"kok belum juga nikah?, makanya kalau di lamar orang terima, jangan pakai banyak alasan , kalau alasan belum cinta, kalau di jalanin pasti cinta juga nanti" ucap salah satu tetangga, begitulah ucapan yang selalu teringat di otak saya.

Setiap perempuan akan beranjak ke usia dewasa, ada banyak sekali tuntutan bagi perempuan untuk memenuhi standart sempurna menurut versi masyarakat.

Hal tersebut akan saya bahas yaitu salah satu standart yang sering menjadi perbincangan bagi setiap masyarakat

Hal yang sering menjadi pembahasan pastinya "pernikahan".

Pernikahan menjadi standarisasi tuntutan bagi perempuan agar bisa di anggap wanita utuh di lingkungan masyarakat, ketika perempuan mulai menginjak umur 20-an tahun keatas.

pertanyaan "kapan nikah?" akan mulai bermunculan, apalagi di tambah perempuan tersebut tidak kuliah/tidak melanjukat sekolah. pertanyaan akan semakin mengusik telinga.

Saat muncul kalimat "perempuan jangan terlalu lama lajang, pamali, nanti jadi perawan tua", kenapa hal ini menjadi titik fokus, kenapa tidak laki-laki juga di tuntut segera  menikah, pastinya akan muncul pembelaan masyarakat "laki-laki itu sibuk cari kerja jangan terburu-buru menikah".

Lalu apakah perempuan salah ingin fokus bekerja dulu dan membahagiakan diri sendiri?

Kenapa Harus dengan Menikah?

Lingkungan semakin mendesak perempuan memilih opsi menikah agar omongan sekitar mereda, padahal pernikahan bukan suatu hal mudah jika di laksanakan, ada banyak hal baru didalam pernikahan, ada 180° derajat perbedaan kehidupan sebelum menikah dan setelah menikah.

Ada seorang teman saya yang masih berusia 22 tahun di tuntut menikah oleh keluarga di tambah lagi omongan tetangga yang menganggap dengan umurnya yang belum menikah di anggap sombong dalam  memilih pasangan.

Dia menceritakan bagaimana ia belum siap mental untul menerima lamaran orang yang tidak di kenalnya lalu menikah terburu buru.

Sebut saja namanya "Dina" ia meminta pertolongan saya bagaiamana caranya menjawab lamaran seseorang dengan sopan dengan alasan dirinya yang belum siap menikah.

"bagaimana ka, saya belum siap menikah,  keluarga mencemoh saya dengan kalimat pemilih dalam memilih pasangan, keburu jadi perawan tua dan tidak laku nantinya, padahal saya masih ingin sendiri dulu" ia menangis tersedu-sedu.

Sungguh miris, membuat posisi perempuan di pojokan dengan tuntutan, bukankah pernikahan di butuhkan persiapan mental dua pihak, hal ini terkadang beberapa orang di pandang sebelah mata dalam salah satu pihak yang belum siap untuk menikah, persiapan terhadap finansial, apalagi pernikahan yang akan di inginkan setiap orang adalah pernikahan yang terjadi sekali  dalam seumur hidup.

Saya sangat paham bagaimana kegelisahan banyak perempuan lajang yang belum siap menikah tapi tertuntut keluarga atau lingkungannya untuk menikah agar di anggap laku.

Apalagi di kota saya jawa timur saya melihat dari rasio pernikahan dan perceraian, risiko perceraian tertinggi ada di Jatim, yakni 1:3,75. Artinya, terjadi satu perceraian dalam setiap tiga pernikahan di provinsi tersebut.

Bagaimana Jika sampai Bercerai?

Pernahkah orang yang menuntut sekitarnya segera menikah berfikir dan sadar hal tersebut, tuntutan tersebut ialah  sangat salah dan beresiko, "bagaimana jika orang yang mereka tuntut menikah akhirnya bercerai  karena kurangnya komunikasi sebelum menikah, menikah karena terburu-buru ingin berhentih di cemoh sekitar di anggap tidak laku dan pemilih dalam mencari pasangan"

Status sebagai janda akan menjadi suatu hal yang melegenda dan tetap terikat di fikiran masyarakat. Hal ini juga akan menambah masalah baru, ketika janda menjadi orang yang di pandang kurang baik pula oleh masyarakat.

Butuhnya pemberian pemahaman untuk masyarakat sekitar agar tidak menuntut perempuan lajang menikah dini dan pemberian pemahaman bahwasanya pererempuan menikah untuk diri sendiri bukan karena takut cemohan orang. 

Para wanita lajang tidak perlu khawatir kesepian di masa lajangnya, ada banyak hal kegiatan positif yang bisa di lakukan jika belum siap menikah.

saya juga pernah mendengar pepatah  di salah satu sosial media, kalau tidak salah seperti ini:

"saat semua orang berpuasa, lalu sampai waktunya berbuka puasa memang di anjurkan untuk segera berbuka, tapi bukankah berbuka tidak serentak terjadi di seluruh tempat karena perbedaan waktu, bagitu juga menikah, menikah memang ibadah yang di anjurkan tetapi tidak harus terburu-buru.

bukankah pernikahan untuk menyenangkan diri sendiri? benar bukan?

Pernikahan akan menjadi tanggung jawab setiap pihaknya, Senang juga dukanya.  jika harus menanggung resiko apapun yang akan terjadi dalam pernikahan.

Lalu untuk apa masih mengkhawatirnya cemohan orang? bukankah jika seorang perempuan bercerai, masyarakat sekitar tidak akan ikut memiliki status janda, Status ini yang akan menjadi beban baru bagi perempuan tersebut.

Di tulisan ini saya ingin berpesan kepada perempuan di luar sana untuk berani tegas terhadap orang sekitar, karena kalian bahagia bukan karena kamu berhasil mengikuti pemikiran mereka, tapi kalian bahagia dengan cara yang kamu pilih dan kamu anggap ini baik dn bisa membahagiakan diri sendiri.