Dakwah kampus merupakan urgensi bagi para aktivis. M. Natsir mengungkapkan bahwa dakwah kampus merupakan amanah umat Islam untuk meneruskan risalah yang diterima dari Rasulullah SAW.

Melalui dakwah, semua elemen masyarakat bisa terorganisir sehingga dapat sesuai dengan tujuan dakwah. Maka dari itu, Lembaga Dakwah Kampus merupakan representasi dari orang-orang yang tidak hanya mempunyai keshalihan pribadi saja, tapi juga para penggerak yang mengusahakan keshalihan sosial di sekelilingnya, khususnya di lingkungan kampus.

Dengan menyeru kebaikan kepada elemen kampus dan tugas amal bersama lainnya, mereka menjadikan dirinya seorang mahasiswa yang benar-benar memahami fungsinya, bukan hanya berambisi sekedar memenuhi gairah akademis saja.

Oleh karena itu lahirlah mahasiswa-mahasiswa terbaik yang tidak hanya diam membisu menjadi seorang penonton dijalanan saja, tapi merupakan orang-orang yang mau bergerak diatas kezaliman dan kemaksiatan. Merekalah mahasiswa yang juga dai berdasarkan sudut pandang Al-Quran:

Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh, sambil berkata: "Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah)!" (Q.S Fushshilat: 33)

Upaya-upaya kemenangan dakwah kampus perlu digencarkan, tidak hanya oleh perseorangan, tapi oleh Aktivis Dakwah Kampus (ADK) yang saling menopang perjalanan lika-liku dakwah sampai menuju ketepiannya.

Berjuang atas dasar keimanan yang kuat memperjuangkan ikhtiar baik ini hanya untuk menggapai ridha Allah semata, bukan untuk diri pribadi bahkan untuk suatu golongan. Tak boleh terlintas sedikitpun untuk meninggalkan kafilah dakwah ini walaupun banyak tantangan yang akan dihadapi.

Untuk menyongsong kemenangan dakwah kampus yang didamba-dambakan dalam reperesentasi Kampus Madani, jiwa militansi harus senantiasa ada pada diri seorang Aktivis Dakwah Kampus sebagai seorang dai, karena pada hakikatnya “Nahnu du’at qobla kulli syaiin” (kita adalah dai sebelum menjadi apapun).

Menjadi dai kampus berarti membawa tanggung jawab yang luar biasa, oleh karenanya mahasiswa sebagai agennya harus menjadi pembelajar yang baik dan pengajar yang sabar.

Namun untuk mencapai kemenangan dakwah kampus, banyak terjadi ketimpangan masalah dan kekurang pahaman terkait konsepsi nilai-nilai dakwah.

Hal ini malah membuat para ADK hanya bergerak menjadi aktivis yang hanya mengikuti arus saja, jika tidak mengikuti arus dari kakak-kakak tingkatnya ia akan bergerak mengikuti tren-tren yang ada tanpa terlalu memehami nilai-nilai dasarnya.

Hal ini menyebabkan banyak sekali aktivis yang katanya sedang berjuang untuk dakwah, tapi hal-hal yang dilakukannya padahal hanya sekedar untuk prospek keduniaan saja yang dibungkus dalam dalil menatasnamakan dakwah dan agama.

Banyak hal yang menjadi penghambat dalam upaya mewujudkan Kampus Madani, baik itu masalah disetiap kader dakwah ataupun organisasi yang katanya menyokong visi besar tersebut.

Seperti halnya, Aktivis dakwah kampus rata-rata dinilai lemah, tak mampu menunjukan karya-karyanya dan prestasi-prestasinya dalam menyokong konsepsi dakwah yang syumul, bahkan mereka terkesan sangat ekslusif.

Mereka terlalu nyaman dalam lingkaran kosolehan yang sudah ada, tanpa mau bergerak untuk menciptakan lingkaran-lingkaran kesolehan baru yang diajak dari luar aktivis dakwah kampus, padahal sebenarnya bukannya hal ini yang menjadi tujuan kita dalam menyeru?

