Dalam prosesnya, kehidupan layaknya roller-coaster, naik dan turun yang kadang punya banyak sensasi di dalamnya. Kehidupan punya seribu cara membentuk diri kita dari yang awalnya tak tahu apa-apa menjadi  lebih sok tahu. Kehidupan ini jugalah yang akhirnya memberikan bumbu-bumbu yang beragam mulai dari yang sepele hingga yang kompleks.

Salah satu bumbu kehidupan yang menurut saya punya segmentasi unik untuk dibahas adalah menyoal menjadi biasa-biasa saja dan bukan siapa-siapa. Ya, menjadi seseorang yang luput dari jangkauan pujian dan tepukan sorak kagum orang-orang lain di sekitarnya. 

Bagi saya, orang-orang biasa yang bukan siapa-siapa ini punya populasi yang tinggi, tidak hanya di masyarakat kita namun juga dunia. Orang-orang yang hanya dikenal sebagai manusia yang bernama, yang hidup secara wajar layaknya manusia hidup. Punya sisi baik dan buruk yang kadang seimbang atau berat sebelah. Orang-orang biasa yang hidupnya bergerak di balik layar kehidupan manusia populer lainnya di bumi ini.

Banyaknya populasi manusia-manusia biasa dan bukan siapa-siapa ini adalah sebuah hukum alam yang memang ada sejak awal terbentuknya manusia di muka bumi ini. Bahkan menurut Abaraham Lincoln, “Orang yang terlihat biasa-biasa saja adalah yang terbaik di dunia. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan begitu banyak dari mereka.” 

Menjadi biasa-biasa dan bukan siapa-siapa bukanlah suatu masalah, ingat itu. Ambisi, gengsi, dan harga diri menjadi sebuah pelatuk bagi setiap manusia untuk pada akhirnya mencoba melepaskan status biasa-biasa dan bukan siapa-siapa. Akhirnya, kita mengenal para artis, pelawak, penulis hingga orang-orang terkenal lainnya di dunia ini. 

Menjadi terkenal akhirnya mengantarkan manusia-manusia versi baru tersebut ke dimensi yang sangat berbeda. Privasi yang tidak lagi utuh, waktu yang tidak lagi luang hingga yang pasti, pikiran yang tidak lagi sederhana. Menjadi tidak biasa saja punya banyak problematika yang rumit.

Baca Juga: Menjadi Manusia?

Sering kali status manusia yang biasa saja dan bukan siapa-siapa adalah simbol kepasrahan yang dianggap sebuah kegagalan. Padahal kenyataannya, banyak manusia di dunia ini yang hidup hanya sebagai manusia dengan aktivitas normal, tidak tersentuh kepopuleran hingga akhirnya menutup riwayat hidupnya dengan status biasa saja dan bukan siapa-siapa tanpa ada liputan dari stasiun TV. 

Faktanya, begitulah kehidupan kita, ada mereka yang bukan siapa-siapa dan biasa saja dan ada mereka yang dikenal banyak orang serta populer.

Bagi saya sendiri, menjadi manusia yang biasa-biasa saja dan bukan siapa-siapa nyatanya lebih menyenangkan dan lebih menenteramkan. Menjadi biasa-biasa saja dan bukan siapa-siapa membuat saya lebih leluasa untuk melakukan berbagai hal yang saya sukai tanpa harus terikat dengan pandangan orang lain.

Saya juga menemukan kedamaian dari status saya yang hanya manusia, tanpa ada pangkat atau embel-embel yang mengikutinya. Hati dan pikiran saya menjadi lebih tenang dibanding ketika saya harus memegang jabatan sebagai ketua seksi, ketua pelaksana, atau sebagai ketua divisi di ormawa kampus saya. 

Sebagai manusia yang saat ini berstatus mahasiswa,  melepas embel-embel ketua dll itu ternyata membuang rasa khawatir yang berlebih terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur, saya tidak terlalu suka diri saya dikenal secara berlebih dan dianggap sebagai orang yang memiliki kelebihan. 

Saya lebih suka orang memandang saya sebagai manusia biasa yang bukan siapa-siapa. Dari situ akan muncul rasa penerimaaan yang baik dan menjauhkan dari rasa sungkan karena merasa diri berbeda hanya karena status yang berbeda.

Namun tentu saja, menjadi biasa saja dan bukan siapa-siapa tidak berarti membuang semua potensi diri. Menjadi biasa saja dan bukan siapa-siapa adalah sebuah bentuk kemerdekaan yang membawa kedamaian. Menjadi diri kita sendiri tanpa harus menjadi orang lain.

Menjadi biasa saja dan bukan siapa-siapa adalah sebentuk kesempatan untuk mengenal diri kita lebih baik. Sebuah fase dimana kita harus menyadari bahwa kadang hidup tidak semeyakinkan yang dibayangkan. Dan yang terpenting, nothing to lose itu dampaknya luar biasa.

Tapi namanya juga hidup, selalu ada yang pro dan kontra. Pasti ada yang mempertanyakan bahwa jikalau kita terus-terusan menjadi biasa-biasa saja, maka kita tidak akan pernah maju. Benar, kita perlu hal yang luar biasa untuk maju. Perlu perjuangan ekstra untuk mencapai apa yang kita impikan. 

Namun apakah semua perjuangan yang hampir dilakukan semua manusia di bumi akan berujung sama? Berujung kesuksesan semua? Alam punya hukum seleksi yang keras. Dan tentu, akan ada yang sukses dan gagal dalam proses tersebut. Akan ada mereka yang menjadi pebisnis sukses, penulis terkenal, hingga politikus ternama. 

Dan, di sisi lain, akan ada mereka yang menjadi pebisnis yang gagal, penulis yang tidak terkenal, dan politikus yang tidak ternama. Kehidupan memang begitu adanya. Mereka-mereka yang terlempar dari angan mereka, pada akhirnya harus kembali menjadi diri mereka sendiri. Menjadi manusia biasa dan bukan siapa-siapa.

Benturan-benturan seperti itulah yang pada akhirnya dirasakan tidak sedikit manusia. Yang membuat bagi kebanyakan orang harus terus melanjutkan hidup dengan status biasa dan bukan siapa-siapa.

Maka dari itu, tidak ada yang salah ketika harus menjadi manusia yang biasa-biasa saja dan bukan siapa-siapa. Karena hal tersebut adalah kita. Kadang sebuah pertunjukan memerlukan orang-orang di balik layar untuk menyukseskan sebuah acara.

Seperti juga apa yang ditulis Sujiwo Tejo dalam buku Rahvayana 2 : Ada yang Tiada: Jangan tanya besarnya seseorang dari anaknya sendiri. Di mata keluarganya seorang ayah pasti biasa-biasa saja. Mungkin malah kerdil.