Jumlah timbulan sampah nasional pada tahun 2020 mencapai 67,8 juta ton. Demikian disampaikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong. Karena hampir setiap aktifitas yang kita jalani menghasilkan sampah.

Sembari menunggu adanya kebijakan dan upaya-upaya luar biasa (extraordinary effort) dari pemerintah, alangkah baiknya kita juga berupaya untuk mengurangi sampah dengan cara mengurangi isi dompet kita.

Baik itu uang ataupun kartu-kartu pembayaran dan belanja yang memudahkan kita untuk belanja apa saja dimana saja. Tetapi kalo anda terbiasa menyimpan uang dan kartu-kartu itu di kantong celana ataupun baju, berarti penting untuk mengurangi isi kantong anda dengan alat-alat pembayaran tadi...hehehe...

Pengalaman saya pribadi, ketika dompet atau kantong berisi uang lebih, maka setiap masuk ke toko dengan mudahnya mengambil barang untuk dibeli. Terutama yang berupa makanan dan minuman dengan kemasan yang sebagian besar berbahan plastik.

Ataupun ketika sedang mau melakukan perjalanan jauh, sejak dari rumah sudah berucap “Nanti saja beli dijalan.” Dan memang seh, seringkali saya rasakan ada kebanggan dalam diri ini ketika kita bisa berbelanja. Meskipun barang yang remeh temeh sekalipun...hadeuhhhh

Beda halnya ketika isi dompet sedikit uang dan kartu-kartu pembayaran saldonya tidak cukup untuk digunakan. Maka tidak terbersit sedikit pun dalam pikiran saya untuk membeli barang-barang yang akhirnya menghasilkan sampah.

Teringat ketika jaman saya sekolah TK sampai dengan SD di Tahun 1990an, kebiasaan membawa “gembes” atau botol minuman dilakukan oleh saya dan teman-teman. Baik itu pada saat belajar sehari-hari di kelas ataupun saat kita piknik.

Berbeda halnya dengan anak-anak saya saat ini, pada saat berangkat sekolah kadang-kadang masiih bawa gembes. Namun sesekali minta dibelikan minuman kemasan yang aneka rasanya.

Dan yang sudah pasti saat piknik atau outing class, sebelum berangkat ada ritual mampir ke toko untuk beli perbekalan yang semuanya berkemasan plastik. Ritual itu akan berjalan lancar manakala isi dompet saya berlebih.

Percaya nggak percaya isi dompet kita memang sangat berhubungan dengan sampah yang kita hasilkan. Pengamatan saya di lingkungan sekitar rumah, bahwa rumah tangga yang berisi orang-orang berpenghasilan lebih akan menghasilkan sampah lebih banyak.

Pengamatan saya ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh seorang penulis bernama Retia Kartika Dewi. Dia menceritakan bahwa sejumlah negara mengalami masalah dalam mengolah lonjakan sampah plastik selama pandemi virus corona.  Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia telah mengalami lonjakan sampah plastik.

Penyebabnya adalah ketergantungan yang besar pada layanan pengiriman makanan dan belanja online di tengah pandemik. Untuk menjaga kualitas makanan dan belanjaan yang kita beli secara online. Pihak penjual akan mengemasnya dengan kemasan yang bisa menjamin barang yang kita beli tidak cacat.

Solusi dari pengemasannya menggunakan aneka rupa bahan. Baik itu kertas, kayu, plastik, lakban ataupun bubblewrap. Dengan satu tujuan barang yang kita beli gak rusak dan terjaga selama proses pengiriman dari penjual ke alamat kita.

Konsekuensi dari pengemasan menggunakan aneka bahan ya akan menambah sampah.

Berbeda halnya ketika kita beli makanan secara langsung, yang kita makan di tempat penjualnya. Maka sampah yang kita hasilkan dari transaksi pembelian makanan secara langsung (offline), sudah pasti jauh lebih sedikit dibandingkan dengan transaksi pembelian makanan online.

Seperti yang kita pahami kantong plastik biasa membutuhkan waktu sepuluh sampai 12 tahun untuk terurai. Botol plastik memiliki waktu 20 tahun untuk hancur,karena polimernya lebih kompleks dan lebih tebal.

Sedangkan sterofoam biasa yang sering digunakan di Indonesia, membutuhkan waktu 500 tahun untuk bisa hancur sempurna.

Kebayangkan berapa banyak sampah yang kita hasilkan dari aktifitas belanja online kita. Dan kita hanya bisa melakukan aktifitas belanja ketika isi dompet kita ada uang ataupun kartu-kartu pembayaran kita berisi saldo yang cukup.

Nah persoalan lain, ketika kita belanja makanan dan minuman menggunakan kartu kredit. Kalo yang ini saya tidak bisa membahasnya lebih, karena saya tidak pernah punya kartu kredit. Tapi lha mosok....beli makanan dan minuman menggunakan kartu kredit sich...hehehe

Pertanyaan berikutnya yaitu apakah ketika kita mengurangi isi dompet, sebagai upaya untuk mengurangi sampah ini akan berdampak pada kurangnya pertumbuhan ekonomi Republik Indonesia?

Saya pastikan tidak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Karena banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, diantaranya : jumlah penduduk, jumlah barang modal, luas tanah yang ada di suatu negara , kekayaan alam dan teknologi yang digunakan. Untuk jelasnya mungkin ini bisa kita tanyakan kepada Bu Sri yang ahli ekonomi itu.

Berharap nanti akan ada tulisan “kurangi isi dompetmu, kurangi sampahmu”   yang terpampang di papan-papan iklan besar yang tersebar dijalan-jalan protokol se-Indonesia Nusantara ini. Akan lebih keren lagi jika tulisan itu menempel di setiap pintu masuk bilik Anjungan Tunai Mandiri (ATM) ha..ha..ha..