40906_59026.jpg
Pixabay
Pendidikan · 3 menit baca

Menilik Karakter Bangsa Melalui Budaya Berlalu Lintas

Kemarin sore di stasiun Kota Blitar, lagi-lagi aku dibuat naik pitam oleh seorang pengguna jalan. Antrean yang memanjang tak lagi diindahkan, dengan wajah yang merasa tak bersalah si pengendara motor menyerobot hingga dekat portal. Sebagian orang kulihat murka, tetapi tindakan mereka masih sebatas menggerutu. Tak ayal si pengendara pun semakin percaya diri dengan kesalahan yang diperbuat.

Waktu itu, aku yang membawa barang bawaan lumayan berat, tak cukup bersabar untuk sekadar ikut menggerutu. Dengan tertatih, kupepet si pengendara yang sudah berada di urutan kedua dari portal pintu keluar. Niatku simpel. Kutegur dia, kuberi tahu kalau dia salah, dia minta maaf, dia kembali ke barisan yang semestinya, urusan selesai!

Nyatanya menegur dan menasehati orang yang sudah jelas-jelas salah tak sesimpel yang kubayangkan. Si pengendara itu bebal, teguranku hanya direspons dengan menolehkan wajah sesaat kemudian berpaling. Tindakanku rupanya disambut hangat oleh pengendara lainnya. Mereka menaikkan level menggerutu pelan menjadi sorakan. Itu pun masih tak cukup. Hingga akhirnya aku menaikkan nada bicaraku untuk menegur si pengendara itu lebih keras. Dengan wajah kesal, si pengendara itu pun akhirnya mundur.

Jujur saja, sebagai pendatang baru di Kota Blitar, aku tidak ingin budaya berlalu lintas di kota ini mulai rusak karena ulah riak-riak kecil yang semakin menumpuk akibat pembiaran yang masif. Harus kuakui, budaya berlalu lintas di Kota Blitar masih sangat apik ketimbang kota-kota lain di sekitarnya. Prinsipnya, budaya apik jangan sampai pudar.

Jika Anda orang Blitar yang kebetulan sedang bepergian ke Malang, silakan amati dan rasakan perbedaannya dalam budaya berlalu lintas. Di Malang, kita akan biasa disuguhkan pemandangan budaya menerobos lampu merah pada detik ke 5. Kusebut ‘budaya menerobos’ karena dilakukan bersama lagi serentak, bukan hanya oleh satu atau dua orang saja.

Ketika budaya yang kurang baik mulai mewabah, ia tak ubahnya virus ganas yang sudah meluas. Kala kita hendak menghentikannya seorang diri, kita sendirilah yang akan menjadi korban keganasan virus ganas tersebut. Aku pernah mencobanya!

Waktu itu di perempatan Galunggung, Kota Malang. Posisiku berada di garis paling depan sebelum zebra cross. Detik lampu merah sudah bergulir ke angka 5, beberapa pengendara di sampingku sudah melaju kencang. Aku tetap sabar menunggu lampu berubah hijau, tetapi para pengendara di belakangku sudah menyuarakan klaksonnya sebagai kode untukku agar lekas melaju. 

Tak cukup dengan klakson, beberapa pengendara bahkan mengucapkan nama-nama binatang secara kasar padaku. Sampai-sampai ada pengendara mobil yang mendekatkan bempernya, terkesan siap menabrakku. Itulah keganasan virus yang sudah mewabah. Virus-virus itu siap melibas kita yang tak punya cukup basis kekuatan.

Lain halnya di Kota Blitar. Budaya berlalu lintas bisa dibilang cukup disiplin, meski tak bisa dikatakan sempurna. Di sini, hampir tidak pernah kulihat ada pengendara yang menerobos lampu merah. 

Pernah suatu ketika ada satu pengendara berhenti di atas zebra cross, sedangkan aku dan pengendara lainnya berhenti di belakang zebra cross, sontak si pengendara di depan kami dengan sendirinya malu kemudian mundur. “Kesadaran berlalu lintas di Kota Blitar masih terjaga ya, Adinda,” ucapku lirih kepada istriku yang saat itu memelukku dari belakang.

Berbicara kebenaran itu tidak mudah, apalagi menyoal budaya. Karena, ketika suatu kesalahan dilakukan bersama dan berulang-ulang, maka kesalahan itu akan dianggap benar dan menjadi hal lumrah. Tidak bisa dipungkiri, pelik itu juga menyerang bangsa ini.

Budaya berlalu lintas tentu saja bisa dijadikan sebagai cermin untuk menilik bagaimana karakter suatu bangsa. Di Jepang, orang tua lebih khawatir anaknya tidak bisa tertib antre ketimbang tidak mahir Matematika. Sedangkan di Indonesia, kita bisa menilai sendiri mana yang lebih diutamakan antara karakter dan pelajaran.

Setidaknya, melalui budaya berlalu lintas, kita bisa mengetahui seberapa besar ego sekaligus kepedulian seseorang. Kadang seseorang justru menampakkan keegoannya kala menerobos antrean dengan dalih ada urusan penting. 

Seseorang yang berlaku demikian terkesan menyisihkan kepentingan orang lain demi kepentingan pribadi. Sebaliknya, kita bisa melihat kepedulian yang ditunjukkan seseorang ketika ia tertib berlalu lintas. Selain untuk kebaikan diri sendiri, ketertiban berlalu lintas akan berdampak pada keselamatan banyak orang.

Hal penting lainnya, seringkali kemacetan yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh karakter bangsa yang kurang disiplin. Seharusnya pelebaran dan perbaikan jalan mampu menjadi solusi untuk menghapus kemacetan. Namun kenyataannya hal itu hanya sebatas meminimalisir. 

Sebesar apa pun usaha melakukan pelebaran dan perbaikan jalan akan sia-sia jika tidak disertai dengan perbaikan karakter bangsa secara signifikan. Kemacetan akan tetap ada jika masih ada pengendara yang hendak melaju lurus justru berjubel membuntu lajur kiri tepat sebelum lampu merah yang di tiangnya bertuliskan “belok kiri jalan terus”. Kemacetan akan terus menjalar ketika masih banyak pengendara yang nekat putar balik sedangkan di area itu terdapat larangan putar balik.

Persoalan karakter bukan tanggung jawab presiden, menteri pendidikan, atau guru semata. Karakter merupakan tanggung jawab kita bersama. Untuk itu, marilah jadikan diri kita sebagai pelaku dan penggerak karakter kebaikan, bukan sebaliknya. Terakhir, unjuk dirilah untuk menyebarluaskan karakter kebaikan, mulai dari keluarga dan budaya berlalu lintas.