Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk yang banyak di dunia. Ia memiliki proses penyelesaian sampah di kota besarnya yang selalu berujung pada metode land filling atau sistem kumpul-angkut-buang. 

Padahal volume dan lahan yang tersedia sebagai tempat penampungan terakhir yang digunakan untuk sistem ini sangat terbatas. Hal ini mengingat volume timbunan sampah yang dihasilkan akan makin bertambah dan minimnya lahan yang tersedia di perkotaan. 

Menurut Supply Chain Indonesia, negara Indonesia ini hanya mempunyai kapasitas gudang makanan dingin sebesar 200.000 ton. Padahal kebutuhan akan gudang penyimpanan makanan adalah sebesar 1,7 juta ton.

Dalam pengelompokan sampah berdasarkan jenisnya, sampah dapat digolongkan menjadi sembilan golongan, yaitu: sampah makanan, sampah kebun, sampah kertas, sampah plastik, sampah kain, sampah kayu, sampah logam, sampah gelas dan keramik, dan sampah berupa abu dan debu. 

Dari berbagai jenis sampah yang ada, banyak yang menyepelekan keberadaan sampah tersebut, terutama pada jenis sampah makanan yang dengan mudah dan tidak sadar orang-orang membuangnya. Padahal sampah makanan sebenarnya dapat menjadi ancaman yang cukup besar bagi keseimbangan lingkungan.

Lalu seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh sampah makanan?

Pengertian sampah makanan menurut FAO (Food and Agriculture Oranitation of the United Nations) adalah jumlah sampah yang dihasilkan pada saat pembuatan makanan maupun setelah kegiatan yang berhubungan dengan perilaku penjual dan konsumennya (Parfit et al, 2010).

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh The Economist Intelligence Unit tahun 2016, dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi di posisi pertama. Rata-rata masyarakat Indonesia membuang sampah sebanyak 300 kg makanan setiap tahunnya. 

Hal ini tidak bisa disepelekan lagi mengingat bahwa sampah makanan dapat menguraikan menjadi zat metana. Gas metana 25 kali lebih kuat daripada gas karbondioksida (CO2) yang menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan efek rumah kaca dan perubahan iklim di dunia. 

Ancaman krisis makanan juga akan terjadi jika kebiasaan masyarakat yang sering membuang makanan karena sifat konsumtif yang membuat pemborosan. Bau busuk yang dihasilkan dari sampah makanan juga dapat mengganggu kestabilan ekosistem dan menjadi pencemaran pada tanah dan air.

Tidak hanya itu, FAO pada 2016 juga mengungkapkan bahwa Indonesia membuang 13 juta metriks ton makanan setiap tahunnya. Artinya, sampah makanan tersebut dapat memberi makan sekitar 11% populasi atau sekitar 28 juta penduduk Indonesia setiap tahunnya. 

Angka tersebut hampir sama dengan jumlah penduduk miskin Indonesia pada tahun 2015. FAO mencatat kontribusi terbesar terbuangnya makanan disumbang oleh hotel, restoran, katering, supermarket, gerai ritel, dan perilaku masyarakat yang gemar tidak menghabiskan makanan yang sudah diambilnya.

Catatan akan banyaknya makanan yang terbuang juga dikarenakan budaya masyarakat yang terdapat pada negara Indonesia saat mengadakan sebuah acara. 

Dalam acara tersebut, tentu terdapat jamuan makanan untuk para undangannya. Makanan yang disajikan pada setiap acara yang disediakan selalu dikali-lipatkan dari jumlah undangan. Tentu hal tersebut sangat berpotensi terdapat makanan yang berlebih.

Foto: borneobulletin.com

Selain pola konsumsi masyarakat, proses produksi hingga distribusi juga berpotensi makanan tersebut terpaksa dibuang, bahkan sebelum sampai pada tangan konsumen. 

Kondisi negara Indonesia yang agraris menjadi sebuah kesulitan dalam pemerataan distribusi makanan pada wilayah-wilayah yang susah diakses karena kurangnya infrastruktur untuk mendistribusikan makanan ke pusat populasi. Sehingga makanan yang akan didistribusikan kerap kali tertahan dan berkurangnya kualitas makanan tersebut sebelum terdistribusi. 

Sering kali juga para petani dan pedagang hanya memikirkan peningkatan produksi makanan tanpa memikirkan ketahanan pangan (food security) yang berdampak pada tingkat food loss and waste. Hal tersebut dapat berimbas pada pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mengatasi permasalaham tersebut, pemerintah juga seharusnya turut aktif untuk mengurasi sampah makanan yang ada pada negara ini. 

Tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah, seperti memberlakukan denda pada pelaku usaha makanan yang menghasilkan sampah makanan yang banyak. Selain itu, dari pihak pelaku usaha makanan juga dapat memberlakukan aturan, seperti membayar denda pada konsumennya jika tidak menghabiskan makanannya.

Meski secara umum masyarakat Indonesia masih lemah akan kesadaran akan masalah sampah makanan, namun di Surabaya terdapat sebuah gerakan food bank yang menjadi pusat kordinasi makanan berlebih. 

Gerakan tersebut berguna untuk membantu mengurasi sampah makanan yang dihasilkan oleh perusahaan hospitality untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dan mengurangi angka kelaparan yang ada di Indonesia.

Foto: Garda Pangan

Makanan yang dibagikan oleh gerakan tersebut bukanlah makanan sisa dari makanan yang sudah dimakan oleh orang, tetapi makanan yang berlebih, seperti toko roti atau bakery yang rotinya bersisa tidak terjual atau dari acara hajatan seperti nikahan atau acara kampus yang terdapat makanan berlebih yang bukan dari sisa makanan yang sudah dimakan yang biasanya berbentuk prasmanan yang masih utuh pada wadah-wadah yang ada pada acara tersebut.

Dengan adanya gerakan ini, tentu dapat membantu untuk mengampanyekan agar masyarakat tidak membuang-buang makanan hanya karena lapar mata saat puasa, salah pesan, tidak doyan dengan menu makanan, atau terlalu lama disimpan dan menjadi busuk. 

Langkah yang paling penting untuk mengurangi sampah makanan tersebut adalah pada setiap individu masyarakat dengan selalu bertanggung jawab akan makanan dan harus selalu menghabiskannya. 

Salah satu cara untuk mengurangi sampah makanan dengan mengambil porsi makanan secukupnya saja saat akan makan. Selain itu, jika makan di suatu restoran harus memastikan porsi pada pelayan sesuai dengan porsi yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Kita juga dapat melakukan hal yang bermafaat dengan membagikan makanan-makanan yang berlebih yang kita punya dengan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Kebiasaan ini harus ditanamkan pada setiap individu agar sadar akan pentingnya menghabiskan makanan agar tidak menjadi sampah yang berdampak pada keseimbangan lingkungan.