66369_95700.jpg
Foto: Puja Adha
Seni · 4 menit baca

Menjadi Aktor Sejati
Sebuah Refleksi

“Aku berperan, oleh sebab itu aku ada.”

Menjadi aktor bukanlah perkara yang mudah. Stanislavsky menekankan bahwa seorang aktor dituntut untuk menciptakkan keharusan meyakinkan dan membuat penonton percaya pada apa yang diperankan. Mewujudkan impian untuk menjadi aktor sejati membutuhkan ketekunan, kecintaan, kecerdasan, dan semangat untuk terus belajar memperdalam metode.

Bukan hanya metode, syarat-syarat di atas juga harus ditanamkan untuk terus melakukan pengamatan demi memahami kehidupan manusia. Musuh terbesar kita adalah malas, dan pada bentuknya adalah aktor-aktor yang secara berlebihan menganggap enteng sebuah proses penciptaan peran.

Tidak sulit menemui jenis-jenis aktor seperti ini, aktor-aktor yang kehilangan minat dan kepedulian terhadap seni peran, dan secara tenang melakukan pengembaraan tanpa tujuan yang jelas. Yang ada hanya sekadar bermain tanpa dibarengi dengan usaha penggalian lebih dalam mengenai dunia keaktoran itu sendiri. Singkatnya, mereka adalah aktor yang bukan aktor sejati.

Kenyataan bahwa menjadi aktor sejati tidak semudah yang dibayangkan belum juga menampar kesadaran kita. Dengan sifat malas itu, secara diam-diam telah membunuh potensi yang begitu luhur dalam diri kita, yang artinya aktor sebagai manusia telah membunuh seni memerankan manusia itu sendiri.

Kita harus menyadari bahwa sarana pikiran, fisik dalam teater amatlah kompleks. Dan hal itu berlaku dalam seni peran. Seni peran mengharuskan kita untuk terus mengaktifkan perangkat pikiran agar menjadi seorang pemeran yang menyadari adanya keharusan belajar untuk terus mengolah potensi yang kita miliki, mengembangkan wawasan untuk kemudian bisa melakukan pengamatan sistematis atas realitas kehidupan manusia.

Sebab seni peran adalah seni pertunjukan yang juga sekaligus seni untuk memahami seluk-beluk kehidupan manusia. Kita tidak hanya dituntut untuk memerankan, tetapi sekaligus berperan dengan menghidupkan manusia dan kemanusiaan itu sendiri di atas panggung.

Jika pemeranan adalah seni, maka upaya sebuah peran tentunya mensyaratkan pemahaman dan pengetahuan. Jika seni tanpa pemahaman dan pengetahuan, maka secara otomatis jatuhlah seni itu pada sesuatu yang liar dan buta, dan kebutaan hanya akan melahirkan kekeliruan.

Tentunya kita akan terus berupaya menghindari kekeliruan, walaupun itu sesuatu hal yang mungkin terjadi tetapi kita berusaha untuk terus memperkecil kemungkinannya. Estetika sebagai salah satu cabang filsafat adalah upaya untuk terus mempertanyakan hal-hal ikhwal tentang kesenian.

Dan hal yang paling dasar melandasi estetika adalah pengetahuan yang artinya sekaligus juga berarti pemahaman. Maka jelaslah, seni peran adalah seni yang mensyaratkan pemahaman dan pengetahuan.

Sampai di sini, jelaslah bahwa ada suatu keharusan bagi manusia pemeran untuk terus mendongkrak intelektualitasnya demi kualitas peran yang akan dimainkannya. Alam sebagai sumber utama merupakan ladang yang indah untuk memanen pengetahuan.

Selain alam, manusia pemeran dalam upaya mengembangkan wawasan juga bisa memperoleh itu dengan kegiatan membaca buku, berdiskusi dengan teman-teman dari bidang mana pun, menuliskan hasil pikiran, dan tentunya melakukan pengamatan atas seluk-beluk kehidupan manusia guna kepentingan peran itu sendiri.

Stanislavsky menerangkan bahwa ada begitu banyak sumber yang kita miliki untuk mengembangkan sebuah watak atau peran. Tergantung sejauh mana seorang manusia pemeran mau menjelajahi seluk-beluk kehidupan dan memungut mutiara-mutiara emosi manusia dengan segala bentuk perwatakannya. 

Untuk mengembangkannya, manusia pemeran bisa memulai dari dirinya sendiri. Artinya, sebuah upaya untuk memahami dirinya dalam ruang kepribadian dirinya yang intim, sehingga memungkinkan mengendalikan batiniah tokoh yang akan diperankan dari dirinya.

Baca Juga: Seni yang Elitis

Kalau manusia pemeran sudah mengenali dirinya, artinya dirinya sebagai aktor tidak akan kesulitan melakukan pengawasan kepada peran dalam dirinya melalui kontrol ketat pikiran agar tidak jatuh pada suatu peran yang salah. Seorang aktor juga bisa melakukan pengamatan dari orang lain, dari kehidupan nyata ataupun imajiner.

Sebagai seorang pemeran, tentunya kita bisa menyadari bahwa ada dualitas batiniah dalam diri kita. Batiniah kita sebagai aktor dan batiniah tokoh yang kita hidupkan. Dan di antara dualitas tersebut ada akal sehat kita sebagai penengahnya. Akal sehat sama dengan tubuh, tentunya tidak boleh sakit. Kalau sudah sakit, tentunya tidak akal sehat lagi namanya, melainkan akal sakit.

Ada banyak orang yang tubuhnya sehat, tetapi akalnya sakit. Juga sebaliknya, akalnya sehat tapi tubuhnya sakit. Untuk menjaga pikiran dan tubuh agar tetap sehat adalah suatu keharusan seorang aktor, maka latihan-latihan khusus dan serius dibutuhkan, misalnya olah tubuh, olah rasa, olah vokal, dan yang terakhir olah pikiran, agar segala perangkat tubuh dan pikiran aktor terjaga kesehatannya.

Segala upaya ini menyangkut dengan kebenaran tokoh yang akan diciptakannya. Kalau tubuh dan akal baik, maka benarlah upaya karakterisasi tokohnya. Begitu juga sebaliknya, kalau pikiran kita keliru, maka keliru pulalah proses identifikasi tokoh yang kita lakukan.

Dengan akal, memungkinkan seorang pemeran untuk melakukan pengamatan yang tajam dan sistematis tentang apa, siapa, di mana, bagaimana, dan mengapa seorang tokoh yang akan diperankan, adalah upaya selanjutnya menetapkan dan mengadaptasi si tokoh dalam perangkat batiniah pemeran, barulah kemudian ketubuhan atau pola lahiriah pemeran mungkin tercipta dengan baik.

Menjadi aktor sejati memang bukanlah perkara yang mudah. Dia merupakan kekuatan mental yang harus kita tanamkan dalam diri kita sebagai pemeran. Parameter menjadi aktor sejati bukanlah seberapa bagus kita memainkan sebuah peran, tapi menjadi aktor sejati adalah sebuah kemampuan untuk memegang prinsip bahwa tidak ada yang tidak bisa, tidak ada yang tidak indah. Sebuah prinsip untuk terus melakukan pengembaraan tanpa henti dalam dunia peran. 

Menjadi aktor sejati juga merupakan prinsip kerendahan hati, untuk kemudian menyadari pentingnya menjadi aktor yang senantiasa belajar, seorang aktor yang mengelupas kepongahan dan mental merasa bisa, benar, dan  tahu segala hal. Sebuah sikap yang sebenarnya telah membunuh ketulusan dan kejujuran seni peran itu sendiri dalam dirinya.