Bukannya malah menjadikan diri kita berkecimpung dalam nilai-nilai keekslusifan diri. Lalu, tak sedikit aktivis dakwah kampus yang ujung-ujungnya terjebak di lingkaran virus merah jambu, bahkan lebih parahnya hal ini terjadi sesama aktivis dakwah kampus dengan alasan hanya sekadar teman biasa atau profesional organisasi.

Dan, kebanyakan ADK kurang memiliki modal dalam menunjang dakwahnya. Ya, mereka kurang mau ketika diajak untuk membaca buku dan melakukan diskusi-diskusi mengkaji perihal masalah keumatan.

Dakwah itu membutuhkan modal, dan literasilah yang menjadi bahan bakar atas apa yang akan kita dakwahkan. Maka tidak heran anak-anak ADK kebanyakan orang-orang yang melankolis dan pragmatis karena tidak diasah oleh pemikiran yang luas, kritis dan inovatif.

Masalah tepat waktu pun masih menjadi hal yang tabu ketika kita membicarakan nya pada kalangan ini. Mereka telah kehilangan prinsipnya terhadap hal penting yang tak bisa kembali ini.

Dakwah islam itu komprehensif, menyuluruh, sesuai dengan konsepsi syumuliyatul islam. Dakwah bukan hanya sekadar mengajak untuk sholat saja, tapi melebihi batasan-batasan konsep ibadah madhah.

Kurang cermatnya para ADK di kampus dalam berdakwah adalah terlalu terang-terang dan kurang memahami fiqh dakwah dan konsepsi islamicworld view. Padahal dalam berdakwah itu tidak boleh menuju pada subtansi dakwah secara langsung, perlu adanya pendekatan melalui akhlak yang ditunjukan oleh ADK.

Ketika objek dakwah kita nyaman atas apa yang telah akhlak kita tunjukan, maka mereka akan mengikuti nilai-nilai keislaman yang kemudian nantinya kita seru. Maka itulah seni untuk mempengaruhi.

Bukan malah ketika berniat untuk berdakwah, tapi ketika dakwah kita tidak diterima, kita malah menjadi manusia lemah, yang mudah sekali putus asa.

Bukan malah ketika kita masuk ke lingkungan orang-orang yang suka merokok kita malah langsung tutup hidung dan tidak mau berkumpul dengan mereka lagi untuk melanjutkan dakwah.

Padahal Hasan Al Banna saja dulu berdakwah bukan melaui mimbar, tapi masuk mewarnai disetiap kedai-kedai dan ikut melebur tanpa harus terwarnai.

Tapi sekarang, yang kita rasakan adalah ketika kita melebur bersama objek dakwah, kita malah terwarnai dan terkikislah niatan kita untuk berdakwah dan hanya tersungkur lemah mengikuti hedonisme perlakuan zaman kepada kita.

Maka, banyak sekali catatan-catatan untuk para ADK segera bangkit dari keterpurukan dan tidur panjangnya, karena hanya Islam yang menjadi satu-satunya solusi perjuangan kesejahteraan umat.

Dan, ADK harus bisa menerapkan konsepsi Syumuliyatul Islam bukan hanya sekadar teori, tapi juga implementasi yang termuat dalam nilai-nilai keislaman, baik itu pada diri setiap kader ataupun di setiap organisasi-organisasi keislaman.

Janganlah menjadi jiwa-jiwa yang skeptis terhadap visi besar yang sudah Allah gariskan ketentuannya. Jadilah pejuang di siang hari dan rahib di malam hari.

Terakhir, Hasan Al Banna pernah berkata, “Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap totalitas. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama da’wah dan da’wah pun melebur dalam dirinya.

Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal besama orang-orang yang duduk. Lalu Allah SWT akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban da’wah ini…”