Kebanyakan manusia di bumi saat ini sedang belajar banyak hal selama tinggal di rumah. 

Sama-sama kita ketahui bumi sedang diserang sama pandemi. Tidak ada aktivitas jalan-jalan ke luar kota atau negeri, tidak bertemu teman dan keluarga, tidak membuat acara yang mengumpulkan banyak orang. Tujuannya supaya bisa memutus mata rantai virus tersebut.

Kalau diingat-ingat entah sudah hari ke berapa saya tinggal di kos, semuanya terasa sepi dan sunyi. Bagaimana tidak? Kos yang ada 15 kamar ini cuma dihuni sama dua orang karena yang lain sudah pulang ke kampung halaman masing-masing.

Biasanya motor ramai terparkir di lantai bawah sekarang cuma dua motor, punya saya dan seorang teman. Semakin lama di kos semakin bingung ingin mengerjakan apalagi, rasanya semuanya sudah dibereskan. 

Kerjaan yang biasanya dikerjakan sambil rebahan cuma menulis, saya sedang banyak menulis akhir-akhir ini. Entah itu artikel yang akan saya kirim atau menyelesaikan naskah buku yang sampai sekarang lagi bingung memikirkan endingnya seperti apa.

Bagi saya menulis itu pekerjaan paling sederhana dan enggak ribet dilakukan saat lagi di rumah aja. Menulis sampai enam halaman kemudian lakukan pengendapan alias didiamkan tulisannya kemudian refreshing pikiran dengan makan cemilan, nonton film. Setelah itu dilihat lagi tulisannya.

Begitulah saya berhari-hari di dalam kamar, terasa bosan sebenarnya tapi sebisa kitanya mengakali untuk tidak bosan.

Mungkin orang-orang di luar sana punya caranya sendiri untuk menikmati hari-harinya selama di rumah. Tapi lagi-lagi perasaan rindu kepada semuanya sering menghantui saya kalau sudah tidak mendapatkan ide cerita dalam menulis. 

Apalagi kalau sudah diam dan melamun pasti akan kepikiran. Kalau enggak membayangkan keluarga di rumah atau perjalanan liburan bersama teman-teman.

Tinggal buka galeri, lihat semua foto dari  tahun-tahun sebelumnya  dan itu membuat badan ingin pulang rasanya. Bertemu dengan mereka semua, tapi kalau jalan-jalan sama teman enggak akan mungkin bisa, pasti saya akan mengkarantinakan diri dulu selama 14 hari di rumah. 

Meski saya sehat sejauh ini tapi enggak ada yang tahu kalau saya terpapar atau tidak sama virusnya. Jadi lebih baik menjaga diri di rumah untuk tidak keluar.

Walaupun saya memutuskan untuk tidak dulu pulang ke rumah dalam waktu dekat ini, menikmati hari-hari penuh rindu itu bagi saya dengan mengabari semua orang yang sedang saya rindukan. 

Satu-satunya cara adalah video call, misalnya saat sore hari video call ibu di rumah pasti situasinya sedang masak. Sambil lihat ibu masak, mengaduk ikan nila balado kesukaan saya, andai bisa mencium wanginya.

Saat itu  saya jadi bicara banyak hal dengan beliau dan itu dilakukan dengan jarak jauh. Tapi tidak apa-apa semua itu sudah mengobati rasa rindu saya kepada mereka.

Kalau teman-teman saya yang sudah di rumah sekarang mengobati rindunya itu hampir sama, palingan chatting yang enggak ada selesai-selesainya atau video call. Bersama mereka pembahasan bisa apa aja, apalagi kumpulannya perempuan semua.

Menyenangkan sekali menghubungi mereka semua, jadi ada teman ngobrol dan diskusi. Jadi tidak merasa sendiri sama sekali, tahu enggak sih? Sebenarnya yang bikin kita merasa sendiri itu ketika kita tidak melakukan apapun selama masa karantina. Jadinya semua pikiran-pikiran yang bawa efek negatif terkumpul jadi satu dan itu membuat kita malas-malasan.

Kalau saya rindu suasana rumah biasanya masak, karena di rumah itu sering banget masak, bukan saya sih tapi ayah sama ibu. Saya masak sendiri di kos, kalau ada resep masakannya yang kelupaan biasanya kabari ibu. Karena kepada siapa lagi akan bertanya jika tidak kepada ibu yang merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, yang sudah lebih dulu tahu bagaimana caranya memasak.

Intinya meski kondisi kita lagi masanya karantina di rumah masing-masing dan saat itu kita rindu dengan orang-orang disekitar kita tapi tidak bisa bertemu. Maka dari itu ciptakan sendiri cara untuk mengobati rasa rindunya.

Entah bisa dengan cara yang selalu saya lakukan atau cara kalian masing-masing karena cerita kita berbeda, orang yang kita rindukan pun tidak sama.

Sebenarnya ada hal baik yang bisa kita ambil, jika dulu kita terlalu sibuk bertemu hingga lupa gimana merasakan sepi dan rindu kini keduanya bisa sejalan dirasakan. Saat itulah kita sama-sama-sama belajar bahwa ruang sendiri itu juga perlu ada dalam setiap hubungan. Baik hubungan dengan orang tua, sahabat, dan kekasih.

Saya membaca bukunya Wafda yang berjudul Sebelum, di halaman 79 mengatakan “Tanam rindu hingga beberapa hari ke depan tak kuasa menahan minat untuk menuai” kemudian dilanjutkan lagi di halaman 80 yang berisi “Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Apa yang kita buat, itu yang kita dapat. Seperti rindu yang kau tanam berbuah pertemuan.”

Akhir dari kerinduan ini adalah sebuah pertemuan, saya tidak kebayang nantinya bagaimana orang Indonesia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Bertemu dengan keluarga yang jauh di tanah perantauan, mengunjungi serta ngumpul bersama teman-teman, jalan ke Mall dan tempat menarik lainnya, atau nongkrong sambil cerita sepuasnya.

Pastinya akan banyak foto dan video terbaru di galeri bahwa masing-maisng dari kita sudah bertemu dengan orang-orang yang  dirindukan, padahal saat covid 19 masih ada, sosial media kita hanya bisa memposting foto lama dan kenangan instastory yang diposting ulang. Begitulah caranya untuk memperlihatkan diri bahwa kita merindukan mereka.

Jadi untuk sekarang simpan dulu rindu untuk bertemu, nikmati hari-harinya, hingga kita sama-sama menuai pertemuan yang kita impikan. Doakan semoga bumi cepat sembuhnya.