Pendahuluan

Sejauh ini perkembangan sastra Indonesia mengalami perubahan. Perubahan tersebut terkhusus pada hal dalam kebebasan berekspresi dan bersuara. Banyak para ahli yang berpendapat bahwa sastra merupakan kebebasan itu sendiri. Jadi, tidak ada batasan-batasan yang dapat menahan perkembangan kesusastraan Indonesia. 

Perkembangan sastra terus berkembang, adanya ahli berpendapat bahwa perkembangan itu ditandai dengan adanya periode, yang di mana periode tersebut mempunyai ciri khas sendiri. Salah satunya adalah sastra pada periode 90 atau periode reformasi.

Hadirnya suatu karya sastra merupakan suatu pernyataan perasaan atas adanya kebudayaan yang ada pada saat itu. Munculnya sastra era reformasi merupakan suatu hal yang dilematis dari sejarah sastra Indonesia. 

Era reformasi ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, misalnya puisi, cerita pendek, drama, serta novel yang berceritakan tentang sosial politik terutama bertema seputar reformasi.

Artikel ini ditulis dengan alasan karena pembahasannya yang menarik, dilihat dari periodenya, serta alasan lainnya ingin memberikan gambaran kesusastraan Indonesia pada era reformasi. 

Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui perkembangan sastra Indonesia di era pasca Soeharto atau reformasi, untuk mengetahui siapa saja sastrawan di era reformasi. 

Selain itu, artikel ini juga memberikan manfaat agar pembaca dapat menambah wawasan tentang kesusastraan Indonesia di era reformasi.

Pembahasan

Terjadinya pergeseran dari tangan ke tangan, muncul wacana tentang sastra reformasi. Perkembangan sastra Indonesia tidak akan lepas dari suatu rezim kekuasaan politik. Adanya pergantian presiden dan kabinet yang dibilang cukup singkat.

Berlakunya kebebasan terjadi ketika kepemimpinan BJ. Habibie berlangsung. Beliau membuat rakyat bisa menyuarakan aspirasinya dengan bebas. Sama halnya dengan sastra Indonesia, terutama pada sastrawan di era reformasi yang banyak menyuarakan isi hatinya lewat karya sastra.

Proses reformasi politik terjadi ketika dimulai pada sekitar tahun 1998. Sastrawan Indonesia menyuarakan harapannya lewat karya sastra yang mengambil segala hal yang bersangkutan dengan semangat reformasi ataupun kebebasan. Pada saat itu, banyak karya sastra yang lahir. 

Terlihat pada ketika itu banyak penyair yang semulanya jauh dari tema sosial politik justru ikut meramaikan suasana lewat sajak-sajak sosial politiknya, seperti Sutardji dan Hartono. Era Orde Baru berakhir menimbulkan semangat reformasi yang berlebihan. 

Berakhirnya kekangan yang terjadi menyebabkan berkembangnya kebebasan di berbagai bidang kehidupan, salah satunya sastra Indonesia. Di tahun pertama era reformasi melahirkan banyaknya penerbitan, namun bertahan hanya sebentar. 

Adanya pasang surut yang terjadi pada penerbitan ternyata kesusastraan Indonesia tidak akan pernah mati. Banyaknya penerbitan di kota-kota besar telah menghasilkan beberapa judul buku dengan tema dan persoalan yang berbeda. 

Masyarakat pembaca memberikan sambutan terhadap maraknya penerbitan yang berbeda dengan mencerminkan semangat kebebasan dari berbagai kalangan selama era Orde Baru.

Masuknya era reformasi yang anti dengan KKN, diwarnai dengan adanya kebebasan berekspresi dan pemikiran yang mengandung renungan bernilai religi. Dulu pada angkatan ’66 salah satu tokohnya, yaitu Taufik Ismail ikut memberikan suaranya melalui karyanya, yaitu buku antalogi puisi yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia. 

Selain itu, adanya karya-karya di era reformasi yang dibilang anti penindasan dan anti cinta terhadap keadilan, muncul juga adanya fenomena kesetaraan gender yang mengacu pada women libs yang tercermin pada karya Ayu Utami, Jenar Mahesa, serta Dewi Lestari. 

Pada saat itu juga terjadi pengibaran bendera Forum Lingkar Pena yang ditokohi oleh Helvy Tiana Rosa. Beliau juga sangat terobsesi dengan pengusulan adanya Sastra Pencerahan.

Terdapat beberapa karya sastra yang berkembang di era reformasi dan para sastrawan yang mengarangnya, yaitu:

1. Emha Ainun Najib dengan karya kumpulan puisinya berjudul Sesobek Buku Harian Indonesia, serta dramanya yang berjudul Lautan Jilbab

2. Seno Gumira Ajidarma dengan karya kumpulan cerita pendek berjudul Iblis Tidak Pernah Mati

3. Ayu Utami dengan karya novelnya berjudul Saman dan Larung

4. Jenar Mahesa Ayu dengan karya cerita pendeknya berjudul Mereka Bilang Saya Monyet

5. Ahmadun Y. Herfanda dengan karya kumpulan puisinya yang berjudul Sembahyang Rumputan.

Kesimpulan

Perkembangan sastra terus mengalami perubahan. Adanya perkembangan sastra ditandai dengan munculnya berbagai periode, mulai dari periode Balai Pustaka, Pujangga Baru, Pasca Kemerdekaan, Orde Baru, Reformasi, serta sampai saat ini. 

Seiring dengan adanya perpindahan kekuasaan dari tangan Soeharto ke tangan BJ. Habibie mulai muncul sastra reformasi. Tahun 1998 menjadi saksi terjadinya proses reformasi politik. Banyaknya para sastrawan menyuarakan isi hatinya melalui karya sastra yang mengangkat tema semangat reformasi. 

Para sastrawan di era reformasi bisa dikatakan cukup banyak. Namun, pada era sebelum reformasi ada juga sastrawan yang menyuarakan isi hatinya lewat karya sastra, seperti Taufik Ismail.

Daftar Pustaka

Rismawati. Perkembangan Sejarah Sastra Indonesia. Aceh: Bina Karya Akademika. 2017.