Tinjauan awal dimulai dari etimologi liberal, liberti, libertarian, dan libertin yang semuanya berasal dari Bahasa latin liber, yang berarti “free”(bebas). secara terminologi liberal dipahami sebagai sebuah ideologi, filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai yang utama. Cita-cita utama liberalisme adalah kondisi suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir dan berekspresi bagi setiap individu.

Ada tiga nilai utama untuk memahami liberalisme, yang pertama freedom of speech, liberalisme sangat menjunjung tinggi kebebasan berfikir dan berpendapat dalam masyarakat, tidak ada Batasan dalam berfikir dan berpendapat, semakin sebuah negara menjamin masyarakatnya berfikiran dan berpendapat bebas maka negara tersebut tergolong memiliki nilai-nilai liberal. Yang kedua semboyan khas liberalisme yaitu life, liberty, and property. hidup ini setara (life), bebas yang betanggung jawab (liberty), dan menghargai kepemilikan pribadi (property). dan kunci yang ketiga adalah Agains Absolute Power, selalu anti terhadap kekuasaan dan tirani, di karenakan tirani bisa menciptakan hegemoni dan hidup yang tersubordinasi (menentang nilai kesetaraan hidup (life)). Dengan pemahaman 3 nilai utama ini, kita sudah bisa mengerti apa itu liberalisme, 3 nilai ini yang di junjung tinggi dalam liberalisme.

Ada peristiwa penting dalam sejarah peradaban yang melatar belakangi liberalisme, yang di Indonesia sendiri jarang ada pelajaran yang membahas tentang peristiwa penting ini. Yang pertama adalah revolusi perancis yang secara radikal mendeklarasikan sistem pemerintahan demokrasi yang kemudian mengubah tata letak politik global sampai hari ini, dan melahirkan semboyan liberty, egality, and fraternity (kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan). Yang kedua revolusi amerika, yang kemudian melahirkan semboyan Declaration of independence. Dari peristiwa penting ini lahirlah bibit-bibit kesadaran secara massif, bahwasannya hidup manusia adalah bebas, dan selama ini manusia tertindas oleh monarki yang menyebabkan manusia tidak bebas, maka apa saja yang mengancam kebebasan manusia, ia harus dilawan (Agains absolute power ).

Dalam segi historis ada 2 perbedaan kontras konsep liberalisme, yakni liberalisme klasik dan liberalisme modern. Liberalisme klasik didasarkan pada ‘kebebasan negatif’( bebas dari), orientasi dari liberalisme klasik adalah upaya sedemikian rupa untuk meminimalkan pembatasan kepada setiap individu, dan negara sebagai pihak ketiga harus membatasi dalam hal penataan, penertiban, serta keamanan untuk menjamin kebebasan individu (dalam artian mengurangi intervensi pemerintah terhadap sifat alamiah manusia, yakni; kebebasan, pemerintah sebagai penjamin kemerdekaan individu dari penindasaan yang mungkin terjadi).

Liberalisme modern didasarkan pada”kebebasan positif”(bebas untuk), dimana orientasi bebas di arahkan pada upaya pengembangan diri, realisasi diri secara otonom. Peran negara dibutuhkan untuk mewujudkan kondisi dan situasi yang memungkinkan untuk pengambangan diri tiap individu. (dalam artian individu dijamin kebebasannya untuk melakukan atau mewujudkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan hak yang dimiliki individu lain). Negara dalam dua pengertian ini dipahami sebagai pelayan masyarakat, bukan sebaliknya seperti sering yang kita lihat di negara totaliter seperti korea utara, dan yang pernah terjadi di Indonesia pada zaman orde baru yang menjadikan masyarakat sebagai pelayan bagi negara.

Adapun liberalisme yang ditinjau dari segi personal, ditandai dengan sikap yang anti-feodal, anti-kemapanan, dan kritis terhadap adat-istiadat maupun tradisi atau konvensi masyarakat sekitarnya. Prinsipnya tidak mau terikat pada apa yang sudah ditetapkan atau dianggap mapan, tetapi sikap skeptis seperti ini selalu membuka kemungkinan untuk pertimbangan akal yang lebih baik, dalam artian liberalisme dari segi ini merupakan metode, bukan suatu doktrin yang dipahami.

