Bulan Syawal biasanya kita tidak pernah absen menerima undangan resepsi pernikahan. Bahkan saya sendiri bisa menerima sekitar dua sampai empat undangan setiap minggunya. Mulai dari keluarga, teman, tetangga hingga rekan jauh.

Saya turut senang atas pernikahan mereka, pasti mereka tidak akan lagi menemui pertanyaan “kapan nikah?” seperti para jomblo. Tapi pertanyaannya berubah menjadi “kapan punya anak?” hehe.

Dalam agama Islam, menikah merupakan suatu bentuk ibadah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa  menikah menyempurnakan separuh agama. Selain itu ada pula hadits mengenai anjuran menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal.

Dalam radarcirebon.com (23/5) Kantor Kementerian Agama Kota Cirebon mencatat rata-rata angka pernikahan di lima kecamatan yang ada di Kota Cirebon setiap bulannya sekitar 50 pasangan, sedangkan saat memasuki bulan Syawal angka pernikahan melonjak hingga 100 sampai 150 pasangan.

Peningkatan angka pernikahan di bulan Syawal tidak hanya terjadi di satu dua daerah, namun hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Selain di bulan Syawal, ada juga bulan-bulan lain yang menjadi pilihan orang-orang untuk menikah, yaitu Dzulhijjah, Sya’ban, Rajab, dan Ramadhan.

Namun, selain di bulan-bulan khusus itu ternyata saat pandemi covid-19 angka pernikahan juga turut meningkat drastis, terutama pernikahan dini.

Menurut Kemen PPN/Bappenas, akibat pandemi covid-19 ini 400 hingga 500 anak perempuan usia 10-17 tahun berisiko menikah dini. Terbukti dengan adanya 34.000 permohonan dispensasi kawin yang diajukan kepada Pengadilan Agama pada Januari hingga Juni 2020, yang mana 97%-nya dikabulkan. Angka ini jauh meningkat dari tahun sebelumnya (2019) yang berkisar 23.126 perkara.

Penikahan usia dini/ perkawinan anak disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor ekonomi, nilai budaya, regulasi, globalisasi dan ketidaksetaraan gender.

Pandemi covid-19 membuat berbagai macam aktivitas luar ruangan harus dikurangi bahkan dihentikan. Pekerja maupun pelajar harus melakukan aktivitasnya di rumah, dan tak sedikit dari pekerja dirumahkan, bahkan di-PHK.

Para pelajar harus belajar dari rumah karena sekolah-sekolah ditutup. Penutupan sekolah dan dilaksanakannya pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah membuat kebanyakan anak dan orang tua stres karena sulit beradaptasi dengan perubahan yang drastis ini, sebab yang biasanya mengajar anak adalah tugas gurunya di sekolah sekarang berpindah menjadi tugas orang tua juga.

Kondisi kesejahteraan yang terus menurun saat pandemi covid-19 dan penutupan sekolah ini membuat anak kerap dianggap sebagai beban orang tua sehingga membuat orang tua membiarkan anaknya menikah, khususnya anak perempuan. Karena setelah menikahkan anak perempuan, tanggungjawab orang tua memberikan nafkah berpindah ke tangan suaminya.

Selain dari kehendak orang tua sang anak, ada juga pernikahan anak yang terjadi karena inisiatif dari anak itu sendiri. Sebuah kasus pada Agustus 2020 di NTB, seorang pelajar SMP meminta dinikahkan dengan pacarnya yang usianya empat tahun lebih tua darinya dan mengancam jika tidak dinikahkan ia akan membuat malu keluarganya dengan gaya berpacaran seperti suami istri.

Perkawinan, sebagaimana telah dirumuskan dalam Bab I Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang diundangkan tanggal 2 Januari 1974: “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Menurut Anwar Haryono, pernikahan merupakan suatu perjanjian suci antara seorang laki-laki dengan seorang wanita untuk membentuk keluarga bahagia. Pernikahan itu adalah suatu akad (perjanjian) yang suci untuk hidup sebagai suami isteri yang sah, membentuk keluarga bahagia dan kekal.

Menurut WHO, pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan anak-anak atau remaja yang berusia dibawah usia 19 tahun.

Sedangkan menurut BKKBN, pernikahan dini merupakan pernikahan yang berlangsung pada umur di bawah usia reproduktif yaitu kurang dari 20 tahun pada wanita dan kurang dari 25 tahun pada pria.

Perkawinan dini memiliki banyak dampak negatif bagi anak. Dari segi kesehatan, alat reproduksi yang belum matang juga membuat perempuan rentan terkena kanker serviks. Selain itu, tubuh perempuan di usia remaja belum siap untuk mengandung dan juga melahirkan.

Perempuan yang masih muda masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Jika ia hamil, maka pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya akan terganggu. Biasanya kondisi yang muncul akibat hamil di usia muda adalah tekanan darah tinggi, anemia, bayi lahir prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR), serta ibu meninggal saat melahirkan.

Pernikahan usia dini membuat perempuan rentan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan mereka belum tahu bagaimana cara terbebas dari situasi tersebut. Selain itu juga pernikahan dini rentan akan terjadinya perceraian karena belum cukup dewasa dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Perceraian usia dini memberikan dampak yang besar baik dari berbagai sisi kehidupan. Dari segi psikologis seperti trauma, depresi, dan pengucilan oleh masyarakat, dari segi ekonomi yang belum mapan yang berujung pada pemiskinan, hingga dampak pada anak setelah perceraian.

Perkawinan di usia dini merupakan pelanggaran dasar hak asasi anak, karena perkawinan usia dini membatasi hak anak dalam mendapatkan pendidikan, penghasilan, kesehatan, keselamatan, dan juga membatasi status dan peran anak.

Di sini saya ingin mengutip sebuah quote yang banyak beredar di media sosial “menikah itu ibarat berbuka puasa yang harus disegerakan. Tetapi ingatlah jika waktu maghrib itu berbeda-beda”.

Menikahlah jika waktunya tepat, bukan tergesa-gesa padahal belum waktunya. Karena pernikahan merupakan jenjang kehidupan yang sangat diidam-idamkan oleh sebagian besar orang, tua, muda, laki-laki, perempuan untuk membangun keluarga bahagia seumur hidup dengan penuh cinta bersama orang terkasih.

Jangan sampai karena ketidaksabaran menanti “waktu berbuka” malah menjadi mimpi buruk yang akan menghancurkan hidupmu. Masa muda, masa yang berapi-api, kata Bang Haji Roma Irama dalam lagunya yang berjudul Darah Muda. Gunakanlah masa muda untuk hal-hal yang bermanfaat, fokus untuk mengembangkan diri, dan menggapai cita-cita.

Semua akan ada saatnya, tunggu saja!