Akibat pandemi global Covid-19 yang membuat panik manusia di seluruh dunia tak lantas memunculkan argumen refleksi teologis terhadap wabah ini. Refleksi teologis itu berupa refleksi agama yang tanpa dibarengi dengan relevansi atas situasi saat ini. 

Beberapa refleksi itu menggambarkan kekuatan iman seseorang mampu untuk memerangi wabah penyakit tanpa menaruh kepercayaan sedikit pun kepada science.

Melihat realitas di atas, tampak seolah-olah antara ilmu pengetahuan dan Agama sangat bertentangan. Hal ini merupakan sebuah perdebatan klasik antara kemampuan dan bakat-bakat kodrati manusia (humanisme) dan nilai dan norma dari wahyu ilahi (Agama), antara dunia sini dan dunia sana. Perdebatan inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Terlebih dahulu akan dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana tentang apakah humanisme itu? Humanisme adalah sebuah paham yang menitikberatkan pada manusia, kemampuan-kemampuan manusia, dan akal budi manusia. 

Manusia dengan kemampuan berpikir serta bakat kodratinya yang menjadikan manusia itu sebagai manusia, ini kemudian disebut sebagai kemanusiaan universal.

Kita akan sedikit memulai topik pembahasan tentang humanisme dengan berangkat jauh pada masa Yunani kuno. Perkembangan humanisme berawal dari sistem pendidikan bangsa Yunani, paidea, yang mengelola bakat-bakat kodrati manusia, dengan sebuah anggapan bahwa manusia adalah Animal Rasionale.

Perkembangan humanisme di Yunani pada waktu itu meletakkan sebuah dasar humanisme universal. Anggapan-anggapan partikular tentang kemanusiaan dianggap mempersempit makna tentang humanisme. Nilai-nilai religius yang memandang manusia adalah manusia hanya ketika ia bersesuaian dengan nilai religius yang dimaksud itulah yang tidak bisa diterima humanisme.

Para leluhur barat itu, dalam mengasah kemampuan berpikir dan bakat-bakat manusia, tidak mendapatkan sebuah tekanan religius yang absolut seperti pada abad pertengahan. Barulah pada zaman Renaisans humanisme kritis dimulai sekitaran abad 14 sampai 16 dan memuncak pada humanisme Pencerahan Eropa abad 18 dengan semboyan Sapere Aude atau beranilah berpikir secara mandiri.

Humanisme pada zaman Renaisans dimulai dengan pencarian manusia atas kemanusiaannya dengan memberikan tafsir-tafsir rasional secara mandiri yang selama abad pertengahan, tafsir kebenaran dimonopoli oleh Agama dan Negara.

Kombinasi keduanya melahirkan  tafsir religius-politis, sebagaimana yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia, monopoli tafsir kebenaran oleh agama dan negara pada abad pertengahan akhirnya mendominasi masyarakat, sehingga manusia dan kemanusiaannya teralienasi dari dunianya yang asli.

Inilah yang coba dilawan gerakan humanis zaman Renaisans dengan perlawanan terhadap dogma-dogma agama yang dianggap selama ini sebagai penghambat peradaban manusia dan menghalangi kegiatan berpikir rasional manusia.

Sebagaimana diketahui, bangkitnya tradisi intelektual Yunani pada zaman Renaisans yang dimulai di Italia dan kemudian menyebar diseluruh eropa, merupakan pendorong lahirnya humanisme.

Kaum humanis pada waktu itu tidak lagi memakai pendekatan religius seperti halnya abad pertengahan, tetapi memulainya dengan pendekatan kritis dan rasional terhadap wahyu ilahi. 

Mereka mempertanyakan kebenaran agama yang selama ini dianggap sebagai yang absolut dengan pendekatan-pendekatan ilmiah. Kemampuan alamiah manusia untuk berpikir sontak melengserkan klaim-klaim kebenaran akan agama.

Hal itu beralasan manakala doktrin keselamatan yang dibawa agama berubah menjadi alat kontrol atas kegiatan alamiah manusia dan kebebasan individu, dan melahirkan anggapan tentang yang penting tidak lagi manusia, melainkan agama.

Sebagaimana sudah disinggung terlebih dahulu, humanisme kemudian memuncak pada era Aufklarung atau Pencerahan Eropa abad 18. Perkembangan pesat ilmu pengetahuan pada abad 18 telah banyak mencerahkan manusia pada zaman itu. 

Perdebatan-perdebatan ilmu pengetahuan dan filsafat telah melahirkan sintesa-sintesa baru yang sampai saat ini kita rasakan. Debat antara rasionalisme dan empirisme pada abad itu memberi sumbangsih pendekatan ilmiah saat ini.

Manusia berhasil meletakkan kemanusiaan yang universal dan penghargaan atas kemampuan berpikir dan bakat-bakat individu. Ilmu pengetahuan pada saat itu telah melahirkan kemampuan manusia dalam berinovasi, mengembangkan teknologi industri sederhana, dan berkelanjutan hingga lahirnya revolusi industri.

Keberhasilan manusia ini bukan tidak mendapat kritikan, terlebih ketika abad 20 yang kemudian memunculkan keraguan atas pencerahan humanisme yang telah melahirkan bencana kemanusiaan. 

Sebagaimana pemikir utama postmodernisme, Jean Francois Lyotard, yang menganggap Grandnarative yang didalamnya juga termasuk humanisme telah runtuh dan tidak mendapatkan kepercayaan akibat telah membawa bencana kemanusiaan pada abad 20. Humanisme telah melahirkan kolonialisme di luar Eropa, dan kediktatoran rezim totaliter nazi Jerman dan komunisme Uni Soviet.

