Pernikahan merupakan sebuah peristiwa yang sangat sakral bagi sebagian besar orang di dunia. Pernikahan juga dapat mengubah status seseorang dari belum menikah menjadi sudah menikah. 

Pernikahan seharusnya dilakukan satu kali dalam seumur hidup dengan pasangan yang telah dipilih, tetapi pernikahan boleh dilakukan lebih dari satu kali di saat pasangan hidupnya meninggal dunia dan merasa bahwa mereka membutuhkan pasangan hidup untuk menemani mereka.

Persiapan yang diperlukan bagi setiap pasangan cukup banyak dan cukup rumit dikarenakan saat memasuki masa-masa menjelang pernikahan masing-masing individu harus siap dengan fisik, mental ataupun dalam hal sosial ekonomi. Tidak sedikit dari orang-orang yang memilih untuk menikah saat mereka merasa siap dengan segala persiapan yang perlu disiapkan untuk pernikahan.

Banyak juga orang-orang yang menikah saat usia mereka sudah mulai memasuki kepala 3 atau sekitar usia 30 tahun tetapi tidak semua orang menikah saat mereka berusia 30 tahun, ada juga sebagian orang yang sudah menikah saat usia mereka masih 22 tahun - 25 tahun. 

Sebenarnya ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi mengapa mereka memilih untuk menikah di saat usia mereka sekitar 30 tahun. Salah satu faktor yang sering terjadi pada mereka yang ingin menikah adalah mereka merasa bahwa mereka belum cukup dalam segi ekonomi untuk mencukupi kebutuhan mereka saat setelah menikah, karena setelah menikah mereka harus mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga baru mereka yang akan mereka jalani tanpa bantuan dari orang lain. 

Ada juga beberapa orang yang sudah menikah di saat usia mereka belum dewasa atau belum matang yaitu sekitar usia 15 tahun. Pernikahan dini menjadi perhatian bagi beberapa orang yang merasa mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

Pernikahan dini yang terjadi di masyarakat sekitar banyak yang berakhir dengan perceraian karena mereka belum siap secara psikis untuk menjadi orang tua yang baik dan mereka belum dapat mencukupi kebutuhan anak mereka seperti uang untuk membeli susu, uang untuk membeli popok dan kasih sayang yang seharusnya diberikan orang tua kepada anaknya. 

Beberapa faktor yang terjadi pada mereka yang melakukan pernikahan dini adalah kehamilan di luar pernikahan, adat istiadat yang masih melekat di daerah mereka ataupun mereka merasa cocok dengan pasangan mereka saat ini dan ingin segera menikahi pasangannya supaya menjadi pasangan suami istri. 

Hal ini perlu menjadi perhatian bagi orang tua di luar sana supaya anak-anak mereka tidak melakukan pernikahan dini karena belum tentu kesiapan mental mereka menjadi pasangan suami istri dan juga sangat rentan dengan kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian karena belum dapat meredakan emosi mereka saat sedang ada masalah yang sedang mereka hadapi. 

Saat masa pandemi covid 2 tahun yang lalu, banyak anak-anak ataupun remaja yang melakukan pernikahan dini di karenakan ada yang hamil di luar pernikahan dan saat itu sekolah masih dalam bentuk online sehingga guru ataupun pihak sekolah tidak mengetahui akan hal tersebut.

Lalu apa yang akan terjadi dengan kondisi psikis/mental dan fisik seorang anak saat mereka melakukan pernikahan dini?

Seorang anak akan menjadi emosional yang dapat memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dan juga tingkat perceraian akan melonjak dengan tinggi. 

Kondisi fisik perempuan yang belum cukup matang dapat berisiko pendarahan saat akan melahirkan dan dapat sampai keguguran. Meskipun dapat melahirkan, beberapa kondisi bayi akan menjadi buruk dan berisiko mengalami gangguan fisik pada bayi dan bahkan dapat mengakibatkan kematian janin. 

Anak-anak ataupun remaja yang melakukan pernikahan dini akan meninggalkan bangku sekolah dikarenakan mereka harus mengurus kebutuhan mereka sebagai pasangan suami istri ataupun sebagai orangtua bagi anak mereka.

Mereka yang meninggalkan bangku sekolah akan tertinggal dengan teman-teman seusia mereka yang masih mengikuti sekolah dengan baik. Tidak sedikit dari mereka yang merasa malu dengan teman-teman seusia mereka karena mereka menikah di usia yang dini dan alasan mereka melakukan pernikahan dini tersebut.


Kehendak Buta oleh Arthur Schopenhauer


Dalam filsafat manusia, Schopenhauer mengatakan bahwa hakikat manusia adalah kehendak. Hakikat manusia pada awalnya adalah akal budi. Tetapi, akal budi sebenarnya hanyalah sebuah permukaan saja karena dibalik itu semua terdapat kehendak. 

Secara umum, kehendak adalah dorongan buta dan terus menerus mendorong tanpa tujuan melewati berbagai taraf realitas. Pada manusia kehendak berupa keinginan ataupun dorongan untuk hidup abadi. Kehendak buta biasanya muncul dalam bentuk nafsu yang buruk.  

Hakikat manusia adalah suatu perwujudan dari kehendak dan dikuasai oleh suatu kehendak yang tidak kita sadari, sedangkan tubuh manusia adalah hasil dari kehendak dalam kerangka ruang dan waktu, lalu perilaku manusia adalah ekspresi dari dorongan kehendak yang ada dalam diri kita sendiri. 

Kehendak merupakan pemersatu kesadaran, ide dan pemikiran-pemikiran serta mengikat dalam kesatuan yang harmonis.


Apa hubungan pernikahan dini dengan teori kehendak buta milik Schopenhauer?


Salah satu faktor anak atau remaja melakukan pernikahan dini dikarenakan hawa nafsu mereka untuk berhubungan seksual dengan pacar mereka sangat tinggi. 

Dalam teori kehendak buta oleh Schopenhauer ada kehendak untuk reproduksi. Pada dasarnya kehendak merupakan dorongan untuk terus melanjutkan hidup. Musuh dari kehendak itu sendiri adalah kematian dan cara untuk mengalahkan musuh itu adalah dengan reproduksi. 

Reproduksi adalah tujuan utama yang paling kuat dari setiap individu sebagai satu-satunya cara dalam mengalahkan kematian. Beberapa orang menentukan pasangan hidup mereka dengan cara merasa cocok dengan seseorang untuk mempunyai keturunan. 

Mungkin ada beberapa orang yang merasa bahwa pernikahan itu harus berdasarkan kecocokan mereka terhadap satu sama lain bukan berdasarkan cinta mereka terhadap satu sama lain. 

Cinta dianggap sebagai penipuan diri yang pada akhirnya akan mengecewakan diri sendiri. Dalam pernikahan, beberapa orang menikah karena mereka cinta dengan pasangan mereka dan ada juga orang yang menikah karena merasa cocok dengan pasangannya. 

Dalam pernikahan dini ini kebanyakan orang menikah karena mereka ingin melanjutkan hidup mereka dengan reproduksi dan mereka merasa bahwa menikah adalah hal yang sangat menyenangkan dikarenakan mereka merasa tidak perlu belajar di sekolah lagi dan hanya cukup berada di rumah ataupun bekerja untuk memenuhi kebutuhan pasangannya dan anaknya nanti.