Istilah meritokrasi lahir pertama kali diperkenalkan oleh Michael Young pada 1958 dalam bukunya, Rise of the Meritocracy. Dalam definisi praktisnya, meritokrasi atau sistem merit adalah proses promosi dan rekruitmen pejabat pemerintahan berdasarkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas, bukan berdasarkan koneksi politis atau bahasa umumnya orang dalam. Salah satu negara yang menerapkan meritokrasi yang sukses adalah Singapura dan China ,Bagaimana kisahnya ?

Pada tahun 1974 , Konferensi Pangan Dunia pertama diselerenggakan di Roma, Italia. Dan kepada delegasi disajikan gambaran kelaparan dibeberapa negara, salah satunya di China. Mereka diberitahu bahwa tidak mungkin bagi China untuk memberi makan 1 Miliar penduduknya. 

Tapi siapa sangka China mengalami keajaiban ekonomi dan berhasil mengeluarkan 850 juta penduduknya dari garis kemiskinan ,dalam kurun waktu 40 tahun dan menjadi tonggak sejarah besar karena menghapus total 70 persen kemiskinan dari seluruh dunia. 

Faktor yang menjadi keberhasilan China dalam mengeluarkan 850 juta penduduknya dari garis kemiskinan selain program keterbukaan ekonomi adalah pemilihan pejabat publik yang Meritokrasi .Meritokrasi dalam tradisi Tiongkok ini yang dikembangkan oleh Partai Komunis Tiongkok untuk sistem seleksi pejabat publik. Proses ini dimulai pada saat Jiang Zhemin tahun 1990 melakukan reformasi Partai Komunis Tiongkok.

Beberapa kriteria dasar untuk menilai pejabat Partai dan pemerintah meliputi loyalitas, moralitas, pengetahuan, kemampuan, kepemimpinan, dan gaya kerja. Ketika memilih pejabat, prioritas harus diberikan kepada mereka yang memiliki pengalaman kerja lapangan, berani mengambil tanggung jawab, dan mahir mengambil tindakan dan tingkat pendidikan yang pernah dicapai.


lklk

sumber : Journal of Contemporary China

Indikasi betapa terdidiknya mereka terlihat jelas dari tingkat pendidikan para gubernur provinsi (diluar autonomous/special admintrative region). Dari 23 provinsi di China Daratan, ke 23 gubernurnya adalah Ph.D. Selain bergelar Ph.D ,mereka juga lulusan terbaik dari universitas-universitas terbaik di China seperti dari Universitas Xinghua yang banyak mengisi kursi pemerintahan. Hal itulah yang membuat pengambilan kebijakan atau pembuatan undang-undang di China bisa tepat sasaran.

Selain meritokrasi , China juga menerapkan pragmatisme. Definisi pragmatisme telah diberikan oleh pemimpin China Deng Xiaoping ketika dia mengatakan tidak masalah kucing itu hitam atau kucing putih selama bisa menangkap tikus. Contoh pragmatisme China adalah banyaknya produk mereka yang menjiplak.

Selain China ,Singapura pun menerapkan hal yang kurang lebih sama. Singapura memiliki tiga pemimpin yang luar biasa: Lee Kuan Yew, Goh Keng Swee dan Rajaratnam. Tidak ada negara yang meningkatkan standar hidup rakyatnya secepat dan sekomprehensif yang dilakukan Singapura dalam 50 tahun pertama.

Dan rahasianya ditangkap dalam akronim –MPH – yang merupakan singkatan dari tiga kata. M untuk Meritokrasi: salah satu alasan mengapa Singapura sangat sukses adalah karena para pemimpinnya berusaha mendapatkan orang-orang terbaik untuk bergabung dengan mereka dalam pemerintahan, sehingga kualitas pikiran para pemimpin penting, tetapi kualitas pikiran orang-orang di sekitarnya mereka sama pentingnya.

Sebagaimana contoh Singapura menerapkan tes kompetitif untuk memastikan bahwa hanya siswa terbaik yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Para penerima beasiswa ini diharapkan dapat mendaftar dan diterima di universitas-universitas top dunia, dan diharapkan dapat mempertahankan statusnya dan lulus dengan nilai tertinggi di kelasnya. Akibatnya, siswa Singapura dengan kinerja terbaik mendapatkan bagian penerimaan yang tidak proporsional ke universitas berperingkat tinggi, termasuk Stanford, Harvard, Columbia, dan Berkeley.

Negara yang paling banyak mengirimkan siswanya non-Inggris ke Oxford dan Cambridge, tentu saja adalah Cina, negara terpadat di dunia dengan 1,4 miliar orang. Hebatnya lagi, jumlah terbesar kedua datang dari Singapura yang berpenduduk 3,4 juta orang. Dan ketika siswa yang didanai pemerintah lulus, mereka diharapkan bekerja untuk pemerintah selama lima sampai delapan tahun.

Huruf kedua, P, singkatan dari pragmatisme: Singapura sejauh ini adalah negara paling pragmatis di dunia. Ia akan mencoba apa saja tanpa berpikir apakah ini akan sesuai dengan ideologinya. Huruf ketiga adalah yang paling sulit dan itulah sebabnya sebagian besar negara gagal: itu berarti kejujuran. Secara kebetulan sejarah kami memiliki tiga pemimpin brilian yang juga sangat jujur, bahkan ketika Singapura adalah negara yang sangat miskin dan gajinya sangat rendah. 

Lalu bagaimana dengan Indonesia ?. Indonesia sendiri pernah menerapkan meritokrasi ketika Ir. Juanda, yang mengangkat menteri-menterinya berdasarkan keahlian mereka. Sebelum Juanda, Kabinet Sjahrir juga menerapkan sistem meritokrasi. Selain Sutan Sjahrir yang menjadi perdana menteri, dalam kabinet ada pula Agus Salim, Natsir, Amir Sjarifuddin, Mohammad Roem, dan Johanes Leimena. Meski telah menerapkan merit system, namun kabinet ini hanya bertahan kurang dari dua tahun.

Meritokrasi menjadi sangat penting, dengan memilih putra-putri terbaik untuk bekerja di pemerintahan maka kebijakan-kebijakan konyol bin aneh bisa diminimalisir sehingga dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan yang efisien, tepat, cepat seperti di China dan Singapura.