…berhawa sejuk karena berada di dataran tinggi, lokasinya begitu masuk dari poros jalan raya, yang berarti juga jauh dari hiruk pikuk keramaian sebuah kota.

Kaki Kesemutan di Magetan

Dalam kesyahduan suasana gerimis dan rintik hujan, mendadak pikiran saya terbawa ke alam kenangan.

Masih di wilayah yang tak jauh dari kota Madiun, ke arah barat mendaki menuju dataran yang lebih tinggi di lereng gunung Lawu adalah kota Magetan yang begitu bersih, sejuk dan ramah. Serta tentunya kaya beragam santapan yang sangat melezatkan, satu diantaranya adalah Ayam Panggang di desa Gandu.

Desa Gandu dikenal sejak dulu sebagai sentra kerajinan masakan berupa olahan Ayam Panggang yang berbahan utama ayam kampung, bumbu-bumbu rempah yang dipanen dari suburnya hamparan tanah lereng gunung Lawu.

Juga, cara memasak yang unik dan begitu telaten menghasilkan karya masakan yang memiliki cita rasa begitu memikat.

Teknik mengolah ayam kampung dengan cara memanggang di atas wajan, menggunakan kayu bakar. Membuat tingkat kematangan merasuk dari luar hingga dalam.

Tak hanya itu, bahkan olahan Ayam Panggang desa Gandu juga dijajakan hingga memasuki kota Madiun, oleh Ibu-ibu yang menenteng tas berisi besek bambu, di dalamnya terdapat beberapa potong Ayam Panggang yang masih hangat dalam balutan daun pisang.

Ayam Panggang olahan desa Gandu yang dijajakan oleh Ibu-ibu sambil berjalan kaki dari kampung ke kampung pun menjadi suatu pilihan lauk sarapan yang nikmat mendampingi sepiring nasi hangat, pulen, hasil panenan sawah daerah nDungus.

Ayam kampung panggang yang telah matang, menebar aroma harum gurih yang memikat, memicu petualangan cita rasa agar dilakukan segera.

Sensasi kenikmatan Ayam Panggang khas desa Gandu pun menjadi sekian kali lipat bertambah, jika dinikmati langsung di tempatnya diolah.

Desa Gandu begitu tenang permai, berhawa sejuk karena berada di dataran tinggi, lokasinya begitu masuk dari poros jalan raya, yang berarti juga jauh dari hiruk pikuk keramaian sebuah kota.

Dalam satu desa Gandu, banyak penyaji olahan Ayam Panggang yang resep bumbu dan cara memasaknya telah diajarkan turun menurun. Bahkan mungkin sejak ratusan tahun lalu, ditilik dari caranya mengolah yakni dipanggang, bukan digoreng, berhias aneka masakan pendamping yang kebanyakan direbus atau dikukus.

Satu dari sekian banyak plang penunjuk arah tempat penyaji hidangan ayam kampung panggang, yang telah turun temurun menjadi olahan masakan tradisi di Kampung Gandu Magetan.

Kami, yakni saya, adik dan kakak juga beberapa kerabat, telah sepakat untuk memilih satu nama penyedia Ayam Panggang di desa Gandu, yaitu; Bu Setu.

Begitu masuk wilayah desa Gandu, maka jalan menuju rumah Bu Setu, cukup berliku.

Banyak rumah-rumah yang di teras depannya bertengger sebuah plang sebagai penanda rumah makan bermenu hidangan utama Ayam Panggang, dengan halaman depan dan samping begitu luas, yang mungkin disediakan sebagai tempat parkir kendaraan.

Bisa dibayangkan, desa Gandu bakal banyak pengunjung ketika musim liburan tiba. Tak lain untuk mencoba menikmati kelezatan Ayam Panggang dalam suasana teduhnya alam pedesaan.

Benar ternyata, hasil olahan Ayam Panggang khas desa Gandu begitu gurih, empuk tanpa aroma gosong, karena cara memanggangnya yang unik, di atas wajan-wajan.

Sajian lengkap Ayam Panggang khas desa Gandu Magetan, bersanding aneka lauk penambah nikmat, menambah suasana hangat dalam kesejukan alam.

Disajikan lesehan di dalam rumah pemilik warung, sambil duduk bersila menunggu agak lama. Karena proses memanggang ayam kampung yang begitu telaten, demi menjamin tingkat matang hingga menembus tulang-belulang.

