Indonesia merupakan negara maritim yang dua pertiga wilayahnya berupa lautan. Luas lautan Indonesia mencapai 5,8 juta kmsedangkan luas daratan hanya 1,9 juta km2.

Selain itu, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai mencapai 99.093 km menjadi yang terpanjang nomor dua di dunia (setelah Kanada). Kondisi geografis Indonesia tersebut berimplikasi pada besarnya potensi pemanfaatan wilayah pesisir dan laut Indonesia (Widiarto et al. 2013).

Menurut Kusumastanto (2003), potensi wilayah pesisir dan laut Indonesia yang dapat dieksplorasi antara lain; sumber daya yang dapat diperbarui seperti perikanan, mangrove, terumbu karang, rumput laut, garam, dan industri bioteknologi kelautan; sumber daya yang tidak dapat diperbarui seperti bahan tambang, mineral, minyak bumi dan gas alam; sumber energi kelautan seperti pasang-surut, gelombang, angin, OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion); serta jasa-jasa lingkungan seperti pariwisata, perhubungan dan transportasi.

Salah satu produk maritim yang menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan masyarakat adalah garam. Garam merupakan komoditas strategis, selain sebagai kebutuhan pokok yang dikonsumsi setiap hari juga digunakan sebagai bahan baku berbagai industri.

Penggunaan garam secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu garam untuk konsumsi manusia, garam untuk pengasinan dan aneka pangan, serta garam untuk kebutuhan industri.

Pembuatan garam di Indonesia umumnya cukup sederhana, yaitu dengan menguapkan air laut pada sebidang tanah datar dengan dibantu angin dan sinar matahari untuk mempercepat laju penguapan sampai terbentuk kristal garam yang siap dipanen. Namun, proses pembuatan garam yang masih tergolong sederhana tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri.

Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi garam tahun 2018 mencapai 2,71 juta ton yang berasal dari sentra produksi garam rakyat sebanyak 2,35 juta ton dan sisanya berasal dari PT Garam.

Sementara itu, kebutuhan garam nasional setiap tahunnya meningkat rata-rata 4,3% per tahun dari 3 juta ton di tahun 2010 menjadi 3,75 juta ton di tahun 2015. Tahun 2019, pemerintah menetapkan kebutuhan garam nasional sebesar 3,9 ton dengan kebijakan impor sebesar 2,7 juta ton untuk memenuhi kebutuhan garam nasional, khususnya kebutuhan garam industri.

Faktor yang memengaruhi kurangnya produktivitas petani garam dalam memenuhi kebutuhan garam nasional antara lain; proses pembuatan garam yang masih sederhana, kurangnya pemahaman petani mengenai dampak perubahan iklim terhadap produksi garam, serta tata kelola garam nasional yang belum baik.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas garam Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan nasional adalah sebagai berikut;

Pengembangan Teknologi Geo-Membrane

Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) mulai mengembangkan teknologi geo-membrane dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas garam nasional khususnya garam rakyat.

Beberapa perangkat yang diperlukan dalam pelaksanaan teknologi ini antara lain; kolam penampung air muda, dua kolam pemindahan, kolam ulir, kolam penampung air tua, dan meja kristalisasi. Dengan teknologi geo-membrane ini, petani garam dapat memanen garam yang terbentuk di meja kristalisasi yang tidak bersentuhan dengan tanah sehingga akan didapat garam yang putih, bersih dan berbobot serta terus-menerus.

Adaptasi Perubahan Iklim

Iklim merupakan faktor penting dalam aktivitas produksi garam. Perubahan iklim menyebabkan perubahan unsur-unsur cuaca seperti pergeseran musim hujan dan kemarau, panas matahari berlebih, angin kencang, gelombang pasang-surut, serta abrasi dan tanah timbul yang berdampak pada menurunnya kuantitas dan kualitas produksi garam.

Adaptasi perubahan iklim yang dapat dilakukan oleh petani garam antara lain; penanaman mangrove, penggunaan kalender atau aplikasi informasi cuaca dari BMKG, sertifikasi lahan dan sebagainya.

Tata kelola garam nasional yang lebih baik

Salah satu program untuk peningkatan tata kelola garam nasional, yaitu Program Pemberdayaan Garam Usaha Rakyat (PUGAR). PUGAR bertujuan meningkatkan kualitas garam dan penetrasi pasar, yang mencakup integrasi sistem stok berbasis pasar dan keunggulan wilayah.

Dengan demikian, industri garam rakyat dapat tersambung dengan baik dari hulu ke hilir.

Uraian beberapa upaya di atas tidak dapat terlaksana tanpa adanya peran dari semua stake-holders, maka dari itu dibutuhkan kerja sama yang baik dan dukungan penuh dari pemerintah dalam upaya mengatasi permasalahan garam di Indonesia.

Apabila upaya tersebut dapat terlaksana dengan baik, maka target swasembada garam nasional akan dapat terwujud yang tentunya berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani garam Indonesia.