Carlo Ancelotti tidak akan mewariskan filosofi atau strategi permainan bagi dunia sepakbola. Dengan sederet gelar juaranya, ia akan mengecewakan bila Anda berharap Don Carlo meninggalkan metode permainan legendaris tertentu yang akan dikenang generasi berikutnya. Sebagaimana Cryuff mewariskan total footballl, Pep meninggalkan tiki-taka, Helenio Herrera mewariskan cattenacio.

Setelah memenangkan La Liga 2021/2022 untuk Real Madrid, Carlo Ancelotti disebut layak masuk ke dalam deretan pelatih legendaris dunia. Pelatih kelahiran Reggiolo Italia pada 10 Juni 1959 tersebut, praktis sudah memenangkan kompetisi Serie A, Liga Utama Inggris, Ligue 1 Prancis, Bundesliga Jerman dan terbaru La Liga. Keempatnya, liga terbaik di Eropa.

Dengan sederet gelar tersebut, secara kasat mata tentu mudah menilainya layak disebut sebagai pelatih besar. Namun, setidaknya ada  hal yang bisa diperdebatkan dari Ancelotti. Warisan filosofi atau strategi sepakbola apa yang sudah ia tinggalkan untuk dunia sepakbola? Layakkah ia disebut pelatih besar?

Transformasi Ancelotti 

Mengawali karir sebagai asisten Arrigo Sacchi di timnas Italia pada 1992-1995, Ancelotti berniat menjadi penganut setia sistem Sacchi. Di Parma ia menerapkan formasi 4-4-2 dengan ­pressing ketat. Sistem yang dianggap Ancelotti terbukti sukses selama ia bermain lalu menjadi asisten di bawah Sacchi.

Konsekuensinya, sistem ketat tersebut menyingkirkan pemain-pemain kreatif seperti Hristo Stoichkov dan Gianfranco Zola. Keduanya lalu pindah. Stoichvkov kembali ke Barcelona sedangkan Zola angkat koper ke Chelsea. Rencana pembelian Roberto Baggio dari AC Milan ke Parma tidak disetejui Ancelotti.

Menempati peringkat kedua pada musim 1996/1997 lalu turun ke peringkat keenam pada musim 1997/1998, menjadi bukti pendekatan ketat Ancelotti tidak membawa hasil positif. Don Carlo digantikan Alberto Malesani pada akhir musim.

Pada Februari 1999, Ancelotti menerima tantangan menangani tim juara yang sedang mengalami krisis, Juventus. Cederanya Alessandro Del Piero pada laga-laga awal musim yang diikuti oleh performa buruk, menyebabkan Marcelo Lippi dipecat. Juve kemudian memanggil Ancelotti.

Awal transformasi  pendekatan ketat menjadi pendekatan fleksibel Ancelotti dimulai di Juventus. Carletto meninggalkan fanatismenya pada formasi 4-4-2. Ia menerapkan 3-4-1-2 dengan variasi 4-3-1-2 dalam tim La Vecchia Signora. 

Zinedine Zidane ditempatkan pada posisi “1” di belakang dua striker. Ancelotti memberikan ruang kreativitas Zidane sebagai gelandang serang pengatur permainan. Dua musim menjadi runner-up di bawah Lazio dan AS Roma, Ancelotti memperoleh gelar sebagai “Tuan Hampir (Mr. Nearly)”.  Raihan Don Carlo di Juve tidak memenuhi ekspektasi klub. Ia kemudian digantikan oleh Marcello Lippi pada akhir musim 2000/2001.

Pada November 2001, Ancelotti kembali menerima tawaran memperbaiki tim bermasalah. Ia menggantikan Fatih Terim sebagai pelatih AC Milan. Di AC Milan, Silvio Berlusconi, presiden AC Milan, awalnya mengkritik taktik Ancelotti yang dinilai defensif.

Kecerdikan Ancelotti mulai diapresiasi saat ia sukses mengkombinasikan dua gelandang kreatif, Andrea Pirlo dan Manuel Rui Costa. Pirlo yang tadinya bertabrakan posisi dengan Rui Costa sebagai playmaker di lini serang, menemukan posisi baru dan akhirnya permanen di bawah bimbingan Ancelotti.

