Di Indonesia, kata pembangunan sudah menjadi kata yang jamak dalam pelbagai hal. Secara umum, kata ini diartikan sebagai sebagai usaha untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Seringkali, kemajuan yang hendak dimaksud mengarah terhadap kemajuan material. Maka pembangunan sering diartikan sebagai kemajuan yang dicapai oleh masyarakat dalam bidang ekonomi.

Jika ditelaah secara kritis dari konteks kesejahteraanya, mengapa dan bagaiamana pembangunan diciptakan, maka kita mendapatakan bahwa pada awalnya pembangunan dikembangkan dalam rangka membendung banjir semangat antikapitalisme bagi berjuta-juta rakyat dunia ketiga. 

Gagasan populer pembangunan pertama kali dikembangkan oleh salah satu tokoh yaitu Presiden Amerika Harry S.Truman pada tahun 1940 untuk mengumumkan kebijakan pemerintahannya, hingga saat ini pembangunan menyebar hingga ke belahan penjuru dunia.

Mengutip dari Oekan Abdullah dan Dede Mulyanto dalam bukunya isu-isu pembangunan (2019), pembangunan merupakan diskursus yang melaluinya pelbagai pihak mencoba memaknai dunia dan mengubah dunia ini menurut kepercayaan dan pandangan mereka.

Dalam bukunya Oekan dan Mulyanto memberikan suatu perspektif, misalnya saja pembangunan infrastruktur yang dicanangkan oleh pemerintah dengan retorika untuk meningkatkan pemerataan dan kesejahteraan, belum tentu diartikan sebagai pembangunan oleh warga yang terdampak paling merugikan dari prosesnya.

Pemaknaaan pembangunan sendiri sering kali bukan sebagai harapan untuk memperbaiki keberlangsungan hajat hidup orang banyak yang ada hanya menambah apa yang sudah menjadi sumber utama kehidupannya diganggu dengan adanya pembangunan tanpa melihat aspek alam sebagai penyambung kebutuhan masyarakat.

Hal tersebut, terjadi di wilayah Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Melalui surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 509/41/2018 menetapkan Desa Wadas masuk ke dalam area pembangunan batuan andesit yang diperuntukan sebagai proyek pembangunan tambang.

Mengutip dari Walhi Yogyakarta, pembangunan tambang kuari atau penambangan terbuka (dikeruk tanpa sisa) yang direncanakan berjalanan selama 30 bulan dengan cara dibor, dikeruk, dan diledakan menggunakan 5.300 ton dinamit hingga ke dalaman 40 meter. Tambang kuari batuan andesit di Desa Wadas menargetkan 15,53 juta meter kubik material batuan andesit untuk pembangunan Bendungan Bener, dengan kapasitas produksi 400.000 meter kubik setiap bulannya. Rencana ini akan mulai beropreasi pada tahun 2023.

Melihat hal tersebut yang hendak dilakukan tentunya bagi masyarakat wilayah Desa Wadas akan berdampak pada kelangsungan hidupnya untuk saat ini hingga masa depan kelak. Hal yang menjadi ketakutan bagi masyarakat tersebut sangatlah lumrah melihat bahwa alam yang ada di Desa Wadas merupakan sumber utama bagi mata pencaharian mereka sehari-hari.

Potensi kekayaan alam yang mampu menghidupi masyarakat Desa Wadas secara turun temurun untuk pelbagai hasil pertanian maupun perkebunan harus diubah menjadi wilayah pertambangan yang dampaknya sudah kita tahu bahwa akan menghancurkan keseimbangan ekosistem alam dan berdampak pada polusi bagi masyarakat sekitar. Selain itu potensi yang dihasilkan dengan adanya pembangunan tambang dapat memicu konflik agraria panjang, hal tersebut akan semakin memperumit kehidupan masyarakat sekitar.

Beberapa Alasan Warga Desa Wadas Menolak Tambang

1. Tidak sudi menjual tanah sebagai sumber mata pencaharaian utama, pembebasan atau perempasan alahan akan menghapus sumber utama mata pencaharian ribuan warga Desa Wadas. Selama ini warga desa memanfaatkan lahan-lahan tersebut secara turun-temurun untuk pertanian tumpangsari dengan menanam buah-buahan, rempah, palawija, kopi, kelapa, karet hingga aren. Dengan melihat hal tersebut tentu kita akan menemukan suatu dampak yang amat merugikan dengan adanya pembangunan tambang di wilayah tersebut.

