Pada akhir tahun 2019 lalu, dunia global dihebohkan dengan penemuan virus SARS-COV atau COVID19. Virus ini pertama kali terdeteksi di kota Wuhan China. Beberapa peneliti mengatakan virus ini berasal dari pasar hewan di kota Wuhan tersebut.

Penyebaran virus corona yang dinilai sangat cepat ini membuat World Health Organization WHO menetapkan virus ini sebagai pandemi dan ancamannya sudah serius. Beberapa negara melakukan lockdown agar mencegah penyebaran virus tersebut ke negara mereka.

COVID19 telah mempengaruhi hubungan internasional dan analisis kebijakan luar negeri suatu negara secara signifikan. Kemunculan pandemi COVID19 ini membawa kebijakan luar negeri suatu negara mengarah kepada diplomasi kesehatan. 

Salah satunya adalah diplomasi kesehatan melalui vaksin. Seiring berjalannya waktu, negara-negara berlomba untuk berusaha membuat vaksin COVID-19 ini. Salah satunya adalah Rusia, di mana Rusia mengeluarkan vaksin Sputnik V.

Sebenarnya proyek Sputnik V ini merupakan sebuah konsep politik, yang dimana menentukan  posisi Rusia dalam diplomasi vaksin global. Perlombaan vaksin COVID19 secara global memberikan kesempatan kepada Rusia untuk mengubah struktur hubungannya dengan Barat, dari yang semula masalah normatif dan hukum menuju ke bisnis dan transaksional. Dalam pergeseran struktur ini menegaskan bahwa Rusia tidak hanya kekuatan yang berdaulat saja, tetapi juga di pasar global. 

Menurut perkiraan dari beberapa ahli, Rusia berhasil memperoleh hingga 30 miliar USD pada tahun 2021-2022 hanya dengan menjual vaksin ke negara lain. Dimana hal ini merupakan dua kali lipat dari pendapatan tahunan Rusia dalam hal penjualan senjata, dan hampir sebanyak hasil pendapatan tahunan dari ekspor gas.

Pemerintah Rusia mengambil risiko dengan mendaftarkan Sputnik V sebagai vaksin global berdasarkan jumlah tes yang relatif kecil, hal ini agar lebih unggul pesaing asing. Presiden Rusia Vladimir Putin dalam beberapa kesempatan telah berbicara secara langsung untuk mendukung vaksin Rusia. Presiden Putin juga memperlihatkan kekesalannya kepada European Medicine Agency karena tidak ingin menerima vaksin Sputnik V.

Rusia dengan pendekatan mesianis memberlakukan kampanye untuk promosi Sputnik V sebagai proyek kemanusiaan yang didasarkan pada budaya responsif, sedangkan jika dibandingkan dengan mode diplomasi vaksin Barat yang sebagai proyek geopolitik dengan tujuan untuk menghilangkan Rusia sebagai pesaing kuat dalam pasar global.

Contoh pendekatan mesianis Rusia dalam menyebarluaskan vaksin Sputnik V adalah inisiatif Rusia untuk menawarkan Sputnik V kepada semua penggemar sepak bola yang menghadiri pertandingan kejuaraan Eropa di St. Sebagian besar saluran TV pro-Kremlin menggambarkan moment tersebut. 

Menurut sumber-sumber Rusia vaksin RFDI dan AstraZeneca  memiliki tingkat kemanjuran yang lebih rendah dalam penggunaan jika dibandingkan dengan vaksin Sputnik V. Kombinasi dua vaksin yang diusulkan oleh Rusia sebagian diartikan sebagai demonstrasi keunggulan Sputnik V dibandingkan dengan vaksin Eropa.

Selain itu, peran media dalam diplomasi vaksin Rusia juga menimbulkan sebuah kontroversi. Salah satu contoh adalah inisiatif wisata vaksin yang berasal dari upaya jaringan Federasi Pemilik Restoran dan Hotel Rusia, Persatuan Pusat Perbelanjaan dan Gerakan Publik Pengusaha, dan didukung oleh Asosiasi Pariwisata Medis Rusia, Negara Bagian. 

Komite Duma untuk Budaya Fisik, Olahraga, Pariwisata dan Urusan Pemuda, dan Front Rakyat Seluruh Rusia. Wartawan Rusia menciptakan banyak cerita tentang massa orang asing yang datang ke Rusia untuk vaksinasi, tetapi realita menunjukkan bahwa sebagian besar turis tersebut adalah warga negara Rusia yang tinggal di luar negeri, anggota keluarga campuran, atau pekerja musiman dari beberapa negara pasca-Soviet. Faktanya hanya sedikit turis dari Jerman yang pergi ke Rusia untuk melakukan vaksinasi. 


Selain itu, beberapa perusahaan turis Rusia melobby untuk membuka stasiun vaksinasi di zona transfer bandara, namun tidak mendapatkan persetujuan dari Kementerian Kesehatan Rusia. 

Pada tahun 2021 ada dua negara di Uni Eropa yang mengizinkan penggunaan vaksin Rusia, sementara itu tidak disertifikasi oleh Badan Medis Eropa. Diketahui bahwa Vaksin dapat disetujui oleh National Institute of Pharmacy and Nutrition jika sebelumnya telah disetujui di negara Uni Eropa atau Wilayah Ekonomi Eropa.

Di Slovakia, karena lingkungan politik yang berbeda, peristiwa diplomasi vaksin tersebut berlangsung kurang menguntungkan bagi Sputnik V. Perdebatan publik menjadi semakin kontroversial ketika Institut Pengawasan Narkoba Negara Slovakia menerbitkan sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa Sputnik yang diimpor tidak identik dengan sampel yang diuji dalam penelitian sebelumnya, yang diterbitkan oleh jurnal medis terkenal The Lancet. 

Pada akhirnya, Slovakia mengizinkan vaksinasi dengan Sputnik V, tetapi  hanya sedikit saja yaitu lebih dari lima belas ribu orang Slovakia yang terdaftar untuk vaksin Sputnik V pertama atau kedua mereka.

Di Slovakia ada juga lingkungan yang masyarakatnya masih tradisional dan pro-Rusia. Hal ini menghasilkan harapan tinggi bagi vaksin Sputnik V, seperti dalam wacana yang menyatakan bahwa "500.000 Slovakia menginginkan Sputnik V, bukan vaksin Barat".

Rusia mengambil pandemi COVID19 sebagai kesempatan untuk memulihkan dan meningkatkan status internasionalnya. 

Pada beberapa kasus yang menolak vaksin Sputnik V, maka dalam praktiknya, berarti harus tetap tidak divaksinasi dan dapat terpapar risiko sampai vaksin Barat tersedia. 

Dari sudut pandang Rusia, hal ini juga dapat dianggap sebagai keberhasilan, sejauh mana ia melihat perbedaan pendapat di Uni Eropa sebagai salah satu instrumen kebijakan luar negerinya.

Namun, di Slovakia, para elit politik lokal berperilaku berbeda. Mereka hati-hati terhadap vaksin Rusia, kemudian adanya insiden dengan RFDI yang mencoba mencampuri perdebatan domestik dan mengintimidasi media independen, menunjukkan batas tradisional kekuatan Rusia. 

Oleh karena itu, terlepas dari keberhasilan Rusia dalam mempromosikan Sputnik V, Rusia gagal menjadi alternatif teknologi dan soft power melalui diplomasi, dan Rusia tetap menjadi sebuah spoiler yang lebih cenderung menciptakan masalah daripada membantu menyelesaikannya.