Remaja saat ini siapa sih yang ngga kenal Wattpad? Iya aplikasi yang menjadi sarana bagi remaja untuk menyalurkan bakat menulis novelnya. Genre novel yang tersedia memang bermacam–macam, tapi yang menjadi favorit yaitu mengenai kisah pernikahan dini. Pada novel dikisahkan begitu indah, romantis dan bahagia pokoknya enak deh buat dijadiin bahan halu upsss.

Selain itu pada kondisi pandemi ini banyak banget remaja yang sudah sangat bosan dengan rutinitas yang dijalani. Mulai dari belajar daring, membantu pekerjaan rumah (walaupun bagus si ehehehe), rebahan, apalagi kalau banyak tugas stres dehh. Dengan adanya keadaan seperti ini tidak sedikit remaja akan berpikir untuk menikah saja, karena beranggapan bahwa dengan menikah semua masalah akan hilang dan mereka akan bahagia seperti di novel.

Apakah benar seperti itu? Apakah kehidupan nyata akan sama seperti di novel?

Sebelum membahas lebih dalam kita harus tau nih apa pengertian dari pernikahan dini. Menurut WHO pernikah dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan anak-anak atau remaja yang berusia dibawah 19 tahun. Sedangkan menurut UNICEF pernikahan usia dini adalah pernikahan yang dilaksanakan secara resmi atau tidak resmi yang dilakukan sebelum usia 18 tahun.

Kata sebagian orang pernikahan dini itu enak, enak banget malahan persis seperti cerita-cerita di wattpad. Ada beberapa manfaat yang hanya bisa dirasakan oleh pasangan yang menikah muda, seperti kita bisa merasakan petualangan hidup secara lengkap berdua dengan pasangan. Karena di masa muda ini kita sedang berjuang untuk menata hidup di masa depan, dengan adanya pasangan kita akan melewati semua kesulitan bersama. Dengan menikah muda kita juga akan terbiasa untuk menyesuaikan diri satu sama lain, sehingga toleransi antar pasangan akan terbentuk.  

Manfaat menikah muda yang enaknya maksimal ada? Ada dong, yaitu lebih intens berhubungan seksual dengan pasangan. Hal ini karena pada usia muda gairah kita sangatlah bergelora (ulalaa mimin ngerasain juga nihh *ehh) , untuk menghindari hal yang tidak-tidak sebagian orang berpikir untuk menghalalkan pasangannya saja. Alasannya agar tidak menjadi dosa tetapi mendapat pahala.

Sehubung dengan hal tersebut keuntungan menikah muda yang terakhir adalah jarak usia anak tidak jauh dengan usia kita. Jika jarak usia anak dan kita tidak jauh, kita bisa menjadi sahabat untuk anak kita sehingga anak leluasa terbuka dengan kita. Travelling bersama, mendengarkan kisah cinta mereka sampai hangout bersama pasti sangatlah menyenangkan.

Bagaimana sudah seperti kisah cinta novel bukan?  

Etsss, tunggu dulu. Kalau hanya berpikir menikah muda itu enaknya saja, kita salah. Semua hal pasti memiliki keuntungan dan kerugian. Sekarang kita bahas kerugian menikah muda, dimulai dengan hilangnya masa muda. Dengan memutuskan menikah muda kita juga harus siap dengan hilangnya segala aktivitas menyenangkan pada masa muda, seperti berkumpul dengan teman, malas-malasan di akhir pekan dan lainnya. Harus diingat kita sudah memiliki tanggung jawab besar dan harus diprioritaskan.

Sebelum menikah muda segala hal diurus oleh orang tua. Ketika kita menikah kita harus siap mengurus semua sendiri, jika kita belum mempersiapkannya sampai kapan akan merepotkan orang tua? Hal itu harus dipikirkan matang-matang sebelum memutuskan menikah.

Selanjutnya yaitu harus mengorbankan pendidikan dan karier. Saat menikah muda kita harus menanggung keuangan sendiri, sehingga kebanyakan remaja yang menikah muda merelakan pendidikannya untuk bekerja. Selain itu ketika sudah menikah kita juga harus merelakan impian karier yang dimiliki, karena kita harus fokus terhadap kehidupan rumah tangga yang dijalani. Dan hal tersebut sudah sering terjadi khususnya oleh wanita, maka dari itu pikirkan secara matang sebelum mengambil keputusan.

