Untuk memulai pembahasan kali ini, mari kita pahami pendasarannya terlebih dahulu. “Moralitas menuntut kita untuk berbuat sesuatu yang membawa pada konsekuensi terbaik”.

Hal itu berarti seseorang akan dituntut oleh moralitasnya untuk memilih tindakan yang membawa pada kebaikan terbesar bagi dirinya maupun orang lain.

Moralitas dilihat sebagai sesuatu yang serba menuntut, untuk memberikan kontribusi bagi kepentingan bersama. Tindakan yang tidak membawa kebaikan terbesar maka akan dianggap tidak bermoral. Apakah hal tersebut dapat dibenarkan, karena jika iya maka kurang lebih kita semua gagal untuk menjadi bermoral sepenuhnya.

            Tokoh yang akan diperkenalkan kali ini adalah seorang filsuf kontemporer yang mengabdikan dirinya untuk belajar dan mengajar tentang etika dan moral, tokoh ini ialah Shelly Kagan.

Untuk menjelaskan hal ini, Kagan membagi tiga tokoh yang akan ‘berperan’ dalam memahami tentang moralitas. Tokoh pertama disebut Extremist, tokoh kedua disebut Moderate, dan ketiga disebut Minimalist.

Menurut pandangan extremist, moralitas meliputi setiap aspek dan momen dalam kehidupan kita, namun kita semua gagal untuk memenuhi standarnya. 

Maksudnya adalah setiap tindakan kita, baik itu berhubungan langsung dengan orang lain atau tidak, akan dituntut sedemikian rupa sehingga apa yang kita lakukan akan selalu terasa kurang.

Dalam perumpamaan demikian; suatu waktu saya menghabiskan uang dan waktu saya untuk bersenang-senang dan melakukan apa yang saya ingin lakukan demi menghibur diri. Namun ketika dihadapkan dengan moralitas, tindakan saya ini tidak akan memenuhi tuntutan moralitas saya.

Berdasarkan tuntutan moralitas saya, maka uang dan waktu yang saya punya akan lebih bermanfaat apabila dialihkan kepada kegiatan yang membawa pengaruh bagi orang banyak. Kita diharuskan untuk mengesampingkan segala kepentingan diri kita untuk kepentingan orang banyak.

Hal ini tentu akan sangat berat apabila seseorang harus selalu menyenangkan orang lain daripada dirinya sendiri. Maka dari itu bagi Kagan pandangan extremist ini hanya bisa dipahami namun sulit untuk dilakukan.

Tokoh yang kedua adalah moderate, yang mana bagi Kagan pandangan ini merupakan penengah antara extremist dan minimalist. Menurut pandangan moderate, ada batas untuk apa yang dituntut oleh moralitas dari kita.

Semisal begini; ada seorang anak kecil yang tenggelam berada tidak jauh dari kita. Secara moral kita dituntut untuk menyelamatkan anak tersebut namun ada dua hal yang membedakan antara tindakan yang akan diambil oleh seorang extremist dan moderate.

Hal pertama adalah agent-centered option atau opsi seorang agen, seseorang meski dituntut oleh moralitasnya untuk berbuat kebaikan namun agen memiliki opsi dengan bagaimana ia akan melaksanakan kebaikan tersebut.

Hal kedua adalah agent-centered constraint atau batasan seorang agen, yang mana seorang agen dilarang untuk melanggar kode moral dengan alasan apapun (dilarang membunuh sekalipun ada taruhan nyawa orang tidak bersalah). 

Jika extremist akan menyelamatkan anak tersebut tanpa ragu meski ia harus mengorbankan semua yang ia punya, tapi berbeda dengan seorang moderate. 

Moderate diperbolehkan untuk memilih bagaimana cara ia menyelamatkan anak tersebut sekalipun tetap ada pengorbanan kecil yang harus dilakukan karena moralitas juga menuntut pengorbanan.

Hal lain yang membedakan antara extremist dan moderate adalah soal self interest atau kepentingan diri. Pandangan moderate akan sangat mempertimbangkan kepentingan diri tersebut sehingga sering kali moderate tidak akan bisa memberikan kontribusi terbesar demi konsekuensi terbaik.

Tokoh terakhir adalah minimalist, hadir memberikan pandangan bahwa apa yang dilakukan oleh extremist dan moderate itu sudah melewati batas. Minimalist meyakini bahwa pada dasarnya pengorbanan sekecil apapun itu tidak diperlukan, justru dianggap berlebihan.

