Deretan buku berjajar di rak-rak toko buku Teheran, seakan bercerita segalanya. Mulai dari puisi Hafez, novel Sadeq Hedayat, eksistensialisme Jean Paul Sartre, hingga realisme magis Gabriel García Márquez, menjadi cuplikan dari deretan panjang buku bacaan di sana.

Di daerah sekitar University of Teheran terdapat Enghelab Street, salah satu tempat di Teheran yang dikenal sebagai pusat buku di Iran. Sepanjang jalannya dipenuhi oleh toko-toko buku. Dari Sastra, sains, agama, perjalanan, seni, fotografi, dan jenis buku lainnya tersedia di jalan ini.

Buku-buku dan manuskrip antik juga dijual di beberapa toko. Bahkan, di daerah ini, banyak dari masyarakatnya yang mampu melafalkan petikan syair-syair milik Rumi, Hafez, dan Omar Khayyam, para penyair masyhur Persia.

Ibu kota Iran ini sendiri banyak dikelilingi toko-toko buku bagus. Mulai dari toko yang menjajakan berbagai buku, seperti buku fiksi dan lainnya, hingga toko-toko buku yang khusus menyediakan buku-buku akademik. Banyaknya toko buku ini menghiasi setiap kompleks pertokoan di sana.

Shahr-e Ketab—artinya kota buku (bahasa Farsi)—salah satu jaringan toko buku ternama di Iran. Toko ini pusatnya berada di Hafez Street dan memiliki beberapa outlet yang tersebar di sekitaran Teheran. Berbagai buku yang lengkap dalam segala bentuk, ukuran, dan genre ditawarkan di toko ini.

Buku-buku Hafez, Rumi, dan puisi-puisi Persia klasik lainnya juga terpampang dijual di rak buku toko. Tak jarang para wisatawan mancanegara yang menyerbu toko ini. Sebab, buku yang dijual tidak hanya berbahasa Farsi, tetapi juga ada yang dijual dalam bahasa Inggris. Terlebih bila berkunjung ke cabangnya di Elahiyeh, terdapat kafe yang bagus milik toko buku ini.

Bertolak tak jauh dari stasiun Metro Shahid Nejatolahi. Jalan kaki beberapa menit menuju daerah sekitaran jembatan Karim Khan, berdiri salah satu penerbit utama sastra Iran, Nashar-e Cheshmeh, yang juga membuka toko.

Buku-buku sastra Persia modern maupun kontemporer banyak ditawarkan di sini. Misalnya saja, karya-karya Sohrab Sepehri, Mehdi Akhavan Sales, Sadeq Hedayat, Forugh Farrokhzad. Banyak lagi koleksi karya penulis dan penyair yang dijual di toko ini, termasuk juga DVD, musik, dan barang dagangan dunia seni lainnya.

Selanjutnya, berjalan beberapa menit dari Daneshju Park menuju pusat kota, menyusuri sebelah selatan Valiasr Square, di Jalan Valiasr, berdiri sebuah toko buku besar dan salah satu yang terbaik di Teheran, Toko Buku Hashemi. Koleksi bukunya sangat banyak mengisi seluruh rak-rak buku yang bertingkat-tingkat. 

Toko ini juga menyediakan bermacam-macam peta, yang dibuat oleh kartografer dunia terkenal berbahasa Farsi, Gita Shenasi. Peta-peta tersebut memuat rinci dari semua kota besar di Iran, dan semua wilayah di negara tersebut. Toko ini menjadi serbuan para pelancong yang ingin menjelajahi Iran.

Namun, dari banyaknya toko buku di Teheran, ada satu toko buku yang banyak menarik perhatian, Tehran Book Garden. Terletak di Bukit Abbasabad di timur laut ibu kota Iran, toko buku ini resmi dibuka pada Juli 2017 lalu.

