Suatu pagi, Kamis 9 April 2020, saya menerima pesan dari WhatsApp Grup (WAG) mengenai Instruksi Walikota Kendari agar melakukan total aktivitas di rumah selama tiga hari. (Sekadar untuk diketahui, Sulawesi Tenggara, sampai tulisan ini sedang saya buat, telah mengonfirmasi enam belas kasus positif: satu di antaranya dinyatakan sembuh dan satu yang lain meninggal dunia).

Seperti banyak orang, spontan saya dibuat melongo, dan sedikit kaget. Tapi bukan memikirkan cukupkah persediaan makanan saya selama tiga hari itu (sebab saya terlalu kaya untuk membeli indomie selama seminggu), melainkan apa yang mesti dilakukan tiga hari total dalam rumah.

Maka tak pikir panjang, jadilah saya ke tempat wifi. Aman, tentu saja. Terutama karena pelanggannya bahkan hanya saya seorang. Bukan efek corona, kedai itu memang tak pernah cukup lima pelanggan, setidaknya di waktu-waktu ketika saya di sana.

Di mesin pencarian, saya menulis "film tentang politik", dan JFK 1991 besutan Oliver Stone muncul paling pertama. Membaca sekilas sinopsisnya, saya segera jatuh cinta, dan tak lama ia akhirnya terunduh.

Untuk seukuran film yang hanya diisi dialog, sebetulnya agak membosankan. Terutama dengan durasi selama 206 menit, apalagi jika kau adalah penyuka film bergenre action. Sangat membosankan. 

Selain alasan karena "telanjur download", yang membuat saya menyelesaikan film ini tak lain adalah apa yang menjadi alasan pertama saya mengunduhnya. 

Film ini bercerita mengenai motif di belakang pembunuhan Presiden Amerika, John F Kennedy (JFK) pada Jumat 22 November 1963 di Dallas, sahabat Bung Besar belaka, melalui meja sidang yang melibatkan seorang Jaksa Wilayah New Orleans, Louisiana, bernama Jim Garisson (Kevin Costner) cs.

Menonton JFK 1991, kita seakan diajak mengurai benang kusut. Atau katakanlah mencari jarum dalam jerami, masalahnya ada banyak tokoh yang terlibat dalam film itu, dan kesemua tokoh sama memberi peran penting. Maka akan sulit betul mengerti jika kau melewati beberapa plot yang ada.

Film itu memulai dengan satu kilas balik pendek menjelang kemenangan JFK setelah menjabat sebagai Senator Amerika Serikat pada tahun 1953-1960, sampai ia tewas dalam satu insiden penembakan secara tragis.

Tapi bahkan kasus pembunuhan JFK barulah "dihidupkan" kembali tiga tahun setelah pembunuhannya. Sebab Lee Harvey Oswald (Gary Oldman), marinir A.S. segera didakwa sebagai pembunuh JFK tujuh puluh menit setelah tragedi yang menyita perhatian banyak khalayak itu, sekalipun tanpa pernah melewati persidangan.

Dalam sejarah, hanya jaksa Jim Garisson belaka yang berhasil menyidangkan kasus pembunuhan JFK, untuk alasan bahwa ada kekuatan besar yang tidak memungkinkan untuk dibuka kedua kali.

Lebih jauh, Garisson menganggap motif di belakang pembunuhan presiden kharismatik itu tidaklah perkara ketidaksukaan terhadap Kennedy belaka. Menurutnya, ada konspirasi global. Artinya, Oswald hanyalah kambing hitam demi menutupi konspirasi gelap itu.

Ada tiga orang, sebutlah sebagai kata kunci, yang memberi Garisson sejenis penerangan di balik kusutnya motif pembunuhan JFK. Dan lekas menetapkan Clay Shaw (Tommy Lee Jones) seorang pengusaha sebagai tersangka sebelum menemukan orang-orang yang terlibat berikutnya.

Pertama, David Ferrie (Joe Fesci) seorang anti-Castro dan tentara bayaran di pengasingan. Ia menuturkan bahwa pembunuhan itu melibatkan CIA (Pusat Intelegen Amerika) dan Kuba. Nahas, sebab selepas itu ia ditemukan mati, tentu saja (tanpa keterangan dalam film sekalipun) kita bisa tahu kematiannya akibat membocorkan rahasia besar kepada Garisson.

Kedua, ia bertemu dengan seorang gay, Willie O'Keefe (Kevin Bacon) yang entah bagaimana memiliki relasi dalam pembunuhan Kennedy, (ia sebetulnya memiliki kedekatan dengan Clay Shaw), dan ia pun tak jauh berbeda dengan apa yang diutarakan David Ferrie.

Ketiga, Garisson kemudian melanglang ke Washington. Bertemu seorang pejabat di sana, dengan seorang yang menutup identitasnya, menyebut diri sebagai "X" (Donald Shuterland). Dan sama menuturkan bahwa ada dalang besar dalam pewayangan matinya Kennedy.

Menurut teori Garisson, pembunuhan JFK sebetulnya adalah buntut dari beberapa kebijakan globalnya. Seperti memperbaiki hubungan dengan Rusia, menarik pasukan dari Vietnam dan menyelesaikan krisis rudal di Kuba. 

Untuk alasan-alasan inilah, sebagaimana dalam film ini juga menyebutkan ada kebencian kepada Kennedy sebab ia adalah seorang komunis, membuat Garisson menyimpulkan bahwa motif pembunuhan JFK merupakan konspirasi elite-elite global belaka.

Sebetulnya, apa yang saya maksud dengan mengurai benang kusut adalah bersebab dari beragamnya motif yang menyeruak.

Bahkan, pemberontakan tahun '65 di Indonesia pun diduga memiliki relasi dengan pembunuhan Keneddy. Kita tahu Bung Besar dan JFK adalah karib, sama membenci imperialis dan kolonialis. 

Apakah itu bersebab adanya "tanah surga" di Papua? Kita tak pernah tahu. Masalahnya, sekalipun dokumen-dokumen CIA telah banyak tersebar, dalang pemberontakan itu sendiri masihlah dalam bentuk yang, sebagaimana pembunuhan JFK: benang yang kusut.

Bagi A.S. sendiri, keberadaan film (sebagai bagian dari sastra?) JFK 1991 betul-betul membantu mereka dalam memperoleh keadilan, sekalipun dalam persidangan di akhir film itu tak dimenangkan oleh Garisson. 

Paling tidak, film itu telah membuka banyak dokumen rahasia CIA di tahun-tahun selepas ia tayang. Seperti yang pernah diungkapkan oleh JFK sendiri, bahwa, "Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya."