Betul-betul extraordinary orang yang sanggup menuliskan kisah ini dan kemudian mengemasnya menjadi sebuah buku. Dan meskipun baru membaca beberapa halaman depannya saja, buku ini sudah mampu memporak-porandakan perasaan saya. 

Bahkan beberapa kali saya harus mengambil jeda sejenak, sekadar menghela napas panjang. Kemudian melanjutkan kembali membaca, meski seakan ada bongkahan yang menghimpit dada saya.

Novel Dendam Si Tonel ini merupakan catatan perjalanan penulis dalam memaknai kehidupan. Bertaruh dengan nasib, dengan rentetan stigma dalam upaya-upaya menggapai kebahagiaan versinya. 

Mansur Hidayat penulisnya, mengawali kisahnya dengan ungkapan kepasrahan dirinya. Bagaimana dia suka atau tidak, mau tak mau harus menerima kehidupan dari sebuah tragedi kelahiran yang bahkan dia pun tak pernah membayangkan, terlebih lagi mengharapkannya.

Gaya menulisnya yang polos, terkesan jujur dan bahkan cenderung blak-blakan, sungguh memacu jantung saya hingga berdegup lebih kencang. Bagian di mana penulis mendeskripsikan sosok ibunya dan hal-hal pilu yang menderanya, membuat saya seakan tak percaya. Saya tak menyangka kisah-kisah yang biasanya tayang di televisi, nyatanya benar-benar ada.

Dengan makin banyak lagi melahap halamannya, makin pula merasa seolah sisi emosional saya sedang dipermainkan. Sebab saat hati ini telanjur larut dalam cerita sedihnya, tiba-tiba terpaksa harus terpingkal tatkala membaca beberapa penggalan pengalaman masa kecil penulis yang menurut saya konyol sekali.

Pada kisah “Anak-Anak Manusia”, penulis menceritakan bagaimana menggelikannya saat dia tersesat di perkebunan, ketika sedang asyik-asyiknya membawa sekarung penuh tebu hasil curiannya. Termasuk cerita saat usil mengemasi alat tulis dari kolong meja dan upayanya agar lolos dari penjaga sekolah.

Juga tentang kejailannya mengelabuhi petani sewaktu hendak mencuri buah semangka, walaupun akhirnya gagal. Semangka yang terlalu besar menyulitkan tubuh kecilnya saat akan melarikan diri dari kejaran pak tani.

Ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupannya menjadikan dia tidak mendapat didikan yang cukup seperti yang biasa didapatkan anak-anak seusianya. Akibatnya, dia tumbuh menjadi anak lelaki yang keras dan nekat. 

Apalagi jika sudah menyangkut harga diri. Seperti ketika ada dua orang kakak beradik yang memancing amarahnya dengan mengolok-olok ibunya. Tak ayal lagi, dihajarlah kedua kakak beradik itu tanpa pikir panjang. Dan sudah bisa diduga, pada akhirnya dialah yang babak belur dikeroyok keduanya.

Apa yang menjadi sebab ketidakhadiran sosok ayah di kehidupan masa kecilnya? Lalu apakah pada akhir kisahnya nanti dia bisa menjumpai sang ayah? Pertanyaan-pertanyaan itu tentu akan terjawab setelah mengunyah habis keseluruhan isi buku ini.

Di bagian “Dendam dan Penyesalan", penulis menggambarkan bagaimana ketegangan-ketegangan yang terjadi tatkala sang ibu menghilang. Kalimat demi kalimat yang tertulis pada beberapa halamannya, membuat saya turut larut dalam kecemasan. 

Bahkan sempat muncul keinginan untuk skip saja bagian itu. Namun rasa penasaran lebih menguasai pikiran saya. Sehingga saya lanjut menyimak detail penuturannya, walau dengan kondisi hati yang perlahan mulai retak.

Kisah-kisah selanjutnya sarat dengan drama, perjuangan, dendam dan air mata. Bagaimana penulis menggambarkan takdir sebagai sosok angkuh yang sulit direngkuh, sehingga teramat mustahil untuk bisa berdamai dengannya. 

Namun luka demi luka yang digoreskan dalam kehidupannya, lambat laun membentuk sistem imunitas dalam dirinya. Takdir yang sering kali dianggap tak adil itulah yang justru berperan menempa jiwanya, hingga menjelma menjadi pribadi yang trengginas. Entah disadarinya atau tidak.

Acap kali seseorang dihadapkan pada kondisi di mana dia tak lagi kuasa untuk bisa mencegah datangnya ingatan-ingatan akan luka di masa lalunya. Perasaan nelangsa, sakit hati, terhina, direndahkan dan terbuang, datang silih berganti. 

Mengendapkan dendam yang kian menggumpal, yang jika terus dipelihara akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Mengurai luka dan memadamkan dendam memang tak bisa mengubah masa lalu, namun sebagai wujud ikhtiar untuk memperbaiki masa depan.

Seiring berjalannya waktu, luka dan rasa sakit akan sembuh meski tetap membekas sebagian. Hidup ini keras dan balas dendam adalah hiburan yang sepadan. Dan sebaik-baik pembalasan adalah dengan memaafkan. Biarlah Tuhan yang menunjukkan bagaimana seharusnya keadilan ditegakkan. Kalimat-kalimat tersebut digunakan penulis untuk mengakhiri kisahnya.

Memang kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan pada kondisi yang bagaimana. Semua sudah tertulis, bahkan berdasarkan pada tinta pena yang telah kering dan takdir-takdir yang telah ada. 

Namun dalam perjalanan hidup selanjutnya, kita tentu akan dihadapkan pada berbagai pilihan. Ingin menjadi pemenang dengan gigih bertarung melawan takdir, ataukah memilih menyerah dan sekadar menjadi pecundang.

Pilihan-pilihan yang kita ambil itulah yang nantinya akan menjadi tolok ukur pantas tidaknya kita disebut sebagai manusia, yang bukan sekadar manusia. Manusia yang sesungguhnya. 

Tiba-tiba saya teringat kutipan kata-kata John Myers dalam film Hellboy (2004). "What is it that make a man a man? A friend of mine once wondered. Is it his origins? The way he comes to life? I don't think so. It's the choices he makes. Not how he starts things, but how he decides to end them."  

_____

  • Judul Buku: Dendam Si Tonel
  • Penulis: Mansur Hidayat
  • Penerbit: Boenga Ketjil, 2020
  • Tebal: 177 halaman