Ini adalah satu pengalaman dari seorang kawan saya yang berprofesi sebagai seorang akademisi di kampus negeri di Indonesia bagian timur. Sebut saja namanya Laras.

Laras lahir dari keluarga Arab yang kaya. Keluarganya menguasai perekenomian di salah satu kabupaten di Sulawesi. Laras dan keluarga peduli dengan pendidikan, sehingga tidak heran manakala Laras menyandang gelar hingga S2.

Dua tahun setelah lulus dari sekolah Pascasarjana, Laras menjadi dosen PNS di kampus negeri di Maluku.  

Perempuan dengan latar keluarga “terhormat” secara sosial ekonomi itu memiliki profesi yang “mapan” dan berpendidikan tinggi. Ditambah pula fisik Laras, seperti perempuan Maroko yang terkenal cantik itu, menjadi daya tarik tersendiri buat laki-laki untuk mendekati Laras.

Laras sangat beruntung hidup di sebuah keluarga yang memberikan dirinya kebebasan untuk sekolah, bekerja, dan menikah. Karena dukungan tersebut, Laras “mungkin” satu-satunya perempuan di Kabupaten tempat tinggalnya yang memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta hingga jenjang magister.

Karena dukungan tersebut, Laras memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus. Beberapa kali Laras menghadiri forum akademik internasional di beberapa negara, seperti di Amerika, Belanda, dan Australia.

Di usia Laras ke-28 tahun, ia menjalin hubungan yang “serius” dengan seorang laki-laki keturunan Arab yang juga berstatus sebagai seorang akademisi di kota lain di Indonesia bagian Timur. Panggil saja namanya Fahmi. 

Menurut Laras, hubungannya dengan Fahmi merupakan hubungan yang serius untuk menikah, mencintai Laras dengan sepenuh hati, dan menerima Laras dengan tata aturan keluarga yang melingkupinya.

Keseriusan hubungan tersebut diuji Laras dengan mengajaknya berkunjung ke rumah keluarga besar Laras. Di luar dugaan, Fahmi datang dengan membawa “rombongan” orang tua ke rumah Laras padahal jaraknya sangatlah jauh.

Bagai gayung menyambut, keluarga besar Laras menerima kunjungan orang tua Fahmi, dan kemudian antarkeluarga menentukan tanggal lamaran kapan dan akan dilaksanakan di mana.

Pernikahan Gagal Seminggu Pra-Perayaan

Waktu bahagia pun tiba, Fahmi datang kembali ke rumah Laras dengan membawa rombongan keluarga besar. Perayaan lamaran dilaksanakan dengan meriah karena antarkeluarga Laras dan Fahmi merupakan keluarga keturunan Arab yang secara ekonomi terbilang tajir.

Pasca-perayaan lamaran, diputuskanlah kemudian hari, baik tanggal akad nikah dan resepsi juga lokasinya. Keputusan keluarga adalah akad nikah dan resepsi dilaksanakan dua bulan pasca-lamaran, dan lokasinya dilaksanakan di kediaman Laras, di Makassar.

Karena semua saudara kandung Laras sudah menikah dan hanya tinggal Laras yang belum menikah, keluarga berencana perayaan pernikahan Laras dilaksanakan dengan meriah dan mengundang keluarga besar, baik yang ada di Surabaya maupun yang di Jakarta.

Laras dan Fahmi kemudian mendaftar ke pencatatan secara administratif di Kantor Urusan Agama (KUA) di Sulawesi. Souvenir pernikahan sudah dipesan. Undangan sudah dicetak dan disebar. Sedangkan catering dan prosesi pelaksanaan akad dan resepsi menggunakan jasa Wedding Organizer (WO).

Itu artinya, persiapan pernikahan Laras dan Fahmi dipersiapkan dengan matang. Hanya tinggal menunggu waktu.

Setelah semua persiapan menuju hari H itu OK, tiba-tiba keluarga Fahmi menghubungi keluarga Laras dan meminta agar tempat pelaksanaan akad dan resepsi dilaksanakan di rumah Fahmi di Maluku.

Karena pertimbangan persiapan perayaan akad dan resepsi sudah mengeluarkan biaya dan ongkos yang “mahal”, keluarga besar pihak Laras menolak permintaan tersebut. Apalagi budaya di Sulawesi, perayaan akad nikah dilaksanakan di rumah mempelai perempuan.

Tetapi pihak keluarga besar Fahmi bersikeras dengan permintaanya untuk tetap melaksanakan akad nikah di Maluku. Karena tidak menemukan titik temu, akhirnya Fahmi dan Laras memutuskan untuk duduk bersama keluarga besar dari kedua belah pihak untuk mencari jalan yang lebih baik.

Ketika Fahmi dan Laras dan kedua keluarga besar bertemu, pihak keluarga Laras menjelaskan rasa keberatannya dengan pertimbangan persiapan sudah OK, dan pihak keluarga Fahmi menjelaskan keinginannya dengan alasan keluarga Fahmi tidak mau datang ke Makassar karena kejauhan.

Karena tak menemukan titik temu, akhirnya diputuskanlah bahwa pernikahan Fahmi dan Laras dibatalkan.

Dibatalkannya pernikahan Laras dan Fahmi memiliki makna bahwa hubungan keduanya sudah berakhir. Padahal hari akad nikah dan resepsi kurang 7 hari.

Sampai di sini, mata saya berkaca-kaca. Masih lekat di ingatan saya bagaimana Laras menceritakan kejadian itu dengan rembesan air mata di pipi.

