Pada akhir 2020 lalu negara di dunia digemparkan dengan munculnya pakta pertahanan AUKUS. Tepatnya, pada 15 September 2020 Amerika Serikat mengumumkan pembentukan Pakta Pertahanan AUKUS. 

AUKUS sendiri merupakan singkatan dari 3 negara pendiri AUKUS yaitu Australia, United Kingdom, United State. Ketiga negara tersebut sepakat membentuk pakta pertahanan AUKUS untuk membendung power China di kawasan Indo pasifik.

Tujuan dari dibentuknya pakta pertahanan AUKUS adalah untuk memperdalam kerja sama yang akan dicapai melalui integrasi dalam ilmu pengetahuan, teknologi, basis industri, dan rantai pasokan yang terkait dengan keamanan dan pertahanan. 

Ketiga negara tersebut mengumumkan bahwa inisiatif pertama dalam program pakta pertahanan ini adalah komitmen dari Amerika Serikat dan Inggris untuk menyediakan armada kapal selam yang bertenaga nuklir (SSN) bagi Australia.

Selain itu, dalam kerja sama ini tidak hanya untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir saja, namun juga untuk bekerja sama dalam pertahanan dan keamanan di kawasan Indo-Pasifik. 

Kebangkitan China yang terus menguat dianggap mampu meningkatkan ancaman wilayah, sehingga untuk membendung kekuatan China tersebut Amerika Serikat membentuk pakta pertahanan tersebut. 

Dalam kesepakatan ini juga menandai bahwa ini kali pertama Amerika Serikat berbagi teknologi nuklir dengan negara sekutu selain inggris.

Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan Indo-pasifik. Dimana kehadiran AUKUS dinilai mengkhawatirkan dan dapat memberikan dampak bagi stabilitas keamanan Indonesia. 

Adanya AUKUS akan membuat kapal selam bertenaga nuklir beserta aset militernya ini dapat lebih leluasa berlalu lalang di wilayah perairan Indonesia. 

Hal ini dapat membahayakan stabilitas kawasan Indonesia. Selain itu Indonesia merupakan negara anggota ASEAN, di mana terdapat suatu perjanjian yang dikenal dengan Traktat Bangkok. Dalam perjanjian ini terdapat larangan penggunaan senjata nuklir di kawasan ASEAN.

Indonesia merupakan negara dengan politik luar negeri bebas dan aktif. Bebas artinya bebas dalam menentukan sikap. Sedangkan aktif artinya aktif dalam menjaga perdamaian dunia. 

Dengan politik luar negeri Indonesia tersebut, Indonesia selalu berada dipihak tengah tanpa tendensi terhadap pihak manapun. 

Menurut sumber kompasiana, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan bahwa Indonesia menyatakan keprihatinannya atas pembentukan pakta pertahanan AUKUS. 

Hal ini karena pakta pertahanan AUKUS dinilai dapat meningkatkan ketegangan, proyeksi kekuatan, dan perlombaan senjata di kawasan Indo-pasifik. 

Selain itu pada 27 Oktober 2021 Presiden Joko Widodo dalam KTT ASEAN beliau menyatakan keprihatinan terhadap kehadiran AUKUS.

Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia tidak ingin menjadi negara kawasan yang mewadahi ajang perlombaan senjata dan menjadi sebuah adu power kekuatan negara-negara besar. Karena dapat memberi dampak bahaya terhadap kestabilan keamanan kawasan. 

Dibentuknya pakta pertahanan AUKUS untuk mengimbangi power China di kawasan Indo-pasifik. Namun dibentuknya AUKUS juga dapat mengganggu kestabilan di kawasan. 

Kehadiran AUKUS justru menjadi sebuah game changer, di mana hal ini mempersulit upaya Indonesia dan mengguncang lebih jauh terkait prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. 

Seorang diplomat Indonesia Arif Havas menyarankan agar Indonesia menjadi “mediator” dengan membentuk pengaturan trilateral yang baru bersama kedua pihak (AUKUS dan China). 

Dengan politik luar negeri Indonesia yang seperti itu, banyak tuntutan kepada Indonesia agar menjadi netral dan tidak memihak manapun. Namun, secara realistis hal tersebut dinilai akan sulit untuk dilakukan. 

Hal ini dikarenakan Indonesia tidak dapat menentukan arahnya. Selain itu, juga dapat membuat Indonesia dianggap sebagai negara yang powerless (tidak memiliki kekuatan), serta tidak mampu memproyeksikan arah masa depan keamanan kawasan. 

Indonesia harus dapat menentukan arah dan prioritasnya. Mengingat kedua kubu tersebut di luar persaingannya pun memiliki orientasi dan dampak yang bertentangan dengan kawasan Indo-Pasifik.

Kedekatan Indonesia dan AUKUS secara militer bukan berarti dapat menggeser hubungan Internasional dengan China. Hal ini karena pada dasarnya sikap Indonesia ini sesuai dengan kepentingan nasional di bidang pertahanan. 

Disisi lain, Indonesia juga tetap dekat dan berhubungan baik dengan China dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu, hal ini dapat ditegaskan bahwa adanya sektor kepentingan yang berbeda seharusnya tidak dapat menghalangi hubungan baik antar negara. 

Indonesia dalam hal ini mampu merangkul dengan sikapnya yang netral, yaitu mendapat keuntungan dari kedua belah pihak yang berseteru (AUKUS dan China) dari dua bidang yaitu pertahanan dan ekonomi. 

Dalam hal ini artinya menandakan masih adanya relevansi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, hanya saja berbeda dalam pengimplementasiannya.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika dalam Kemenlu Indonesia mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di kawasan yang mengingatkan Australia tentang kewajibannya untuk menjaga perdamaian dan keamanan. 

Indonesia juga menekankan kembali terkait kewajiban setiap negara untuk senantiasa respect dan menghormati hukum Internasional yang berlaku. 

Namun, terkait langkah lebih lanjut, dalam penjelasan tersebut Indonesia belum menjelaskan. Hanya respon dan sikap Indonesia sebagai negara anggota ASEAN dalam menyikapi pembentukan pakta pertahanan AUKUS.

Sikap dan langkah yang diambil Indonesia ini bisa dipastikan akan memberikan pengaruh besar terhadap negara lainnya anggota ASEAN.