Indonesia sudah dikenal sebagai negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Indonesia juga disebut sebagai negara agraris. Itu artinya sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Namun menjadi ironis jika pekerjaan sebagai petani saat ini hanya dipandang sebelah mata.

Petani bukanlah cita-cita yang diimpikan para generasi muda. Sewaktu masih kecil pertanyaan ‘besok ketika sudah besar ingin menjadi apa?’. Saya merasa tidak ada yang menjawab sebagai petani. Sebagian besar menjawab ingin dipastikan banyak yang akan menjawab ingin menjadi dokter, polisi, pilot, guru, presiden, bupati dan sederet profesi lainnya.

Petani identik dengan seseorang yang berpakaian lusuh, berkulit gelap, dan segenap wajah ge;ap penuh keringat. Rata-rata penghasilan yang tidak sebegitu besar menjadi alasan kuat banyak orang tidak ingin menjadi petani. Bahkan petani sendiri pun tidak ingin anaknya menjadi petani, sangat ironis.

Lahan yang dikelola petani di Indonesia secara umum tidaklah luas. Jumlah lahan yang dikelola kurang dari satu hektar. Dengan luas lahan yang kecil, sulit sekali rasanya petani bisa sejahtera. Nilai tambah yang besar malah terdapat di usaha agribisnis (sebut saja pedagang-pedagang beras dan rantai-rantai yang berada dibawahnya).

Antara ketulusan dan tidak adanya pilihan

Perjuangan petani semakin terasa berat mengingat banyaknya cobaan yang saat ini menerpa. Mulai dari semakin menurunnya produktifitas lahan, kurangnya informasi terkait teknologi yang harus digunakan, turunnya harga jual pasca panen dan terbaru terkait serangan hama yang semakin meningkat.

Sebagai contoh akhir bulan januari yang lalu, petani kita terutama petani padi di pulai Jawa sedang menghadapi cobaan besar melawan hama tikus. Betapa tidak meresahkan, satu ekor tikus mampu merusak rusak 246 batang padi per malam.

Perusakan di awal masa tanam memaksa petani untuk menanam ulang padi tersebut. Petani sudah melakukan semua upaya dengan keterbatasan pengetahuan teknologi. Mulai dari penggunaan racun tikus, plastik pembatas yang mengelilingi lahan, jebakan listrik, dan bahkan petani rela datang setiap malam sampai menjelang pagi demi mengusir tikus yang biasannya menyerang di malam hari.

Disini dapat kita lihat betapa tulusnya petani mengelolah sawah yang mereka miliki. Jika kita tinjau dengan perhitungan matematis berapa besar biaya yang dibutuhkan petani tersebut dalam satu kasus yaitu penanganan hama tikus. Sudah jelas sangat besar, dan apakah hasil panennya dapat menutup? Saya kira tak akan banyak menutup pengeluaran tersebut.

Perjuangan petani yang penuh keluh kesah tersebut sebenarnya mendambakan satu kata yaitu sejahtera. Tidak ada petani yang tidak ingin hidupnya sejahtera, namun dengan banyaknya keterbatasan yang dimiliki rasanya keinginan tersebut hanya sebatas angan – angan.

Mengapa petani kita masih mau melakukan suatu pekerjaan yang sudah tahu tidak menguntungkan. Hal ini dikarenakantidak adanya pilihan lain. Maksud tidak ada pilihan lain adalah mereka hanya mengerti seputar pertanian dan bukan bidang lain. Meskipun sebenarnya pengetahuan mereka juga dapat dikatakan masih rendah.

Regenerasi petani menjadi kewajiban yang harus dilakukan

Jumlah petani di Indonesia saat cukup mencengangkan. Dari total 260 juta penduduk hanya hanya 4 juta yang bekerja sebagai petani. Jumlah petani yang semakin menurun menyebabkan berkurangnya tenaga kerja di bidang pertanian.

Kondisi ini makin memprihatinkan jika melihat tenaga petani didominasi kalangan yang dapat dikatakan tidak muda lagi. Profil data rumah tangga petani berdasarkan kelompok umur hasil survei pertanian 2018 oleh badan pusat statistik (BPS) memperlihatkan memperlihatkan lebih dari 65% rumah tangga petani yang aktif saat ini berumur di atas 45 tahun.

Indonesia merencanakan 2045 sebagai tahun dengan impian menjadikan sebagai negara lumbung padi nasional. Mimpi tersebut bisa saja berupa angan - angan jika regenerasi petani masih rendah.

Menanggapi kondisi tersebut pemerintah memiliki program petani milenial. Target pemerintah yaitu membentuk 1 juta petani milenial. Target ini akan direalisasikan dalam beberapa fokus sektor komoditas pertanian. Diantaranya tanaman pangan dengan 500 ribu petani milenial. Holtikultura dengan 192.500 petani milenial. Peternakan dengan 167.500 petani milenial. Perkebunan dengan 140 ribu petani milenial (Sumber: tabloidsinartani).

Program tersebut layak diacungi jempol mengingat generasi milenial merupakan generasi yang produktif. Namun upaya ini menurut saya perlu di dukung komponen lain yaitu Universitas dan Swasta.

Dukungan dari Universitas dalam bentuk pencetak generasi muda petani dari kalangan mahasiswa. Sudah sepatutnya pihak Universitas menekankan mahasiswa terutama mahasiswa pertanian untuk terjun dalam usaha bisnis bidang pertanian.

Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan memberi mindset cerah tentang masa depan menjadi petani. Tidak cukup dengan itu, perlu disiapkan generasi muda petani dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan swasta. Kerjasama dapat dilakukan melalui berbagai perlombaan pertanian dengan hadiah yang menarik. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena rata-rata perusahaan swasta memiliki program corporate social responsibility.

Dengan regenerasi petani yang sukses bukan tidak mungkin tahun 2045 Indonesia dapat mencapai cita-cita sebagai negara lumbung padi. Bukan tidak mungkin pula suatu saat menjadi petani merupakan suatu pekerjaan yang bergengsi. Ditandai dengan banyaknya anak-anak yang dengan percaya diri bercita-cita menjadi petani.