PSSI adalah organisasi olahraga di Indonesia yang paling sering dikritik publik. Seusai timnas senior gagal lolos penyisihan grup Piala AFF 2018 dan menguatnya isu pengaturan skor, kritikan terhadap PSSI semakin kencang. Salah satu bentuk kritikan dari suporter terhadap kinerja PSSI adalah lewat tagar #RevolusiPSSI. Ini adalah tagar yang paling sering muncul di media sosial di samping tagar #EdyOut atau #InstallUlangPSSI.

Pertanyaannya sekarang, apakah revolusi PSSI akan benar-benar dapat diwujudkan seperti yang diharapkan para suporter? Apakah akan terjadi perubahan besar dan cepat di dalam organisasi PSSI, baik itu perubahan struktur organisasinya maupun penggantian pengurusnya?

Untuk menjawabnya, pertama kita harus ingat bahwa mayoritas klub sepak bola di Indonesia adalah mantan tim perserikatan. Tim perserikatan adalah tim sepak bola amatir yang dikelola oleh birokrat. Para birokrat ini juga yang kemudian menjadi pengurus bahkan ketua PSSI, baik di pusat maupun daerah.

Sudah menjadi rahasia umum pula jika para birokrat kita masih identik dengan sifat mementingkan diri sendiri dan enggan berkorban. Maunya dilayani bukan melayani. 

Bagi para birokrat yang sudah nyaman dengan kekuasaan, ide revolusi PSSI tentu saja membahayakan kekuasaan mereka. Kira-kira kata "revolusi" itu sama menakutkannya dengan kata "PKI" bagi para pengurus PSSI.

Kedua, para pesepakbola kita mayoritas tidak mengenyam pendidikan tinggi, tetapi gajinya jutaan bahkan puluhan juta. Makanya sudah tidak aneh lagi jika ada pesepakbola kita yang memiliki mobil. 

Secara ekonomi, para pesepakbola kita, walau pendidikannya mayoritas hanya sampai SMA, tetapi sudah lebih makmur daripada para sarjana yang kesusahan mencari pekerjaan. Kondisi ini sudah berbeda jauh dengan kondisi setidaknya 20 tahun yang lalu ketika pengelolaan sepak bola belum semaju sekarang.

Meskipun begitu, masih ada masalah yang dimiliki oleh para pesepakbola kita, yaitu masih lemah secara politik. Ada organisasi profesi yaitu, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), tetapi pengaruhnya belum cukup kuat. Para pemain juga kurang berani menyuarakan keberatan atas jadwal kompetisi yang amburadul, apalagi bentrok jadwal kompetisi dengan turnamen yang harus diikuti timnas.

Kesan main aman itu sangat kuat. Mereka sudah cukup puas dengan gaji yang mereka miliki dan kesempatan bermain secara reguler plus jika beruntung klubnya menjadi juara. Tidak ada keinginan yang besar untuk merombak total persepakbolaan Indonesia yang masih penuh dengan mafia.

Makanya saat berlangsung piala AFF 2012, di  mana waktu itu sedang terjadi dualisme PSSI, dari sekian banyak pemain ISL(liga yang dinyatakan ilegal) yang dipanggil untuk memperkuat timnas, hanya Bambang Pamungkas yang berani bergabung dengan timnas PSSI yang sah. Sisanya takut dengan ancaman pemilik klub dan nurut-nurut saja mengikuti pelatnas tidak jelas ke Australia.

Ketiga dan terakhir, kita akan membahas suporter. Latar belakang suporter kita sangat beragam, baik dalam hal usia, pekerjaan maupun pendidikan. Meski latar belakangnya beragam, mereka sama-sama rindu ada perubahan di tubuh PSSI. Suporter juga adalah kelompok yang pertama kali dan yang paling kencang meneriakkan revolusi di tubuh PSSI.

Gerakan menuntut revolusi itu sudah menandakan jika suporter mengerti politik. Mereka sadar jika menjadi pendukung sebuah tim sepak bola itu juga boleh melakukan kritik atau bahkan memboikot pertandingan jika tidak setuju dengan sebuah keputusan dari klub maupun federasi. 

Kesadaran ini bukan hal yang baru. Sejak awal era reformasi, sikap kritis suporter kepada PSSI itu sudah ada. Hanya saja, suporter kita masih belum sepenuhnya bersatu. Rivalitasnya masih berlebihan. Sentimen permusuhannya lebih menonjol daripada keinginan untuk membina hubungan yang baik dengan kelompok suporter lain.

Di sisi lain, sikap suporter terhadap PSSI sering kali berbeda-beda. Suporter yang klubnya sering dirugikan oleh PSSI akan bersikap kritis terhadap setiap kebijakan PSSI. Sebaliknya, jika klubnya sering diuntungkan oleh kebijakan PSSI, suporternya tidak kritis lagi.

Berdasarkan situasi dan kondisi yang demikian, apakah benar-benar akan terjadi revolusi PSSI? Saya pikir tidak. Sebab sebuah revolusi yang berhasil, selalu terjadi karena ada aksi massa.

Massa tidak menuntut supaya terjadi revolusi, tetapi gerakan massa sendirilah yang melakukan revolusi. Massa yang merebut kekuasaan dari penguasa lama. Kalau massa yang dalam hal ini suporter hanya menuntut terjadi revolusi PSSI, yang terjadi hanyalah pergantian pengurus PSSI, bukan perubahan sistem.

Aksi massa juga baru dapat terjadi jika ada persatuan di antara semua elemen yang menginginkan perubahan. Sementara sekarang, suporter-suporter di Indonesia belum sepenuhnya bersatu. Semuanya juga selalu merasa lebih suci daripada yang lain.

Para pesepakbola kita juga masih belum begitu berani bersikap terhadap semua permasalahan yang ada. Tidak ada inisiatif untuk menggerakkan perubahan. Mereka cenderung menurut saja terhadap kebijakan pemilik klub yang juga terkesan enggan melawan kebijakan PSSI.

Atas dasar itu, semestinya sekarang, selain sibuk mengkritik PSSI, suporter harus mulai mengubah pola pikir pemain dari klub yang ia dukung. Caranya, kritiklah para pemain jika tidak berani menentang kebijakan yang buruk dari federasi. Kritiklah para pemain jika mereka terindikasi terlibat pengaturan skor.

Intinya, buat para pemain sadar kalau maju tidaknya persepakbolaan Indonesia itu tergantung kepada keputusan mereka. Kelak, kalau para pesepakbola kita sudah paham dengan keberadaannya, revolusi di dalam kepengurusan PSSI hanya tinggal menunggu waktu saja.