Kembali pada perumpamaan anak kecil yang tenggelam, seorang minimalist yakin kalau sebenarnya kita tidak pernah diharuskan untuk menolong anak tersebut. Apa yang menjadi pusat dari pandangan ini ialah self interest, yang mau bagaimana pun juga tidak boleh dikorbankan.

Sebenarnya apa yang ingin ditunjukkan oleh Kagan di sini adalah bagaimana moralitas menuntut sebagian dari kita untuk berkorban. Dalam perdebatan tiga tokoh ini, Kagan berada pada posisi extremist karena ia merasa bahwa extremist justru memberikan jawaban-jawaban atas kekurangan dari dua tokoh lainnya.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa moderate dan minimalist akan menolak untuk berkorban lebih banyak hanya demi tuntutan moralitas.

Namun ada kesalahpahaman yang dilihat oleh Kagan dari pandangan moderate bahwa apa yang dilakukan extremist justru hanya akan menyiksa diri sehingga tidak bisa memberikan kontribusi besar untuk waktu ke depannya. Dengan kata lain extremist seolah bunuh diri secara perlahan demi memberikan kontribusi terbesarnya.

Pemahaman itu kemudian ditepis oleh Kagan bahwa apa yang dilakukan oleh extremist bukanlah mengorbankan diri. Meski pandangan extremist mengharuskan kita untuk bisa memberikan kontribusi terbesar kita, tapi tidak berarti kita harus menyerahkan semua yang kita punya.

Memberikan kontribusi terbesar adalah mengupayakan semaksimal mungkin daya kita demi konsekuensi terbaik, jadi terlalu berkorban justru tidak akan menjadi produktif.

Moderate memiliki batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apapun, pada kasus tertentu moderate akan menolak untuk mengesampingkan alasan untuk harus mengejar kebaikan apabila batasan tersebut dilanggar.

Contohnya ketika kita diharuskan untuk membunuh satu orang tidak berdosa demi menyelamatkan dua orang lainnya. Jika dilihat menyelamatkan dua orang akan lebih baik daripada satu orang saja, tapi moderate akan menolak sama sekali untuk menyelamatkan mereka.

Akan tetapi hal tersebut berubah ketika kondisinya sangat jauh berbeda, ketika kita diharuskan membunuh satu orang demi keselamatan seratus orang lainnya. Ketika taruhannya sangat besar, maka tindakan mengesampingkan batasan dapat dibenarkan. Inilah yang disebut sebagai Pro Tanto (ada sampai batas tertentu).

Kagan meyakini bahwa terdapat harmoni dalam kehidupan seseorang ketika ia bertindak sesuai dengan sistem moral yang dianutnya, ketika pikiran dan tindakannya sesuai. 

Namun tidak cukup bagi seseorang untuk bertindak berdasarkan kode tindakannya, kode itu sendiri tidak boleh tidak dapat dibenarkan.

Jika melihat dengan apa yang terjadi pada pandangan moderate, kode tindakannya adalah dilarang melanggar batasan tapi pada situasi tertentu kode tersebut dapat dikesampingkan. Hal ini menjadi kontradiktif dengan apa yang diyakini pada awalnya.

Bagi Kagan, hidup berintegritas itu berarti hidup dengan mengejar kebaikan. Dari pandangan minimalist sudah jelas bahwa dengan tidak adanya pengorbanan maka tidak bisa mencapai integritas yang diharapkan.

Begitu pula dengan moderate yang mana pandangan ini justru memperbolehkan untuk melanggar kode tindakannya sendiri. Paling menunjukkan hidup berintegritas hanyalah extremist karena sepanjang hidupnya ia akan mengejar kebaikan dengan kontribusi besar sehingga benar secara moral.

Bahwasanya menjadi bermoral menurut Kagan adalah ketika kita terus menerus mengejar kebaikan sekalipun harus berkorban tapi dengan demikian konsekuensi terbesar bisa tercapai demi kebaikan bersama juga.

Extremist sekurangnya menunjukkan bahwa tidak ada batasan untuk mengejar kebaikan sehingga sekalipun moralitas terus-menerus menuntut kita memberi lebih, konsekuensi terbaik akan selalu menjadi prioritas tanpa harus mengorbankan diri secara berlebihan.

Daftar Pustaka

Kagan, Shelly. (1989). The Limits of Morality. New York: Oxford University Press Inc.