Prosa memang tak sepadat puisi. Menikmatinya bisa lebih mudah karena deskripsi kata kata yang lebih panjang. Mengalir menikmati setiap narasi dalam kalimat kalimat sebagai pembangun cerita,

Membaca prosa, dalam hal ini cerpen, imajinasi pembaca akan lebih konkret karena kalimat kalimat yang dibangun di dalamnya utuh dan jarang yang ambigu atau multi tafsir. Keindahan bahasa yang termuat di dalamnya cukup membantu pembaca memaknainya secara tekstual.

Prosa, sebagaimana diutarakan A. Teew (1984) adalah sebuah fiksi yang membeberkan kenyataan (realis). Namun, membaca cerita cerita S. Jai, bayangan realis itu memudar. Meski cerita yang digambarkan dekat dengan keseharian kita namun pemaknaannya lebih sulit jika  kita tidak dekati dengan paradigma Surealis.

Permainan simbol simbol yang digunakan membuat kita untuk lebih menghayati pesan dibalik apa yang diceritakan. Kita seperti digiring untuk memasuki belantara impian yang seolah semua bisa terjadi. Persetan dengan logika,  toh sastra hanya mengutamakan logika bahasa. Selain itu kita bebas menafsirkannya.

Ada 15 cerpen yang terkumpul dalam antologi ini.. Lima belas cerpen yang tekumpul ini, dibuka dengan kisah absurd seorang wanita yang begitu jatuh cinta pada Hujan.  mungkin kesepian bisa diobati dengan mengimajikan sesuatu dan Hujan menjadi pelarian bagi yang kesepian karena hujan datang dan pergi seenak sendiri dan bukankah itu sifat lelaki?

Kisah seorang gadis yang bercinta dengan hujan. gambaran gadis dan hujan begitu familiar bagi kita. Lantas bagaimana mereka bisa saling jatuh cinta menjadi hal lain jika kita hanya memaknai secara tekstual semata Itulah selintas kisah dalam Perempuan yang Menikahi Hujan.

Meski ada Cinta yang begitu bebas disampaikan, antologi ini tapi memuat juga yang apes soal cinta,  karena bagi sebagian orang,  pecinta adalah mereka yang mempunyai pasangan.  Namun dalam Serikat Orang Tak Berjodoh bagaimana ketiga sahabat yaitu Nyi Tanah, Man Sapar, dan Abah Matkur sampai rela harus berjibaku di meja domino hanya karena kesulitan menemukan jodohnya masing masing.

Dalam imajinasi narator,  Si Pak Tua, seolah kita digiring untuk memaknai bahwa jodoh itu tak usah dirisaukan toh yang terpenting adalah bagaimana cara kita menemukan jalan kembali kepadanya. Ketiga pemain domino itu menganggap bahwa menebak takdir lewat parodi kartu domino lebih membuat mereka bergairah daripada merisaukan jodoh yang sudah digariskan.

Tapi, bukankah lebih sakit diduakan dibanding jika hanya sekedar menanti datangnya cinta. Nah, ada jalan terbaik untuk menduakan yaitu cukup dengan mengimajinasikan pacar pacar impian. Dalam Kisah Sirri yang menjadi judul dalam antologi ini, rahasia cinta yang lain  menjadi  inti cerita.

Kesetiaan bisa dibangun sebegitu rupa jika kita pandai bermain rahasia ternyata. Entah Istri yang seperti apa yang dimiliki si aku hingga tak bisa mengendus mental genit sang suami. Sirri membangun gambaran apik keluarga masa kini. Kehadiran buah hati adalah solusi bagi keharmonisan dan kesetiaan. Meski naïf, alasan keberadaan buah hati untuk mempertahankan perkawinan tanpa cinta.

Dari lima belas cerpen yang ada, meski dengan cerita yang beragam garis lurusnya masih perihal cinta dan segala teka teki dan daya kejutnya. Ada yang berkisah tentang kasih tak sampai dalam Rembulan Terperangkap Ranting Dahan, juga cinta pada kejujuran dan dedikasi dalam Sandiwara Kematian. 

S. Jai, Cerpenis kelahiran Kediri dan kini menetap di Lamongan, ini dikenal sebagai pengurus Dewan Kesenia Jawa Timur yang karyanya banyak mewarnai media massa regional dan nasional:  Horison, Jawa pos, Suara merdeka.

Kini Sastrawan Penerima Anugerah Penghargaan Seni dari Gubernur Jawa Timur tahun 2015 ini sibuk mengurusi penerbitan buku yang dikelolanya di wilayah yang permai di selatan Kabupaten Lamongan, Ngimbang.

Penyair santun dan lemah lembut tutur katanya ini pernah juga menjadi jurnalis di sebuah harian terkemuka di Surabaya serta banyak aktif dalam kegiatan komunitas sastra di Jawa Timur dan Nasional. Tentunya baginya menulis adalah laku dan mesti digeluti dengan cinta juga (ini mungkin alibi penulis yang kurang beruntung secara materi hihihi) .

Apa yang ditawarkan Jai dalam antologi ini  mengingatkan saya pada karya karya pelukis Italia, Salvadore Dali, penganut aliran surealisme. Simbol simbol yang digambarkan sangat realis, dekat dan sangat kita kenali, namun itu semua itu  dikomposisikan dalam susunan yang di luar kelaziman.

Membangun dunia mimpi dengan analogi simbol simbol keseharian mungkin menjadi kekuatan cerpen cerpen Jai yang bisa dikatakan sangat sejajar, jika tak boleh disebut mirip, dengan cerita cerita  karya Triyanto Triwikromo. Selamat membaca.

  • Judul: SIRRI (dan kisah Cinta lainnya)
  • Pengarang: S. Jai
  • Penerbit: PAGAN Press, Lamongan
  • Tahun: April 2016
  • Tebal: 260+XVI
  • ISBN: 9786020891200