Bangunannya membentang seluas 65.000 meter persegi, hampir 700.000 kaki persegi. Di dalamnya mencakup teater, ruang pameran, ruang penelitian, dan berbagai toko buku yang dirancang untuk pelanggan dari segala usia. Area tempat duduk taman umumnya seluas 25.000 meter persegi.

Dengan bangunan semegah itu, toko buku ini digadang-gadang sebagai toko buku terbesar di dunia menggantikan Barnes dan Noble Bookstore di 105 Fifth Avenue di New York City, Amerika Serikat.

Toko buku tersebut terdaftar sebagai toko buku terbesar di dunia menurut Guinness World Records. Luasnya 154.250 kaki persegi, kurang dari seperempat luasnya Tehran Book Garden, dan rak bukunya sepanjang 12,87 mil. Sayangnya, toko buku ini sudah tutup pada tahun 2014 lalu.

Menurut Newsweek, terdapat lebih dari 400.000 judul buku yang tersedia untuk anak-anak. Ali Larijani, ketua parlemen Iran, dalam upacara peresmian toko ini menyampaikan bahwa proyek pembangunan gedung Tehran Book Garden bertujuan mengajar anak-anak di sana agar aktif dan kreatif melalui metode dan peralatan modern.

Pada saat yang sama, hal senada juga disampaikan oleh wali kota Teheran, Mohammad Baqer Qalibaf. Hadirnya toko buku tersebut adalah upaya pemerintah memperhatikan anak-anak di sana agar dapat memanfaatkan peluang budaya dan akademik dengan lebih baik.

Di sisi lain, pada tahun 2017, Iran dengan jumlah penduduk 78 juta orang, menurut World Economic Forum, hanya memiliki sekitar 1.500 toko buku. Gencarnya pemerintah Iran melakukan sensor terhadap tulisan dan literatur yang beredar sangat memengaruhi perkembangan toko buku di sana. Kendati demikian, justru setiap tahunnya, pada awal Mei, pameran buku internasional diselenggarakan di Teheran, Tehran International Book Fair.

Pada pameran tersebut, penerbit dan penjual buku, baik dari dalam maupun luar negeri, berkumpul. Acara ini biasanya dilangsungkan di kompleks Masjid Mosallah yang luasnya lebih dari 75.000 meter persegi.

Jutaan pengunjung hadir setiap tahun dan ratusan ribu buku ludes terjual. Buku-buku dari semua genre dan berbagai bahasa tersedia untuk dibeli dan dipesan secara massal, banyak diantaranya yang ada di pasaran untuk pertama kalinya.

Bermula pada pameran buku internasional pada tahun 2015, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menghabiskan waktu berdiskusi dengan penerbit avant-garde. Dari hasil diskusi tersebut, regulasi pemabatasan peredaran buku-buku di Iran mengalami pembaharuan dengan lebih longgar dalam pembatasan.

Merespons itu, pemerintahan Presiden Hassan Rouhani mempercepat pembangunan Tehran Book Garden yang sebelumnya sudah digagas sejak tahun 2004. Langkah Hassan Rouhani pun kemudian mendapat pujian dari The Financial Times karena kebijakannya yang lebih terbuka dalam kebudayaan.

Sebelumnya, sejak tahun 2004, pemerintah Iran sangat ketat melakukan pembatasan peredaran buku di Iran, terutama dengan buku-buku sastra.

Berdirinya Tehran Book Garden telah memperlihatkan wajah lain Iran yang lebih terbuka. Novel-novel yang sebelumnya dilarang seperti Tracy Chevalier's Girl With a Pearl Earring, To Have and Have Not oleh Ernest Hemingway, dan The Gambler karya Dostoevsky, dalam beberapa tahun terakhir, telah diterbitkan dalam bahasa Farsi.

Kini, lama waktu yang diperlukan untuk sensor buku juga telah diperpendek dari beberapa tahun menjadi beberapa bulan. Di tengah kepadatan kota metropolitan Iran ini, di tengah ingar bingar politiknya yang sering kali panas, kehadiran Book Garden dan deretan toko buku menjadi oase yang menyejukan.