Saat terhidang, maka aksi penggerayangan oleh jari jemari tangan terhadap sajian Ayam Panggang dan pernak pernik pendampingnya pun langsung dilakukan.

Berbeda ketika menunggu masakan, yang penuh obrolan berisi aneka topik perbincangan, sahut menyahut bergantian, maka ketika hidangan tampak di depan mata, mulut dan lidah pun tak fokus pada perbincangan. Melainkan asyik bertualang cita rasa, melanjutkan aksi jemari tangan yang bergerayangan, memotong Ayam Panggang, bersahut-sahutan, namun tetap tertib tak berebutan.

Dalam suasana lesehan, para pengunjung begitu khidmat menyantap Ayam Panggang, menuai nikmat beriring kebersamaan keluarga, handai taulan pun sahabat.

Terbukti sudah, cita rasa olahan legendaris Ayam Panggang khas desa Gandu tak hanya memanjakan syaraf-syaraf indera petualang cita rasa, namun juga mampu mengucurkan deras hormon peraih bahagia.

Bahkan hampir tak rela beranjak begitu saja setelah hidangan habis tak tersisa.

Ibarat kata pepatah; "Kubis kintir kali. Sikat habis sama sekali".

Desa Gandu dengan masterpiece olahan Ayam Panggangnya, telah berhasil membuat saya tahan berlama-lama duduk bersila, bergelimang sensasi kenikmatan. Bahkan, bisa melupakan kedua kaki yang tengah kesemutan.



Agar sepulang liburan, pikiran bisa berkreasi kembali, lebih kreatif, inovatif dan bijak.

Entropi di Sarangan, Wow! ... OMG

Laju pertumbuhan jumlah manusia memang pesat, menjadi salah satu penyumbang kenaikan derajat ketidakberaturan sistem, Entropi.

Satu bukti kenaikan Entropi, adalah telaga Sarangan.

Saya pertama kali bertandang ke telaga Sarangan pas masih remaja, menikmati liburan lebaran tahun 1982.

Waktu itu, pengunjung telaga Sarangan masih sedikit, suasana sepi dan hawanya begitu dingin, menusuk tulang.

Suasana jalanan tanah bebatuan halus sekeliling telaga, kas beraroma tletong kuda yang waktu itu banyak kuda yang masih belum dibedong di bagian pantat.

Karena tak terbedong, maka ‘senjata’ milik kuda yang jantan, bakal terlihat ukurannya begitu menakjubkan. Wow!OMG.

Piknik Berbontot

Empat dekade lalu, belum populer wisata kuliner.

Jadi, kebanyakan keluarga yang berkunjung ke telaga Sarangan lebih percaya dengan masakan rumahan. Membawa bekal dari rumah, Mbontot istilahnya.

Masakan rantangan Bontot-an lebih dipercaya racikan dan kebersihan proses memasaknya. Serta irit, agar sehingga dana yang telah dianggarkan, cukup untuk memenuhi kebutuhan utama, yakni menikmati pemandangan, bertualang dalam keindahan alam.

Aktualisasi istilah Piknik, yaitu menikmati masakan sendiri di luar rumah sambil menikmati pemandangan, telah dikenal dan diterapkan sejak lama oleh masyarakat kita.

Hanya saja waktu itu, jika kegiatan tersebut disebut Piknik, maka kesannya sok kaya dan keminggris.

Keriangan bersama keluarga tercinta yang sejatinya berpiknik pun lalu cukup disebut 'Ngrantang'. Berupa aktifitas  jalan-jalan sambil ke mana-mana mencangking rantang.

Serbet Kotak-Kotak

Selama Ngrantang, maka orang-orang yang lebih tua apakah Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, Pak Lik, Bulik, Pakde, Bude selama berjalan ke sana kemari, mereka bergantian mencangking rantang, yang  berisi nasi sayur asem, tahu tempe goreng, empal gepuk sama sambal tomat. Termasuk sambil menenteng termos berisi kopi atau teh hangat.

Cangkingan rantangnya dijampel, dilapisi, serbet kain bersih, bermotif kotak-kotak. Adab mencangking rantang, waktu itu memang begitu.

Terus, bagaimana dengan anak-anak?

