"Perempuan berjilbab belum tentu baik, tapi semua perempuan baik pasti berjilbab," ujar seorang teman. Seketika saya ingin melepas jilbab di hadapannya.

Eh, tapi kan saya bukan termasuk perempuan baik menurut dia karena termasuk muslimah yang suka mengucapkan selamat natal, menganggap suami sebagai partner setara bukan pemimpin di keluarga, dan tak berhijab syari. Auto kafir. Untung saya selalu mengucap syahadat setiap hari.

Pernyataan ini tidak sekali dua kali saya dengar dari orang lain. Atau jangan-jangan saya pernah mengucapkannya tanpa sadar dulu dan sekarang sudah mulai jadi orang ‘munafik’?

Semua orang-orang di agama saya pasti sepakat menganggap Islam adalah paling unggul dibanding agama lain. Tak ada agama yang sesempurna Islam. Sebaik apa pun orang kalau dia kafir tak akan masuk surga. Karena menurut Gilang Kazuya, semua bayi yang terlahir di dunia ini secara fitrah beragama Islam. Salah sendiri mau menjadi kafir dan tak mencari agama yang benar.

Budhe saya di WAG keluarga besar mengopi-paste sebaran yang menganalogikan Islam sebagai universitas. Sebaik apa pun orang itu kalau tak Islam tak akan masuk surga. Alasannya, sepintar apa pun, serajin apa pun, orang itu kalau tak terdaftar di kampus tersebut, ya tidak akan lulus dan mendapatkan ijazah.

Lantas saya menjawab kopian itu dengan seloroh. "Tapi kan ada gelar honoris causa, asal punya jasa bagi masyarakat banyak atau hanya sekadar alasan politis dengan petinggi kampus, orang itu juga bisa mendapat gelar doktor dari kampus yang ga pernah dia daftar."

Sepupu saya langsung japri. "Hush, ga pareng nyemoni wong tuwek (tidak elok membantah orang tua)."

Intinya, kami orang Islam adalah yang paling unggul dibanding yang lain. Ketika ada orang dengan atribut keagamaan kami melakukan sesuatu yang buruk, itu hanya oknum. Jangan salahkan agamanya, jangan salahkan jilbabnya, jangan salahkan anu-anunya.

Tapi kalau semua yang tak pakai atribut keagamaan, misalnya mbak-mbak pakai rok mini dan baju you can see itu pasti perempuan yang ga bener. Kalau ada yang baik, paling cuma satu dua, yang bener cuma oknum.

Jangan melihat seseuatu dengan imparsial. Sebaiknya tidak menilai orang dari atributnya. Oh tentu saja, pandangan ini tidak boleh ada di pikiran kami. "Kami selalu benar," kata sebagian orang muslim.

See, inilah kami, orang-orang yang meyakini bahwa keyakinannya yang paling benar. Dengan pemikiran ini, kami yakin pemeluk agama lain juga mempunyai pemikiran yang sama atas keyakinannya. Tapi hanya kami yang boleh mengucapkannya di depan publik.

Sementara minoritas-minoritas itu harusnya tahu diri. Ucapkan dan yakini itu hanya di kelompoknya saja. Dengan membiarkan mereka tetap ada, tak menganggu aktivitas mereka, itulah cara kami menyayangi pihak minoritas.

Bila dianalogikan sebagai hubungan pertemanan, kasih sayang kami kepada pemeluk agama lain seperti pernyataan, “Aku menyayangimu dengan cara tak memukulimu, tak mengganggumu. Kalau tak sayang, kamu pasti sudah mati,” apakah itu arti sayang yang sebenarnya?

Jadi memang benar Joshua seharusnya tak patut mengucap seperti ini: "Itu terbukti zaman dulu, semua mata lelaki, tertuju pada Annisa, Annisa, Annisa, padahal skill-nya Ani ya tipis-tipis, dance tipis-tipis, cantik relatif, gue mikir, kenapa Annisa lebih unggul dari Cherly, makanya Che, Islam." karena dia kelompok minoritas, kafir.

Pernyataan itu hanya boleh diucapkan oleh muslim karena memang Islam merupakan agama yang paling unggul dibanding yang lain, paling benar, dan paling paling yang lain.

Muslimah seperti Annisa yang alhamdulilah sekarang sudah berhijrah dengan hijabnya, semoga istiqomah dan semoga semakin lebar kerudungnya, jelas lebih baik daripada Cherly. Kecuali kalau Cherly mau jadi mualaf dan menjelek-jelekkan agama lamanya layaknya para mualaf yang kami puja-puja.

Lihat, sungguh betapa banalnya kami.