Kalau ditanya teman-teman, tempat mana yang paling berkesan di Kota Bangkok? Aku pasti jawab Wat Saket! Mungkin wisatawan Indonesia lebih familiar dengan Wat Arun yang terletak di tepi Sungai Chao Phraya dan Wat Pho yang terkenal dengan patung Budha berbaring. Tapi untukku Wat Saket lah yang paling berkesan.

Di Bulan Januari 2020, aku dan temanku baru saja pulang dari Provinsi Ayutthaya. Bus yang kami tumpangi turun di area Grand Palace. Kami berniat untuk mengunjungi satu daya tarik wisata sebelum kembali ke hostel dan tanpa perencanaan yang matang kami memutuskan untuk pergi ke Wat Saket. Lokasi Wat Saket tidak terlalu jauh dari Grand Palace hanya berjarak kurang lebih 1,5 km saja, jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki.

Wat adalah sebutan untuk kuil atau vihara, tempat ibadah bagi umat Budha. Kata ‘wat’ biasa dipakai di Negara Thailand, Kamboja, dan Laos. Walaupun memiliki fungsi utama sebagai tempat ibadah, beberapa Wat yang ada di negara Thailand dibuka untuk wisatawan dan menjadi daya tarik wisata.

Wat Saket atau nama lengkapnya, yaitu Wat Saket Ratcha Wora Maha Wihan merupakan wihara Budha yang dibangun pada Era Kerajaan Ayutthaya. Di dalam area Wat Saket terdapat sebuah kuil yang disebut dengan “The Golden Mount” atau Pho Khao Thong. The Golden Mount dibangun di atas bukit setinggi 80 meter. Untuk menuju ke puncak Golden Mount, kita harus menaiki banyak sekali anak tangga yang jumlahnya mencapai 344 anak tangga.

Walaupun harus melewati banyak anak tangga, tetapi aku nggak merasa lelah sama sekali karena tangganya yang pendek-pendek. Saat menaiki tangga aku dan temanku disapa ramah oleh dua pemuda berpakaian seperti biksu, tetapi dengan baju berwarna merah. Mereka sedang merekam menggunakan kamera HP dan mengajak kami untuk melambaikan tangan ke kamera. Jadilah aku dan temanku ikut melambai-lambaikan tangan ke kamera.

sumber foto: dokumentasi pribadi

Di sepanjang jalan menuju puncak bangunan, terdapat banyak lonceng yang digantung di pinggir tangga. Lonceng-lonceng tersebut terdiri dari berbagai ukuran, mulai dari yang berukuran setelapak tangan sampai yang berukuran sebesar anak balita. Jika angin berhembus lonceng-lonceng kecil itu akan mengeluarkan suara berbunyi “ting-ting”. Sedangkan lonceng yang berukuran lebih besar dapat dibunyikan oleh wisatawan.

Selain bunyi lonceng, terdapat pula suara alunan Buddhist Music atau yang biasa dikenal dengan The Chanting. Alunan Buddhist music ditambah dengan suara lonceng-lonceng kecil yang menenangkan menjadi musik pengiring perjalanan kami.

Sebelum menuju ke atap utama, kami terlebih dahulu memasuki area ibadah. Pengunjung wajib untuk melepas alas kaki ketika memasuki kuil. Terlihat beberapa wisatawan berdoa dengan khusuk di depan patung Buddha. Aku dan temanku dengan tenang naik ke tangga kecil untuk menuju ke puncak. Lantai di puncak Golden Mount terbuat dari rumput sintetis, jadi kami tetap merasa nyaman meskipun tidak menggunakan alas kaki.

sumber foto: dokumentasi pribadi

Di atas puncak Golden Mount terdapat sebuah stupa berwarna emas berbentuk kerucut, mirip bentuk lonceng besar. Terdapat patung-patung yang berdiri di setiap ujung stupa. Di depan patung tersebut tergantung lonceng-lonceng kecil yang bertuliskan nama-nama pengunjung yang mengharapkan kesejahteraan. Suara Buddhist Music dan lonceng-lonceng kecil masih terdengar dengan jelas.

Di sepinggir bangunan terdapat bendera Negara Thailand yang berkibar ditiup angin sore. Dari atas sana kami dapat melihat pemandangan Kota Bangkok dengan leluasa. Gedung-gedung, kuil/wat, dan rumah-rumah warga tampak kecil dari atas sini. Kendaraan yang lalu lalang di jalanan terlihat seperti semut-semut yang berjalan cepat. Kota Bangkok sore itu terlihat ramai dan sibuk seperti kota metropolitan lainnya.

Aku dan temanku mencari tempat untuk melihat sunset. Di sana telah banyak wisatawan yang menjaga tempat dan tidak mau bergeser demi melihat matahari terbenam. Setelah mencari-cari celah di antara para wisatawan, kami berhasil menemukan tempat strategis untuk menyaksikan sunset. Sembari menunggu mata hari terbenam, kami berbincang mengenai perjalanan kami di Thailand. 

Tak terasa matahari pun mulai terbenam, aku mengabadikan pemandangan itu menggunakan HP androidku. Matahari berwarna jingga perlahan tenggelam diantara padatnya Kota Bangkok. Lampu-lampu gedung dan bangunan mulai menyala menerangi Kota Bangkok. Setelah puas melihat sunset, kami memutuskan untuk turun dan kembali ke hostel. Ketika menuruni tangga, aku merasa bersyukur dapat menikmati sunset di Golden Mount.

sumber foto: dokumentasi pribadi

Oh iya, harga tiket untuk memsuki Golden Mount adalah 50 baht, sekitar 25 ribu rupiah. Namun, wisatawan tidak dipungut biaya untuk memasuki Wat Saket. Wisatawan diwajibkan untuk berpakaian sopan ketika memasuki Wat. Jam buka Wat Saket mulai dari jam 7 pagi—7 malam. Kalau aku memilih ke sana saat sore hari, sekitar jam 4 sore, waktu yang pas untuk berkeliling Wat Saket dan menikmati sunset di Golden Mount.

Refrensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Wat

https://en.wikipedia.org/wiki/Wat_Saket