2. Tidak sudi hidup berdampingan dengan lingkungan yang rusak

Dampak yang dirasa dirusaknya hutan sebagai penyimpan cadangan air akan menghancurkan keberlanbgsungan hidu, air bersih yang sulit ditemukan beserta tidak adanya kelestarian tumbuhan.

3. Cacat Prosedural dari awal

Wacana Pembangunan Tambang ini tidak adanya sosialiasi dengan pelbagai masyarakat yang terdampak serta tidak ada kajian lingkungan terlihat jelas dua hal tersebut mengindikasikan bahwa rencana pembangunan tambang yang hendak dilakukan cacat secara prosedural.

Perempuan dan Alam

            Krisis lingkungan hidup akan menimbulkan kesengsaraan terhadap umat manusia, salah satunya yang rentan terdampak ialah kaum perempuan. Hal ini karena  perempuan pada umumnya memiliki tugas dan peran yang sangat besar dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga, termasuk ketahanan pangan bagi keluaraganya.

Krisis lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini berakar pada kesalahan cara pandang perilaku manusia sendiri. Oleh karena itu, salah satu hal yang bisa mengatasi kegamangan orientasi pikiran manusia mengubah secara fundamental pikiran manusia terhadap alam untuk memuliakan dan menjaga keberlangsungan hidup bagi genrasi mendatang.

Vandana Shiva salah satu tokoh feminisme asal India dalam karyanya Bebas dari Pembangunan (1997). Dalam bukunya beliau mengatakan perempuan kerap kali digusur dari kegiatan produktif oleh pembangunan yang semakin meluas, karena proyek-proyek pembangunan menyita atau merusak sumber daya yang menjadi landasan bagi produksi pangan dan untuk kelangsungan hidup.

Pembangunan kerap kali menghancurkan produktivitas perempuan karena pembangunan merebut dari tangan kaum  perempuan pengelolaan dan pengendalian lahan, air dan hutan, merusak ekologi sistem lahan, air tumbuh-tumbuhan, sehingga dampak yang dihasilkan menurunkan tingkat produktivitas yang ada. Apa yang kerap dirasakan ini selalu korban pertama ialah perempuan yang hak-haknya tergerus.

Mengukitip dari LBH Yogyakarta pukul 05.00 wib pagi ibu-ibu berkumpul menangis dan berteriak histeris melihat pemasangan tenda untuk sosialasi tambang. Para perempuan berkumpul hingga pihak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak menarik tenda itu. Ada pula tingkah serampangan yang dilakukan oleh oknum terhadap perempuan dengan melakukan tindakan refresif terhadap perempuan sangat miris melihat kaum perempuan diberlakukan sedemikan rendahnya.

Pembangunan tambang yang hendak dilakukan di Desa Wadas  menggerus hak-hak perempuan, di mana seharusnya menjadi pengelola dalam keberlangsungan hidup lingkungan, serta menajaga kestabilan pangan bagi keluarganya masing-masing akan terganggu, dampak ini tentu menunjang ke pelbagai aspek yaitu sumber pendapatan ekonomi yang terganggu, kesulitan bahan pangan serta dampak psikologis yang dialami perempuan.

Oleh karena itu, kerusakan alam selalu menimbulkan dampak yang sangat panjang, sikap acuh dan pongah terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang dipakai tanpa memperhitungkan aspek ekologi akan menjadi ancaman serius. kesadaran gerakan masyarakat dan kaum perempuan melihatkan bahwa mereka tidak berorientasi untuk saat ini, kerusakan alam hari ini tidak  mampu dirasakan oleh generasi anak dan cucu kelak.

Refleksi, pembangunan kerap kali menghancurkan keberlangsungan hidup banyak orang, tidak sepenuhnya dengan pembangunan dapat berdampak terhadap pembaikan kehidupan namun kita harus sedikit jeli membuka mata bahwasanya pembangunan tambang yang hendak dilakukan khususnya di wilayah Desa Wadas ini akan menghancurkan masa depan mereka kelak yang di mana unsur ketergantungan hidup, lantas perempuan dan alam tidak terlepas sebagai suatu entitas kehidupan yang mampu merawat ibu bumi.