dasar itulah kita bersaudara. Maka letakkan posisi manusia sebagaimana tuhan menyetarakan kita.”