Bagaimana wajah-sosial generasi millenial hari ini?

Medio 2013, majalah Time menerbitkan sebuah edisi khusus yang bertajuk "The Me Me Me Generation". Dalam istilah kerennya mereka disebut dengan generasi millenial, atau, dalam bahasa yang lain mereka adalah generasi Y.

Edisi ini ditulis oleh Joel Stein, seorang jurnalis Amerika yang bekerja pada majalah Time. Ia dikenal luas berkat beberapa tulisan kontroversialnya: Warriors and Wusshes (Los Angeles Time, 2006), Who Runs a Hollywood: C'mon (Los Angeles Time, 2008), The Me Me Me Generation (Time, 2013). Pada tulisan ini, saya mencoba untuk memaparkan tulisannya yang terakhir.

Apa yang dinarasikan oleh Joel Stein tentang generasi millenial dalam edisi bukan hanya karangan belaka. Lebih dari itu, ia adalah sebuah hasil riset ilmiah yang cukup untuk membuat kita "mengelus dada". Data-data yang ditampilkan dalam edisi ini cukup banyak, tapi cukuplah saya meringkasnya.

Generasi millenial adalah mereka-mereka yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000. Ciri ciri nya mudah dikenali: mereka tidak terlalu banyak memikirkan persoalan matematis di kepalanya, berterimakasih atas kehadiran gadget, dan kelompok semacam ini rata-rata berusia 20-an (Time, 9/5/2013).

Secara historis, jika mengacu pada pembabakan generasi a la Don Tapscott (2008), perkembangan generasi ini dimulai dari era the pre-baby boom. The pre-baby boom era adalah generasi yang lahir sebelum tahun 1945. Ia dicirikan oleh situasi sosial ekstrem saat itu; Perang Dunia I (PD I) dan Perang Dunia II (PD II).

Dengan konteks sosial yang demikian, tentunya mereka pasti paham betul ideologi-ideologi dunia yang berkembang saat itu: komunisme, sosialisme, kapitalisme, liberalisme fasisme dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai generasi yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Pasca perang Dunia II (1946-1964), dengan mandegnya perang antar-negara, tatanan institusi ekonomi yang mulai membaik, kesejahteraan negara-negara dunia yang semakin meningkat, kondisi ini berimplikasi pada tingkat kelahiran (mortalitas). Angka angka kelahiran di berbagai negara menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada titik ini, Tapscott menamainya dengan era the baby boom.

Generasi pada tahap ini, ditandai oleh suatu sikap idealisme yang tinggi serta meningkatnya kesadaran partisipasi dan emansipasi. Revolusi mahasiswa di Amerika Serikat (AS), gerakan emansipasi perempuan, revolusi buruh telah menjadi bukti idealisme serta perjuangan versi mereka kala itu.

Serbuan budaya pop (popular culture) yang menjalar keseluruh penjuru dunia pada era 1965 hingga 1979 memengaruhi karakter generasi periode ini. Hadirnya produk budaya layar seperti MTV dan musik pop membuat generasi periode ini hanya sebagai generasi penikmat budaya massa, budaya yang diproduksi dan direproduksi demi kepentingan kapital. Generasi ini, bagi Tapscsott adalah generasi the baby bust.

Dan yang terakhir, this is our generation, inilah generasi kita sekarang, generasi millenial.

Revolusi digital yang dipacu oleh perkembangan teknologi informasi, dengan hadirnya gadget menyebabkan generasi milenial menjadi pribadi yang angkuh, anti-sosial, dan cenderung narsis. Stein mencatat bahwa generasi periode ini memiliki tingkat narsisme tiga kali lipat lebih tinggi ketimbang generasi yang lahir pada 1982.

Dengan jumlah yang mencapai lebih dari 80 juta jiwa di AS, telah menunjukkan bahwa angka ini adalah angka terbesar sepanjang sejarah mereka. Meski berbeda di tiap-tiap negara, sebagai akibat globalisasi, media sosial, pengaruh budaya Barat dan perubahan sosial yang terjadi secara cepat, kecenderungan generasi ini adalah sama di tiap-tiap negara di dunia.

Milenial berinteraksi sepanjang hari, tetapi hampir seluruhnya melalui ponsel mereka. Kita pasti sering menjumpai keadaan yang demikian di kedai kopi. Mereka mungkin terlihat tenang, tapi mereka sangat cemas tentang kehilangan sesuatu yang lebih baik. Tujuh puluh persen dari mereka memeriksa ponsel setiap jam, dan banyak pengalaman membuktikan bahwa mereka mengindap sindrom getaran-saku (Time, 9/5/2013).

Meski demikian, pada opini itu, Stein menunjukkan optimisme terhadap tingkah laku generasi millenial. Bagi Stein, internet yang ketika pada zaman dahulu hanya milik orang-orang kaya, kini tidak lagi. Ia bisa diakses dan dinikmati oleh siapapun, kapanpun. Ia memberikan akses informasi yang tak terbatas.

Pada akhir opininya, kebesaran sebuah generasi tidak ditentukan dengan data-data; akan tetapi ditentukan oleh bagaimana mereka bereaksi terhadap tantangan yang menimpa mereka. Dan, sama pentingnya, oleh bagaimana kita bereaksi terhadap mereka, begitulan kata Stein.

Realitas Politik Kita Hari Ini

Sebagai orang awam, saya melihat bahwa kondisi perpolitikan di tanah air menunjukkan perkembangan positif. Semakin banyaknya "orang-orang baik" yang masuk politik, telah menunjukkan betapa proses seleksi alam (natural selection) sedang berjalan dalam perpolitikan kita. Seleksi alam hanya akan memilih mereka-mereka yang kapabel untuk menjadi pemimpin dalam institusi publik.

Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat remah-remah “orang-orang jahat” yang masuk politik (dengan studi kasus beberapa kejahatan politik); saya percaya bahwa pada suatu titik ideal, mereka akan hilang seiring trauma publik memilih pemimpin publik yang keliru.

Sejalan dengan Stein, kepada para pemuda di seluruh penjuru negeri, saya hanya berpesan satu hal; gunakanlah smartphone Anda secara bijak. Daripada mengumbar aktivitas privat di media sosial, sekali gunakanlah waktu bermain smartphone itu untuk hal-hal yang lebih berguna. Ikuti perkembangan politik hari ini, amati latarbelakang serta track record pejabat publik. Bagi Andi Mallarangeng, use your time wiselyIt’s make you deeper and and more profound as a person.

Jangan terlalu membuang banyak waktu percuma.  Jika seluruh generasi millenial di Indonesia melakukan hal yang serupa -memanfaatkan smartphonenya agar lebih melek politik dan menggunakan dasar informasi yang mereka peroleh sebagai landasan dalam memilih- saya yakin bahwa politik Indonesia akan penuh dengan “orang-orang” baik.

Dengan bekal informasi politik yang cukup, kita akan lebih waswas dalam memilih orang-orang yang terjun pada konstelasi politik di kemudian hari. Kita akan menjadi lebih objektif dalam memberikan suara kepada mereka. Jika bekal sudah tercukupi, apa alasan terbaik untuk berkata “tidak” pada politik?

Referensi

Steil, John. (2013, Mei 20). Millennials: The Me Me Me Generation. Retrieved from time.com

http://time.com/247/millennials-the-me-me-me-generation/

Tampsott, Don. 2008. Grown Up Digital: How The Net Generation Is Changing The World. United States: McGraw-Hill.

Mallarangeng, Rizal. 2014. Inferno: Neraka di Bumi, Betulkah? Jakarta: Freedom Institute.

#LombaEsaiPolitik