 Kemudian liberalisme ditinjau dari segi politik, ditandai dengan sikap menentang sentralisasi dan absolutisme kekuasaan, dampaknya sangat besar bagi dunia, yaitu tergantinya sistem-sistem kerajaan seperti dalam islam, perancis, dan bahkan sampai ke komunitas-komunitas lokal yang ada ke dalam bentuk pemerintahan republik-republik, liberalisme politik juga ditandai dengan selalu mencurigai segala bentuk kekuasaan yang cenderung berkembang semakin besar (untuk mencegah kekuasaan yang semena-mena maka munculah konstitusi yang berfungsi untuk membatasi).

Kemudian juga liberalisme dari segi budaya, ditandai dengan menekankan hak-hak pribadi yang berkaitan dengan cara hidup seseorang, misalnya menentang pemerintah yang terlalu ikut campur dengan urusan personal ( contoh; seks, perjudian, sastra, seni). Kemudian juga liberalisme yang di pandang dari segi sosial, berangkat dari pemikiran seorang filsuf John Stuart Mill (1859) yang mengasumsikan prasyarat wajib bagi perkembangan intelektual dan sosial adalah penekanan pembelaan atas kebebasan berfikir dan berpendapat setiap orang. Bagi Mill kebebasan sosial adalah alat untuk melindungi individu dari penguasa politik yang tiran, contoh tirani sosial yang terjadi di Indonesia adalah tirani mayoritas islam terhadap minoritas keyakinan lain, Menurut Mill kebebasan sosial berarti membatasi kekuatan penguasa melalui pengakuan terhadap kebebasan politik dan ham dengan kontrol konstitusi.

Kemudian liberalisme yang ditinjau dari segi ekonomi ditandai dengan prasyarat free market, sebagai basis bergeraknya ekonomi yang mensejahterakan, pandangan ini sangat anti terhadap campur tangan pemerintah terhadap pasar, dan selalu menentang aturan yang membatasi hak-hak harta pribadi, Adapun ciri dari ekonomi liberal:

  • Semua sumber produksi adalah milik masyarakat individu
  • Masyarakat diberi kebebasan dalam memiliki sumber produksi
  • Mengurangi regulasi pemerintah secara terhadap pasar
  • Hasilnya, timbul persaingan dalam masyarakat dalam berkompetisi dalam mencari keuntungan
  • Pasar merupakan dasar setiap Tindakan ekonomi

Selanjutnya liberalisme dalam agama, di tinjau dari akar sejarahnya liberalisme agama dimulai pada abad pencerahan (Enlightenment Era) yang muncul saat rasionalisme berkembang (abad ke 17-19), segala sesuatu yang tidak dapat di cerna rasio maka itu adalah mitos, pandangan ini dimulai dari filsuf Rene Descartes dengan jargon “aku berfikir maka aku ada”, baginya dengan rasio manusia kita akan dituntun untuk mencapai kebenaran, dengan cara meragukan segala-galanya (skeptisisme).

Ada 3 teori yang mendasari liberalisme dalam agama, pertama yaitu Rasionalisme yang mengandalkan rasio sebagai alat utama, kedua Romantisisme (ide kebebasan) yang menjunjung tinggi kebebasan manusia, dan yang ketiga kosmologi modern (Naturalisme) yang menganggap alam semesta ini ada aturan baku-nya atau hukum alam.

Liberalisme agama memiliki model pemikiran yang mengutamakan manusia sebagai subjek utamanya, agama untuk manusia bukan manusia untuk agama (moralitas ini sebagai substansi), dan mengupayakan otonomi dari segala sesuatu pilihan dan Tindakan adalah rasio seperti yang dijelaskan dalam Q.s Al-baqarah:256, bahwa tidak ada paksaan dalam agama, individu memegang kontrol penuh atas dirinya sendiri. Model yang terakhir adalah demitologisasi, liberalisasi dalam agama adalah upaya meminimalisir mitos yang membelenggu rasio, dan mengangkat pemahaman-pemahaman saintifik yang lebih berdaya guna untuk masyarakat yang lebih maju.


Referensi :

David boaz, Cato institute, 2018,”alam pikiran libertarian: manifesto untuk kebebasan”

Prof. K. Bertens, PT kanisius, 2010,”ringkasan sejarah filsafat”