“Kekuatan menghormati kekuatan.” Itulah ucapan A.P.J Abdul Kalam, mantan Presiden India, ketika India pada masanya berhasil memproduksi rudal nuklirnya sendiri. Waktu itu, India dikecam oleh banyak pihak karena memproduksi senjata mematikan itu. Namun, karena alasan defensif demi melindungi kedaulatan negara, tentu hal yang lazim suatu negara memperkuat persenjataannya.

Karena memang, senjata sendiri bak pisau bermata dua. Dan, kebanyakan orang cenderung mengkhawatirkan dari sisi bahayanya. Lantaran kemutakhiran senjata seringnya tidak lepas dari rivalitas kekuatan antar negara-negara. Padahal, tidak dapat dipungkiri bahwa sejatinya senjata juga menjadi bagian dari teknologi pertahanan, sehingga ia juga menjadi simbol kekuatan sebuah negara.

Berkaitan dengan pengembangan teknologi pertahanan, biasanya berkelindan dengan kemajuan kondisi perekonomian suatu negara. Uniknya, pandangan itu mungkin perlu direvisi jika kita menilik pada Iran dan Korea Utara. Sebagaimana mafhum, kedua negara ini perekonomiannya terpukul akibat sanksi embargo Amerika Serikat (AS), karena konfrontasi mereka terhadap negara adidaya tersebut.

Namun, nyatanya pemberitaan kedua negara itu malah lekat dengan kemutakhiran teknologi pertahanan mereka. Dan, karena itu juga keduanya disegani oleh banyak negara.

Akselerasi Industri Pertahanan Iran

Baru-baru ini, Iran berhasil menembakkan rudal balistik Sejil ke target di Samudera Hindia, pada Sabtu lalu (17/1/2021), dilansir dari media AS, Fox News. Dalam latihan militer itu, Iran sebetulnya juga menguji coba dua rudal balistiknya yang lain berbahan bakar cair, Qadr dan Emad. Namun, memang rudal Sejil yang menarik perhatian banyak pihak karena kecepatannya.

Bahkan, oleh situs berita AS, National Interest, pada tahun 2017, rudal Sejil dianggap sebagai keberhasilan akselerasi industri pertahanan Iran. Sebelum akhirnya Iran meluncurkan rudal Khorramshahr, Sejil dinobatkan sebagai rudal buatan Iran tercanggih lantaran kemampuannya membawa hulu ledak berbahan bakar padat seberat 650 kg.

Sebagai rudal jarak jauh pertama dari generasi rudal balistik buatan Iran berbahan bakar padat, Sejil mampu meluncur dalam waktu singkat serta memiliki kecepatan operasional yang tinggi. Itulah sebabnya, karakteristik Sejil ini diperkirakan mampu menembus sistem anti udara termutakhir, seperti Arrow 3 milik Israel.

Terlebih lagi, pengembangan Sejil dari generasi 1 ke 2 mengalami kemajuan yang signifikan. Mulai dari hulu ledak hingga penambahan blok pemandu rudal. Apalagi setelah dilengkapi sistem navigasi baru dengan sensor yang lebih akurat dan canggih, serta dilengkapi juga kombinasi sistem pemandu inersia dan GPS. Maka, akurasi rudal Sejil 2 lebih akurat dan mencapai di bawah 50 meter. 

Perjalanan Panjang Industri Pertahanan Iran 

Belum lama ini juga, di masa-masa sulit pandemi Covid-19 (7/10/2020), Iran juga mengenalkan radar buatanya bernama Qadir. Konon, penemuan ini menggenapi 90 persen pemenuhan kebutuhan pertahanannya. Dimana 6 bulan sebelumnya Iran baru memamerkan dua sistem radar strategisnya, Khalij-e Fars dan Moraghebat.

Ketiga radar itu memainkan peranan signifikan untuk mendukung pengontrolan operasi udara Iran. Khususnya radar Qadir, yang merupakan pengembangan dari radar tiga dimensi Qadir sebelumnya yang diluncurkan pada tahun 2013 silam, kini dilengkapi dengan kemampuan memantau 360 derajat dan 1000 km. Bahkan, radar ini juga mampu melawan perang elektronik serta mendeteksi beragam pesawat siluman. 

Tentunya, pengembangan teknologi pertahanan Iran yang makin mutakhir membuat sistem proteksi negaranya makin aman. Pasalnya, “dengan pelucuran radar Qadir, kekuatan deteksi dan kendali pertahanan udara terhadap semua bagian wilayah udara Iran telah meningkat dari sebelumnya,” kata Seyyed Abdol Rahim, komandan pangkalan udara Khatam al-Anbiya, dari media Iran, Pars Today.

Semua torehan itu kalau kita ulas lebih jauh, maka kita akan terpental ke masa dua 20 tahun silam. Dimana saat itu, sistem radar Iran kualitasnya buruk karena kekurangan beberapa komponen. Namun perlahan, dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan teknologi dalam negeri di berbagai sektor, kini teknologi pertahanan Iran bertransformasi makin canggih. Dan, radar-radar yang berhasil dibuat oleh para pemudanya adalah hasil yang mereka tuai selama proses itu.

Menanggapi kemajuan ini, Becca Wasser, pakar pertahanan militer dari RAND Corporation menempatkan Iran sebagai salah satu negara dengan sistem pertahanan tercanggih. Pasalnya, Iran juga mencatatkan pernah berhasil menembak jatuh drone anti radar milik AS dari jarak 18 km, pada 2019 lalu. Dimana drone itu sendiri bukanlah drone sembarangan. Apabila ditaksir harganya mencapai USD 123 juta, lebih mahal dari pesawat tempur siluman F-35A seharga USD 89 juta, dilansir dari Bussines Insider.

Iran sebagai Mitra Pengembangan Teknologi Pertahanan 

Dibandingakan Iran, peringkat kekuatan militer Indonesia masih tertinggal dua peringkat di bawahnya, menempati peringkat 16 dari 139 negara, dikutip dari Global Fire Power. Pemeringkatan tersebut menggunakan lebih dari 50 faktor individu untuk menentukan skor Power Index  suatu negara. Dimana termasuk di dalamnya beberapa kategori, seperti kekuatan militer, keuangan, kemampuan logistic, dan geografi. 

Untuk itulah, Iran sejatinya layak untuk dijadikan mitra kerja sama pengembangan teknologi pertahanan. Terutama industri radarnya yang memiliki harga lebih murah dan juga kualitas baik. Maka itu, peluang ini sebetulnya dapat dimanfaatkan sebagai usaha untuk memperkuat sistem pertahanan Indonesia, khususnya untuk memenuhi kebutuhan sistem radar pertahanan maritim.

Di sisi lain, penguatan sistem pertahanan tidak hanya berdampak pada kekuatan militer saja. Melainkan juga berdampak sistemik kepada sektor-sektor lain, semisal ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan juga ekonomi. Pasalnya, independensi keamanan dan swasembada militer bakal berdampak langsung pada impor alutsista yang makin berkurang, yang mana selama rentang waktu 2013-2017 Indonesia masuk 10 negara dengan impor senjata terbesar di dunia, berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). 

Selain itu, untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentunya bakal mendorong inovasi industri senjata dalam negeri. Sehingga, bukan hanya akan memenuhi kebutuhan sistem pertahanan dalam negeri saja. Justru, tidak menutup kemungkinan apabila nantinya mampu mendorong ekspor industri senjata Indonesia. Membangkitkan kembali kejayaan industri pertahanan seperti 1983 silam.