Dalam literatur Islam, Puasa memiliki berbagai interpretasi, ada yang memahami Puasa sebagai ajaran yang didasarkan pada Al-Qur'an dan juga Sunnah nabi Muhammad Saw dengan menaruh hati dan niatnya hanya kepada Allah SWT dengan cara menjauhi segala larangan-Nya. Terutama bagaimana mengendalikan hawa nafsu dan emosi, termasuk membatasi kegiatan makan dan minum yang dimulai setelah Imsak (Ba'da Subuh) sampai tiba Sholat Magrib.

Ada juga yang memahami Puasa sebagai proses penyucian jiwa (Tazkiyah al-Nafs), supaya lebih dekat dengan keridhaan Allah SWT, bahkan tidak sedikit juga yang memahami Puasa sampai pada tingkatan tertentu, seperti malam Lailatul Qadar (dan melakukan Itiqaf di mesjid-mesjid) yang dianggap sebagai malam terbaik dari seribu malam atau bulan lainnya.

Akan tetapi, momentum Puasa, juga sekaligus begitu "erat" dengan Budaya Konsumerisme, apa yang dimaksud dengan Budaya Konsumerisme, singkatnya adalah kebutuhan konsumsi yang berlebihan. Hal itu ditandai dengan melihat berbagai fenomena "berbelanja" di Bulan Ramadhan, apalagi ketika sepekan atau beberapa hari menjelang Lebaran Idul Fitri, yang bisa dikatakan terjadi di seluruh wilayah di Indonesia setiap tahunnya.

Budaya Konsumerisme demikian menjadi semacam "opium" tahunan bagi masyarakat, yang boleh jadi akan merasakan "kegalauan" apabila tidak mengonsumsinya. Saya sendiri tidak sampai menemui ikhwal "sejak kapan Konsumerisme menjadi Budaya, apalagi ketika menyambut Lebaran Idul Fitri".

Kata "budaya" dapat diinterpretasikan secara normatif pada kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam masyarakat dan lingkungannya yang sekaligus membentuk frame atau cara berpikir, yang dalam soal ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, yang artinya ada konstruk pengetahuan yang sudah mapan dalam masyarakat. Begitu juga dengan Budaya Konsumerisme atau mengapa masyarakat (dan termasuk umat Islam) harus berbondong-bondong berbelanja secara berlebihan.

Konstruk pengetahuan yang sudah mapan itu atau, dengan kata lain adalah bagaimana Budaya Konsumerisme yang muncul dan berkembang di Indonesia, pastinya tidak terlepas Pop Culture (Budaya Popular) atau Life Style. Pop Culture -- yang pada awalnya lebih dilekatkan dengan peradaban Barat yang modern, seperti bagaimana laku hidup (dan cara berpakaian) kaum Hippie di Amerika dan Anak PUNK di Inggris -- namun alhasil, Pop Culture menjadi ekslusif, mengalami akulturasi dan dikonsumsi secara umum bagi apa-apa saja yang meliputi perkembangan zaman.

Singkatnya, Pop Culture, dalam arti makna Pop atau populer yang berarti berelasi dengan difinisi "populer" itu sendiri yang mengikuti arus perkembangan zaman dalam berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat, termasuk pakaian (fashion). Definisi Populer juga disebabkan oleh berbagai variabel atau termasuk menegemen pemasaran yang, melalui Televisi (dan iklan-iklan), hingga kini yang bertransformasi dalam berbagai media aplikasi jual-beli online.

Seiring dengan perkembangannya, Budaya Konsumerisme yang terus merajalela, yang oleh nama-nama seperti Primada Qurrota Ayun, Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno. Salah satunya muncul atau disebabkan dari kehidupan para selebritis yang "glamor". Dalam perspektif yang lebih humanis, selebritis dianggap dapat memudarkan "kemanusiaan". 

Sebab, kehidupan ala selebritis yang glamor dapat membuat masyarakat terhipnotis dan bahkan tergila-gila. Pendeknya, bagi mereka, kehidupan para selebritis: "secara tidak sadar akan memicu penindasan dalam segi ekonomi."

Selain itu, Budaya Konsumerisme bisa dikategorikan sebagai upaya pengklasifikasian dalam kelas sosial tertentu, ada identitas yang seolah "dibenturkan". Dalam arti, Budaya Konsumerisme mempersoalkan "apa yang dimiliki seorang atau kelompok tertentu dan tidak dimiliki oleh orang lain". Dengan kata lain, kecenderungan konsumsi yang kemudian menjadi "gaya hidup" atau bilamana Budaya Konsumerisme yang semakin merajalela dan tidak bisa dihindari. 

Arifmasi terhadap Budaya Konsumerisme yang semakin merajalela dan tidak bisa dihindari, sebagaimana yang dikatakan oleh Herbert Marcuse: "bahwa masyarakat modern saat ini merupakan masyarakat yang berdimensi satu, yang telah berkiblat pada satu Budaya, yakni Budaya Konsumerisme."

Namun tentu saja, dalam persoalan yang cukup fenomenal dan mendasar ini, saya tidak sedang mencari siapa pemeran protogonis dan antagonis, atau untuk memilih antara Syah Pahlevi atau Imam Khomeini yang bagi saya tidak ada di antara keduanya sebagai seorang diktator, atau pun revolusioner. 

Bukan pada tradisi dualistis (baik dan buruk) paling kuno dan purba yang akan terus meliputi peradaban manusia. Kecuali, jika benar-benar tidak ada lagi manusia dan kehidupan di dunia ini. Melainkan adalah bagaimana melihat masyarakat modern yang tengah menghadapi "babak" baru peradaban manusia yang lebih kompleks dan juga komprehensif. Termasuk di dalamnya Budaya Konsumerisme.

Dengan demikian, diskursus mengenai Budaya Konsumerisme yang merajalela, yang dalam soal ini, begitu menjajaki pemikiran masyarakat, wabilkhusus umat Islam. Sehingga itu, apa yang "disebut Puasa", bagi saya, bukan hanya diinterpretasikan sesederhana mungkin atau bilamana Puasa yang hanya ditafsirkan sekadar sebagai bagian dari "ritual agama" dan "pengarahan" ke wilayah Teologis.

Lebih dari itu, praktik Puasa selama 30 hari atau selama bulan Suci Ramadhan, "diharapkan" bisa memberi pengaruh dan kesadaran kolektif atau lebih tepatnya: Puasa adalah sebagai bentuk "ijtihad" bagi masyarakat yang sudah terlanjur terpapar Budaya Konsumerisme atau dengan kata lain, membedol Budaya Konsumerisme sampai ke akarnya.

Selain itu, supaya umat Islam dengan stereotip Puasanya, agar tidak terjebak atau memahami Islam sekadar sebagai media "transaksional" dari pengharapan-pengharapan eskatologis. Melainkan, sebagai jalan Spritualitas. Sebuah jalan yang yang disebut kembali oleh Sayed Hossein Nasr untuk "menghubungkan Islam dengan kesadaran moril",  dalam The Heart of Islam -- yang pernah sangat populer di abad pertengahan -- yakni Fides Quarens Intellectum atau Iman yang mencari Pengetahuan.


Tabik

Khadafi Moehamad

Bintau - Ramadhan 2021


Referensi:

1. JAQFI; Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, vol 5, no 1, 2021: Kunsumerisme Masyarakat Modern dalam Kajian Herbert Marcuse oleh Riana Oktaviani.