Masalah ekonomi juga menjadi pokok masalah pada menikah muda, hal tersebut karena pasangan yang menikah muda masih berstatus pelajar atau belum memiliki pekerjaan yang tetap. Apalagi jika pasangan berpendidikan rendah yang membuat mereka sulit mendapat pekerjaan yang stabil. Terlebih saat pandemi ini, mendapat pekerjaan adalah hal yang sangat sulit.

Usia remaja adalah usia tumbuh dan berkembangnya seorang manusia. Pada usia ini sistem tubuh seorang remaja belumlah berkembang dengan matang khususnya sistem reproduksi remaja perempuan. Ketika harus menikah di usia dini, resiko penyakit sangatlah besar, selain itu resiko kelahiran prematur, hingga kematian bisa saja terjadi. Serem bangett kan? Mimin sii takut

Dan kerugian yang terakhir yaitu perceraian. Mental seorang remaja belum siap untuk berumah tangga. Hal tersebut karena kita masih ingin mencari jati diri, mewujudkan cita-cita, keinginan mencari kebebasan dan mencari pengalaman sebanyaknya. Hal tersebut seringkali menjadi alasan untuk pasangan memilih bercerai ditambah dengan banyaknya masalah lain yang sudah dijabarkan diatas. Mereka memilih keputusan tersebut tanpa memikirkan hal-hal kedepannya yang pastinya akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Medsos belakangan ini sedang ramai mengenai kasus pasangan muda yang dahulu sempat viral juga, iya viral karena mereka menikah di umur yang muda bahkan sang suami kala itu berumur 17 tahun. Pasangan ini diisukan akan bercerai padahal dahulu mereka sangatlah romantis. Lebih parahnya lagi berita ini mudah tersebar karena pasangan ini sama-sama mengekspos masalahnya di akun medsos masing-masing.

Hal ini membuktikan bahwa menikah muda lebih rawan dengan perceraian, selain itu dengan mengumbar masalah di medsos menandakan bahwa pemikiran mereka masih kurang matang dan terkesan kekanak-kanakan. Mimin dapat menyimpulkan mau seromantis dan selama apapun kita menjalin hubungan bila belum bisa menerima dengan ikhlas pasangan kita, cinta yang kita beri akan sia-sia dan akhirnya akan saling menyakiti. Bagaimana? Masih yakin cinta kamu akan sekuat cinta Andin dan Aldebaran?

Pernikahan dini di Indonesia masih tergolong tinggi, ditambah ada beberapa daerah yang memiliki budaya pernikahan dini seperti Madura dan Sulawesi Selatan. Kita tidak bisa melarang budaya tersebut karena sudah ada sejak dahulu, tetapi kita bisa mencegah terjadinya pernikahan dini dari diri sendiri. Cara yang dapat kita lakukan yaitu mengikuti organisasi yang ada di lingkungan pendidikan (kesempatan nih buat deketin kating *ekhem) maupun di masyarakat. Memilih teman bergaul dengan cermat dan hati-hati, usahakan memilih teman yang bisa memberikan dampak positif bagi diri kita.

Selanjutnya yaitu mempelajari hal yang bisa meningkatan softskill dan hardskill pada diri kita, yang nantinya akan berguna dalam kehidupan bekerja. Kita dapat melakukan hal-hal yang kita senangi (nonton konser BTS contohnya, mimin pengen banget nii) , melatih dan memperdalam bakat yang kita punya. Kita juga bisa loh untuk mempelajari dunia bisnis karena hal ini sangat berguna di masa depan. Dan yang paling utama kita harus berjuang merealisasikan mimipi-mimpi yang kita punya, membanggakan orang tua dan bahagia.(Aamiin...)

Kesimpulan dari mimin yaitu manfaatkan masa muda kamu dengan baik dan jangan takut untuk berjuang, karena kehidupan tidak seindah cerita di novel. Selain itu kita juga harus berpikir dengan hati-hati sebelum memutuskan sesuatu. Hidup ini bukan hanya tentang menikah lalu punya anak, tetapi masih banyak hal yang bisa kita lakukan.(Kata ibu mimin si “kalau sudah jodoh pasti dipertemukan kokk”, jodoh mimin lagi apa yakk? Xixixi) Jangan lupa berbahagia, sampai ketemu mimin di kesempatan berikutnya. See you and love you.