Mahasiswa
6 bulan lalu · 622 view · 3 menit baca · Buku 58398_66136.jpg

Menilik Kesuksesan Pendidikan Finlandia

Dunia pendidikan merupakan sarana untuk memberantas kebodohan, pembodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan. Maka tiap insan sangatlah perlu mengenyam pendidikan sejak dini. 

Selain keluarga yang menjadi pendidikan nomor satu bagi anak-anaknya, banyak orangtua yang sengaja memenuhi pendidikan anaknya di sekolah, baik formal maupun nonformal. Maka dari itu, manusia juga memerlukan pendidik yang menyenangkan. Buku ini mengajak pembaca menilik atmosfer pendidikan yang (mungkin) belum diterapkan di Indonesia, pun pendidikan yang dibandingkan dengan Amerika.

Finlandia, negara yang memperoleh skor tertinggi atas terselenggaranya Programme For International Student Assessment (PISA) perdana yakni pada tahun 2001. Dalam penyelenggaraan PISA meliputi keterampilan kritis matematika, sains dan membaca. 

Negara kecil ini mengejutkan sebab kala itu siswa-siswanya masih berusia 15. Pun membuat jagat dunia gempar, bagaimana bisa negara dengan jam pelajaran singkat, sedikit pekerjaan rumah (PR), ujiannya tidak begitu terstandarisasi namun mendulang sukses karena berhasil mencetak murid-murid berprestasi.

Berdasarkan pengalaman penulis, Timothy D Walker, buku Teach Like Finland ini mengupas metode pembelajaran di Finlandia. Walker kerap membandingkan pola-pola pengajaran antara Finlandia dan Amerika. Pasalnya, ia hijrah dari Amerika ke Helsinki atas saran istrinya. Pengajaran di Amerika dan Finlandia tak jarang yang bertolak belakang.


Setidaknya 33 strategi yang terangkum dalam lima kunci sistem pendidikan di Finlandia. Di antaranya adalah kesejahteraan, rasa memiliki, kemandirian, penguasaan, dan pola pikir. Salah satu tips yang diterapkan untuk mencapai kesejahteraan adalah adanya jadwal istirahat otak. Hal ini dapat membuat murid-murid tetap fokus.

Professor psikologi, behavioral neuroscience dan musik di universitas mcGill, Daniel Lavitin percaya bahwa memberikan otak waktu beristirahat dengan teratur mengarah pada produktivitas dan kreativitas lebih besar. (hlm 11)

Rasa memiliki (sense of belonging) merupakan unsur yang terpenting dalam pendidikan. Pembelajaran tidak akan terjalin harmonis, jika tidak memiliki rasa itu. Caranya adalah mengenali setiap murid, tidak sekadar mengetahui nama dan hafal wajahnya, namun mengerti tentang kebutuhan psikologisnya. 

Sebelum naik kelas V, siswa didampingi oleh guru kelas selama empat tahun. Ikatan emosional antara guru dan siswa sudah barang tentu sangat kuat. Pasca naik kelas V, banyak murid yang tertawa dan memeluk erat guru sebelumnya.

Di semua sekolah dasar Finlandia, praktik guru tetap dengan sekelompok murid selama lebih dari satu tahun ajaran adalah hal yang wajar. (hlm 59)

Negara nordik ini juga memupuk sifat mandiri sejak dini kepada anak didik. Guru-guru Amerika selalu mengantar siswanya hingga pintu keluar (bahkan sampai naik bus atau tempat orang tua murid menjemput). Namun di Finlandia tidak demikian. Di Helsinki, misalnya, murid pulang sendiri-sendiri, bahkan berlaku juga untuk kelas I.

Terdapat siswa kelas II berjalan dari rumah ke sekolah sekitar satu kilometer. Dia sering tidak ada orang di rumah ketika tiba. Alih-alih menunggu, dia menyelesaikan pekerjaan rumahnya (jika ada) dan membuat sendiri snack. (hlm 90)

Selain itu, terdapat hubungan yang sangat baik antara guru, peserta didik, dan wali murid. Pasalnya, di Finlandia juga menjadwalkan pertemuan terhadap wali murid. Begitupula dengan tugas siswa. Urusan seklah harus diselesaikan pula di sekolah dan tidak diperkenankan dibawa pulang. Selain berkewajiban mendidik di sekolah, namun guru mempunyai tetap porsi lebih untuk menggunakan waktu sebaik mungkin bersama keluarga.


Pendidikan Finlandia juga mengajarkan untuk membatasi kegiatan sekolah dan tidak pernah dibawa pulang. Urusan sekolah diselesaikan di sekolah. Guru harus punya waktu untuk bercengkrama dengan keluarga dan anak-anaknya. (hlm 27)

Terdapat satu hal yang menarik tentang pola pendidikan di Finlandia. Tidak seperti di Amerika yang terlalu banyak penekanan pada “accountability” yang berdasar pada rasa takut, dan kurang menekankan “responsibility” yang berdasar pada rasa percaya. Di Finlandia, anak-anak diberi kepercayaan yang berhubungan dengan banyak tanggungjawab sejak dini.

Penguasaan menjadi tip selanjutnya. Menguasai pembelajaran dilakukan dengan mengajarkan konsep dasar secara santai dan ringan. Kemudian, memanfaatkan teknologi, musik, menjadi pelatih dengan menerapak learning by doing, pun menciptakan pembelajaran berbasis lingkungan dan berinteraksi langsung dengan alam sekitar

Pendekatan terakhir yang diterapkan di Finlandia adalah menanamkan pola pikir yang baik. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap rekan guru pengarang di Finlandia, beberapa pendekatan yang dilakukan di antaranya adalah mencari flow (aktivitas menyenangkan yang mengalir begitu saja), saling berkolaborasi, berkulit tebal (ketegaran mental -red), melepaskan diri untuk berlibur, mengundang para ahli, dan jangan lupa bahagia (hlm 170).

Masih banyak lagi rahasia kesuksesan pendidikan Finlandia yang dipaparkan dalam buku setebal 198 halaman ini. Membuat kelas menjadi menyenangkan dan peserta didik tidak stress juga merupakan poin penting dalam mengajar. Buku ini layak dibaca semua kalangan, terutama para guru Indonesia. Tujuannya, supaya para guru dapat melakukan perubahan besar cara mendidik siswanya dengan strategi yang menyenangkan.Tentunya tidak akan mengetahui secara komprehensif jika hanya membaca review singkat dari saya. Selamat membaca.

  • Judul: Teach Like Finland
  • Penulis: Timothy D Walker
  • Penerbit: Grasindo
  • Terbit: Juli 2017
  • Tebal: 198 Halaman
  • ISBN: 978-602-452-044-1

Artikel Terkait