Ancelotti menempatkan Pirlo sebagai playmaker di bagian tengah dalam. Ia berpasangan dengan gelandang pekerja, Gennaro Gattuso. Rui Costa, yang akhirnya nanti digantikan Kaka, tetap ditempatkan pada lini serang di belakang dua striker, Andriy Shevchenko dan Filippo Inzaghi.

Kemampuan Ancelotti memaksimalkan potensi para pemain dalam posisi dan taktik baru membuahkan satu scudetto(2002/2003), dua Liga Champions (2003 dan 2007), dua UEFA Super Cup (2003 dan 2007) dan satu Piala Dunia Antar Klub (2007).

Setelah mencapai titik jenuh di AC Milan, Ancelotti pindah ke Chelsea. Di sana ia mempersembahkan gelar ganda Liga Utama Inggris dan Piala FA pada musim pertamanya (2009/2010). Di Stamford Bridges, ia terbiasa mengajak pemain-pemain senior seperti John Terry, Frank Lampard dan Didier Drogba untuk mendiskusikan taktik yang sesuai pada masa persisapan menghadapi lawan.

Formasi dasar 4-4-2 divariasikan dengan 4-3-2-1, 4-3-3 atau 4-2-3-1 sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan pemain. Saat Drogba dan Kalou pergi ke Piala Afrika, misalnya, Ancelotti mengubah 4-4-2 menjadi 4-3-2-1 dengan menempatkan Joe Cole dan Malouda sebagai gelandang serang guna menopang striker tunggal Nicolas Anelka.

Di Real Madrid pada musim 2013/2014, Ancelotti kembali menerapkan fleksibilitas formasinya. Formasi 4-2-3-1 warisan Jose Mourinho dimodifikasi menjadi 4-3-3 atau 4-4-2. Angel Di Maria merasakan tangan magis Ancelotti. Dari posisi penyerang sayap, Di Maria diubah menjadi gelandang tengah sebelah kiri. Pemain Argentina tersebut bermain gemilang di posisi barunya.

Pergi dari Real Madrid, Ancelotti bertualang ke Bayern Munich, Napoli dan Everton. Di Jerman, ia meraih, di antaranya, gelar Bundesliga musim 2016/2017. Namun musim berikutnya, ia menghadapi masalah yang berakhir dengan pemecatannya di tengah musim.

Pendekatan fleksibel dan lunak Ancelotti tidak memuaskan para pemain Bayern. Terutama pada musim kedua, 2017/2018. Robben, Hummels, Boateng, Ribery dan Muller kabarnya sempat melakukan sesi latihan terpisah dengan porsi lebih berat.

Lepas dari Bayern, karir Ancelotti tampaknya sedang mengalami penurunan. Ia gagal mengoptimalkan dan mempersembahkan gelar untuk Napoli dan Everton. Ia dinilai hanya sukses menangani klub besar. Namun di Everton, ia berhasil memaksimalkan Dominic Calvert-Lewin. Striker muda tersebut diasah naluri pemburunya.

Anceletti memberikan video-video Filippo Inzaghi kepada Calvert-Lewin. Inzaghi dikenal sebagai striker pemburu gol  dengan penempatan posisi dan waktu yang tepat di depan gawang. Sekalipun ia tidak punya skill istimewa. Berbekal pengalaman melatih Inzaghi di AC Milan, Don Carlo memaksimalkan Cavert-Lewin. Hasilnya, ia mencetak 16 gol di musim 2020-2021.    

Pada awal musim 2021/2022, Ancelotti menerima panggilan Florentino Perez untuk kembali  melatih Real Madrid. Hasilnya ia meraih gelar La Liga dan ketika tulisan ini dibuat Ancelotti akan menghadapi final Liga Champions melawan Liverpool.

Selama melatih Los Merengues, sesi taktik yang dipimpin Davide Ancelotti selalu dirancang berdasarkan lawan pada laga berikutnya. Davide jeli membongkar kekuatan serta kelemahan kompetitor sekaligus ahli merancang rencana permainan yang koheren. Davide adalah putra sekaligus asisten pelatih Don Carlo.