Oh, mereka mendapat prioritas untuk hanya bersuka cita tanpa kepikiran salah satu atau kedua tangannya berkewajiban membawa-bawa rantang atau termos.

Suasana hilir mudik Speedboat membawa sensasi wisata tersendiri di atas telaga Sarangan.

Hampir 40-an tahun kemudian, ketika saya bertandang ke telaga Sarangan pada kisaran akhir Oktober 2019, beberapa bulan sebelum pandemi, pemandangan dan suasana alamnya telah berubah.

Belum Tega Kelinci

Hawa di lingkungan telaga Sarangan, tak sedingin dulu.

Entah karena 40-an tahun lalu lemak dalam tubuh saya masih tipis, kemudian sekarang sudah semakin menebal.

Juga, bukan tebaran semerbak aroma tletong kuda lagi. Tapi, aroma feromon ratusan pengunjung berbagai rupa, usia dan jenis kelamin. Termasuk, kehadiran banyak kedai telah menebar asap masakan, aromanya mewangi.

Sementara, kehadiran telaga tetap seperti sediakala, bahkan sejak ribuan tahun lalu, masih tetap dalam naungan ketinggian gunung Lawu.

Semburat cahaya matahari, menyapa gunung Lawu menjelang pagi. Menjadi pemandangan memikat, menyejukkan hati.

Beristirahat sejenak keluar dari rutinitas memang dibutuhkan bagi setiap orang.

Meski hanya sekedar menikmati hawa pegunungan, melihat luasnya telaga, naik speedboat di atas air yang berombak, naik kuda yang dituntun seorang sais. Juga menikmati aneka sate ayam dan sate kelinci berbumbu saus kacang beserta irisan sama lontong.

Itulah mengapa, berwisata disebut rekreasi. Agar sepulang liburan, pikiran bisa berkreasi kembali, lebih kreatif, inovatif dan bijak.

Sepiring sate ayam, bersanding irisan lontong, melengkapi petualangan wisata alam di telaga Sarangan.

Tapi memang saya akui, ada satu hal yang belum bisa saya nikmati saat berwisata di telaga Sarangan. Yakni, saya belum pernah sekali pun mencoba menyantap sate kelinci.

Belum tega saya sama mamalia yang bentuknya lucu ini. Selain itu, semasa kecil saya berlangganan majalah bobo bertahun-tahun lamanya.

Naik James Bond, Menunggang Anton

Andalan berwisata ke telaga Sarangan selain hawa sejuk, juga menawarkan perjalanan santai menumpang Speedboat atau berkuda, keliling telaga.

Seorang pengemudi Speedboat dengan sigap dan ramah siap melayani petualangan keliling telaga Sarangan. Sang pengemudi berperawakan atletis, tinggi, tegap yang terlihat dari belakang tampak bagai aktor laga; Jason Statham.

Menikmati perjalanan speedboat berjuluk James Bond di telaga lepas, dipandu oleh pengemudi ramah berbadan tegap sehat yang dari belakang posturnya mirip Jason Statham, memang menimbulkan sensasi tersendiri.

Sebuah Speedboat bernama James Bond. “Shaken, not stirred.”

Hanya saja, harap maklum ketika memilih kuda tunggangan di telaga Sarangan, maka calon penunggang tak boleh bawa perasaan, dilarang baperKarena banyak kuda-kuda yang berlalu lalang di telaga Sarangan bernama manusia. Seekor kuda bernama Anton, misalnya.

“Di telaga Sarangan, banyak kuda bernama manusia. Harap jangan baper ya. Ayo, kapan datang ke sini, nunggangin saya. Nanti tak anter muter-muter keliling telaga.” Begitu kira-kira ucap si Kuda.

Saya belum pernah lagi bertandang ke telaga Sarangan, selama pandemi melanda, yang entah usai sampai kapan.

Semoga, masa-masa sulit mendunia ini segera berakhir.

Agar bisa kembali menikmati panorama mulai pagi, siang, sore, malam hingga bertemu lagi dengan sapaan halimun dan tebaran aroma tumbuhan yang berpadu segarnya air telaga, menjelang pagi.

Panorama telaga Sarangan begitu tenang ditengah dinginnya malam.

Berminat menumbuhkan nostalgia yang awet lama terekam, terpatri dalam ingatan?

Mari merencanakan dalam angan, agar bisa berkunjung ke poros Magetan-Sarangan.