Keluarga besar Laras menyampaikan permohonan maaf atas gagalnya pernikahan kepada semua para undangan melalui telepon dan surat, dan menerima semua kerugian materiel karena telah menggunakan jasa WO dan catering, dan menyimpan souvenir dalam kardus utuh dengan lakban. 

Menyusun Kembali Kepingan Hati yang Retak  

Yang membuat Laras menangis adalah Fahmi lupa dengan janjinya yang dulu untuk mencintai Laras dan menerima tata aturan keluarga dengan sepenuhnya. Bahkan di akhir pertemuan keluarga, tak ada satu pun permintaan maaf yang diucapkan oleh Fahmi kepada Laras.

Bagi Laras, kejadian tersebut merupakan pengalaman yang sangat pahit. Laras tidak tahu caranya bagaimana menjelaskan kepada teman-teman dan rekan kerja di kampus atas gagalnya pernikahan tersebut.

Kejadian tersebut menjadikan Laras frustrasi dan menyendiri dalam kamar selama beberapa minggu hingga izin menikah dari kampus berakhir. Laras “dipaksa” oleh kondisi untuk tetap mengajar dan bertemu dengan banyak orang karena profesinya sebagai seorang dosen.

Laras kemudian menjadi bahan pembicaraan, bahan cibiran, dan bahan gunjingan dari masyarakat sekitar tempat Laras tinggal dan tempat Laras bekerja. Laras mengalami sendiri bagaimana teman kerja dan masyarakat “menghakimi” sendiri kejadian gagalnya pernikahan karena disebabkan oleh Laras, tanpa tahu duduk persoalan yang sesungguhnya.

Laras merasakan sendiri bagaimana rekan kerja dan masyarakat membela “Fahmi” hanya karena ia laki-laki dan mensubordinasi dirinya karena ia perempuan. Kejadian itu membuat Laras mengalami apa yang namanya marginalisasi oleh sesama rekan kerja dan masyarakat.

Seiring dengan perjalanan waktu, kabar gagalnya pernikahan Laras dan Fahmi menyebar seantero ruang lingkup kehidupan Laras. Laras mencoba menguatkan diri dan memeluk kejadian pahit itu dengan penerimaan tanpa syarat sebagai bagian dari perjalanan hidupnya (part of life).

Acap kali ada rekan kerja atau masyarakat menanyakan dirinya dan Fahmi. Laras seolah-olah mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lain.

laras lebih banyak melakukan aktivitas yang positif, seperti mengajar dan meneliti, dan berusaha menjauh dari lingkaran teman-teman kerja yang selalu menjadikan dirinya sebagai bahan obrolan, meskipun jauh dalam lubuk hati terdalam, Laras merasa terpukul atas kejadian itu.

Perjuangan Laras untuk membuka lembaran hidup baru tidak bersama Fahmi merupakan perjuangan yang luar biasa yang Laras rasakan selama dalam hidupnya. Gunjingan, cemoohan, stigma, dan subordinasi dari orang-orang sekitar menguatkan Laras menjadi pribadi yang tangguh.

Kehidupan Laras Kini 

Pasca-lima tahun gagalnya pernikahan dengan Fahmi, Laras menjalin hubungan kembali dengan lelaki lain yang baru ia kenal. Sebut saja namanya Fahri.

Fahri adalah lelaki keturunan Arab yang berprofesi sebagai pengusaha. Fahri menunjukkan keseriusan niatnya dengan datang bersama rombongan keluarga besar ke rumah Laras dan melangsungkan akad nikah bersamaan dengan perayaan lamaran.

Menikah dengan Fahri seperti mendapatkan paket komplet dari Tuhan. Bagaimana tidak? Fahri adalah laki-laki yang peduli terhadap pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, menyapu, dan mencuci pakaian, tanpa Laras menyuruhnya.

Tetapi, di sisi yang lain, Laras mendapat cibiran karena ia menikah di usia ke-32 tahun. Kala itu, Laras dianggap sebagai pengantin “tua”; dalam arti yang lain, sebagai perempuan telat menikah. Di sini Laras merasa serbasalah: gagal menikah dipersalahkan, menikah disalahkan karena berumur.

Laras bertanya dalam hati, kalau gagalnya pernikahan, dan perempuan yang disalahkan, kenapa laki-laki seperti Fahmi tak dianggap sebagai pelaku kekerasan? Jika perempuan di atas 30 tahun menikah dianggap perawan tua dan telat menikah, kenapa laki-laki di atas 35 tahun yang baru menikah tidak dianggap sebagai perjaka “lapuk” dan telat menikah?

So, siapakah yang membuat pengkategorian istilah yang kemudian merugikan perempuan itu?

Laras menganggap stigma itu sebagai amunisi untuk dirinya menjadi pribadi yang kuat dan tegar. Karena bagaimanapun, Laras merasa bahwa Fahri adalah kado terindah dari Tuhan untuknya.

Kini, di usia Laras ke-44 tahun, Laras hidup bahagia bersama Fahri dengan tiga buah hati yang lucu dan menggemaskan di daerah Indonesia bagian Timur.

Mendapat pengalaman sebagai perempuan ”korban” stigma dan kekerasan oleh laki-laki dan masyarakat, Laras kini berjuang menyuarakan anti-kekerasan terhadap perempuan melalui kajian-kajian ilmiah dengan cara melakukan penelitian dan publikasi karya tulis ilmiah sensitif gender.

Sejatinya, perempuan seperti Laras inilah yang disebut perempuan penyintas (survivor), yang tumbuh dari pengalaman dan berjuang untuk menguatkan dan memberdayakan perempuan.