Jadwal latihan taktik Carlo Ancelotti tidak pernah berdasarkan filosofi permainan yang mendalam atau strategi yang konsisten. Ia bukan tipe pelatih dogmatis. Pada pertandingan Real Madrid vs Man City di semifinal Liga Champions (5/5), Don Carlo tertangkap kamera sedang berdiskusi dengan Toni Kroos dan Marcelo.

Kroos pun mengakui bahwa Ancelotti mendiskusikan perubahan yang harus dilakukan pada babak tambahan dengan para pemain senior. Kebiasaan yang sudah dilakukan Ancelotti di klub-klub sebelumnya, di antaranya di Chelsea.

Saat pawai perayaan gelar La Liga, Ancelotti terfoto sedang merokok cerutu bersama pemain. Sekalipun ia mengaku bukan perokok. Carletto mengaku bahwa itu hanya foto bersama teman-temannya. Ia menganggap para pemain adalah teman-temannya. Itu bisa jadi tanda. Kebersamaan dan harmoni dengan pemain adalah kunci sukses Ancelotti.

Ancelotti Pelatih Besar?

Ancelotti bisa dikelompokkan ke dalam kotak yang sama dengan Sir Alex Ferguson, Fabio Capello, Jose Mourinho ataupun Marcello Lippi, misalnya. Bila deretan serial gelar juara menjadi patokan kehebatan pelatih, deretan nama-nama di atas bisa digolongkan sebagai pelatih besar. Termasuk Carlo Ancelotti.

Nama-nama di atas tidak menginspirasi filosofi dan strategi sepakbola tertentu. Filosofi adalah alam pikiran yang menjadi dasar strategi. Contoh filosoif sepakbola adalah total football, jogo bonito dan cattenaccio.

Strategi di sini adalah desain umum tertentu untuk diterapkan pemain di lapangan dalam banyak pertandingan. Contoh strategi di antaranya gegenpressing dan tiki taka. Dua strategi tersebut diterjemahkan dari filosofi total football. Sedangkah taktik adalah rencana mikro untuk diterapkan pemain di lapangan pada tiap pertandingan. 

Ancelotti, Ferguson, Mourinho, Capello dan Lippi lebih menerapkan taktik pragmatis-adaptif untuk memenangkan pertandingan. Kemampuan pelatih-pelatih tersebut memaksimalkan pemain  menjadi andalan guna mempersembahkan deretan gelar juara bagi klubnya 

Namun, bila ukuran kebesaran seorang pelatih adalah warisan filosofi atau strategi sepakbola dan gelar juara, maka nama-nama seperti Helenio Herrera, Arrigo Sacchi, Johan Cruyff, Pep Guardiola dan Jurgen Klopp yang patut disebut pelatih top.

Pelatih-pelatih itu mewariskan filosofi atau strategi sepakbola yang menginspirasi generasi berikutnya. Cattenaccio ala Helenio Herrera mengisnpirasi sistem sepakbola defensif Italia yang digunakan selama puluhan tahun setelah Herrera menaklukkan Italia dan Eropa bersama Inter Milan pada dekade 1960an.

Johan Cruyff mewariskan total football, filosofi sepakbola yang menjadi identitas sepakbola Belanda, dengan berbagai variasi, hingga kini. Total football pula yang menginspirasi Guardiola mencetuskan filosofi yang dikenal sebagai tiki-taka.

Arrigo Sacchi memperkenalkan penggunaan jebakan offside, penjagaan secara zona dan menekan lawan. Jejak-jejak Sacchi bisa dilihat dalam hampir semua taktik dan filosofi sepakbola modern. Termasuk tiki-taka dan gegenpressing.

Jurgen Klopp memperkenalkan strategi sepakbola menekan balik lawan segera setelah tim kehilangan bola, bahkan dari sepertiga lapangan zona lawan. Strategi yang dikenal sebagai gegenpressing itu kini menjadi standar sepakbola Jerman dan jamak digunakan klub-klub Eropa.

Dengan hanya bermodal kemampuan mengelola pemain dan pendekatan tatik yang pragmatis, apakah Ancelotti layak disebut pelatih besar? Tergantung apa kriteria pelatih besar yang digunakan. Satu hal yang jelas, Ancelotti akan tetap diingat sebagai pelatih legendaris yang memenangkan gelar liga di lima kompetisi terbaik di Eropa.