Alasan Rasional Para Humanis Ateistik

“Tuhan adalah angan-angan manusia” itulah argumen fenomenal Ludwig Feurbach pada abad 19. Feurbach membantah tesis umum bahwa Tuhan menciptakan manusia, ia membaliknya menjadi Tuhan tidak lain hanyalah sebuah hasil konstruksi pikiran manusia, ia berada dalam pikiran manusia. Feurbach beranggapan bahwa manusia menciptakan tuhan menurut citranya.

Menurut Feurbach, lukisan-lukisan kita tentang Tuhan dan keyakinan kita kepadanya, tidak lain adalah lukisan-lukisan dan keyakinan-keyakinan kepada sosok manusia yang terasing. 

Anggapan tentang api neraka sebenarnya hampa, karena kita hanya memproyeksikan angan-angan dan di idealkan sedemikian rupa sehingga terkesan sempurna di luar pikiran kita. Semakin Tuhan menjadi tema dalam pikiran, semakin nyatalah Dia dalam kesadaran manusia.

“Agama adalah candu masyarakat” demikian kata seorang filsuf modern yang fenomenal yaitu Karl Marx pada abad 19. Marx bukan tanpa alasan beranggapan demikian, selain pendekatan materialismenya, Marx menganggap agama menyembunyikan sebuah penindasan sistematis dari borjuasi terhadap proletar lewat mekanisme proses produksi kapitalisme. 

Agama menurut Marx menawarkan kesadaran palsu, agama hadir sebagai pemberi harapan untuk kelas proletar dan demikian membuat kelas proletar terdepolitisasi dan menghilangkan jiwa revolusioner proletaraiat.

Menurut Marx, sifat agama yang demikian itulah yang menjadi dasar Marx menganggap agama sebagai candu masyarakat. Selain ia berlindung dalam status quo, agama menawarkan harapan hampa atas mereka yang tereksploitasi secara sistematis dari penghisapan kapitalisme. 

Agama menurut Marx akan runtuh seiring terjadinya penghapusan kelas dalam masyarakat yang diperjuangkan oleh prolter lewat revolusi proletariat menuju komunisme.

“Tuhan telah mati” begitu kata filsuf yang menjadi musuh agama-agama. Freidrich Nietzsche, filsuf akhir abad 19 yang fenomenal, dengan konsep Will To Power atau kehendak untuk berkuasa sebagai perwujudan kreativitas-kreativitas yang rasional dari manusia, menganggap Tuhan telah mati, dan yang membunuhnya adalah manusia.

Humanisme dalam Nietzsche harus dipahami sebagai pemberontakan atas segala otoritas supra-manusiawi agar manusia bisa mencapai adi-manusiawi. Manusia harus menjadi tuhan atas dirinya sendiri dengan tidak termakan dengan klaim religius tentang dunia dibalik kubur. 

Dengan begitu manusia menampilkan kemanusiaannya secara otentik dengan kemampuan yang dimilikinya dan nilai-nilai kreasinya tanpa penghambaan terhadap agama ataupun Tuhan. Dengan begitu manusia telah membunuh Tuhan dan membangun peradaban tanpa Tuhan.

Menanggapi Kritik Humanis Ateistik Terhadap Agama dan Tuhan

Berbagai kritikan humanis ateis terhadap agama dan Tuhan kadang kala membuat telinga kaum agamawan panas. Sikap resistensi kaum agamawan terhadap kritikan agama pun memuncak dan kadang kala reaksioner. 

Kritikan ini harus disiasati dan dimengerti sebagai pemurnian iman religius, karena bagaimanapun juga, kebanaran yang telah dinyatakan absolut akan jatuh pada tidur nyenyak dogmatisme.

Kritikan itu disiasati dengan merefleksikan kembali dogmatisme agama. Agama, jika memantapkan diri pada absolutisme, akan menghalangi nilai-nilai humanisme yang diakui agama. Agama tidak membatasi seseorang untuk mempunyai kebebasan berpikir dan mengembangkan kreativitas-kreativitas kemanusiaannya tanpa mengesampingkan tentang nilai-nilai agama dan eksistensi Tuhan. 

Inilah kemudian dikenal sebagai Humanisme Religius atau humanisme yang tidak meninggalkan rasionalitas agama dan eksistensi Tuhan. Humanisme yang selain mengembangkan kreativitas manusia dan penghargaan atas kebebasan berpikir manusia, tetapi juga menjaga agar tetap dalam rasionalitas agama.

Kritikan humanis ateis terhadap agama dan Tuhan harus menjadi pemantik untuk kaum agamawan agar bangun dari tidur nyenyak dogmatisme. Kritikan itu menjadikan iman religius menjadi murni dan bebas dari tafsir sepihak atas agama. 

Sama halnya ketika gerakan humanis memberontak terhadap monopoli kebenaran dari agama dan negara yang kemudian melahirkan tafsir religio-politis sehingga persekongkolan agama dan negara melahirkan kontrol terhadap kebebasan individu.

Demikian juga Marx ketika mengkritisi agama yang tidak melihat kondisi objektif, yaitu ada penindasan sistematis dari kapitalisme terhadap kaum proletar. Padahal agama manapun tidak membenarkan tindakan eksploitatif terhadap manusia, agama mengajarkan tentang kesetaraan dan solidaritas antar manusia.

Untuk menutup tulisan ini, saya akan berargumen bahwa, menjadi seorang humanis tidak perlu mentransformasikan diri menjadi seorang ateis. Dan kritikan humanis ateistik terhadap agama dan Tuhan harus disikapi secara bijak dan tidak reaksioner untuk pemurnian iman religius, agar iman menjadi iman yang murni.

Reverensi

F. Budi Hardiman. Humanisme dan Sesudahnya: Meninjau Ulang Gagasan Besar Tentang Manusia. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Jakarta, 2020.